Akhir yang Indah, Sebuah Cerpen Cinta

Akhir yang Indah, Sebuah Cerpen Cinta planetcerpen.com

Planetcerpen.com - Pagi ini aku berharap tak ada pertengkaran lagi antara aku dan dia. Aku berharap hari ini akan baik-baik saja. Ya harapan yang sungguh sangat sederhana, tetapi sangat mustahil terjadi pada hubunganku dengannya. Setiap hari selalu saja bertengkar. Sebenarnya masalahnya tidak terlalu penting. Tetapi dia adalah tipe cowok yang selalu memperpanjang masalah. Masalah sekecil apapun, pasti akan menjadi masalah besar baginya. Lelah. Ya itulah yang aku rasakan semenjak menjalin hubungan dengannya. sebenarnya sudah sejak lama aku ingin mengakhiri hubungan ini. tetapi selalu saja gagal. Sudah aku coba mencari-cari kesalahan untuk membuatnya jenuh menjain hubungan denganku. 

Tetapi tetap saja tak pernah berhasil. Padahal ketika masih dalam proses pendekatan, dia tak seperti ini. tetapi seiring berjalannya waktu sifatnya makin terlihat. Meski sudah hampir setahun aku menjalani hubungan ini, tetapi aku merasa tak seindah saat dia mendekati ku dulu. Semuanya berubah saat aku bertemu dan berteman dengan salah seorang Pria di kampus ku. Dia satu jurusan dan kita memang sering berjumpa dan sering bertegur sapa. Nama Pria itu adalah Farlan. Dan nama Pacarku adalah Yoda. Dan namaku adalah Cika.

Aku saat ini kuliah di salah satu Universitas di Jakarta. Aku, Yoda, dan Farlan kuliah ditempat yang sama. Hanya saja, aku berbeda Fakultas dengan pacarku. Aku dan Farlan mengambil Fakultas Ekonomi. Sedangkan Yoda, Fakultas Hukum. Awal aku bertemu dengan Yoda juga di kampus ini. saat itu aku tidak sengaja menabraknya di depan kampus. Aku fikir, dia akan marah-marah gak jelas, tetapi pemikiranku salah. Yoda malah membantuku membereskan buku-buku ku yang jatuh ketika itu. sejak kejadian itu, kita jadi sering bertemu di salah satu kesempatan. 

Entah itu sengaja atau tidak. Tetapi yang jelas, setelah 1 bulan aku dan Yoda berteman dan menjalin pendekatan diri masing-masing, ada perasaan tak biasa diantara kita. Sampai pada akhirnya, Yoda mengajak ku makan malam yang romantic di salah satu Restoran di kawasan Kemang. Hal yang tak kusangka ketika itu adalah dia menyatakan perasaannya padaku. “Cika”ucapnya dengan menatap tajam mataku. “iyaa, kenapa?” jawabku dengan jantung yang sudah mulai berdegup kencang. 

Aku benar-benar gugup saat itu. “hemm.. kita sudah sebulan berteman. Dan sepertinya ada perasaan lain di hatiku saat ini. sepertinya aku menyukaimu” ujar Yoda dengan tatapan yang semakin tajam dari sebelumnya. Dan perlahan lahan Yoda mulai memegang tanganku dan melanjutkan ucapannya “kamu mau jadi Pacar aku?”. sepertinya saat itu jantungku mulai berhenti berdetak dan mulutku terasa terkunci sehingga sangat sulit bagiku untuk berbicara. 

Speechless. Ya, itulah yang aku rasakan. Lelaki berperawakan tegap, berhidung mancung, dan putih itu memintaku untuk menjadi pacarnya. Sungguh tak percaya ketika itu. tetapi dengan perlahan, aku pun menganggukan kepalaku dan menjawab singkat “iya”. Dan sejak itulah aku resmi menjadi Pacar seorang Yoda Radiansyah, Mahasiswa fakultas Hukum.

Perjalanan cintaku dengannya selama 3 bulan berjalan lanca-lancar saja. Pertengkaran juga jarang terjadi diantara kita. Tetapi semenjak memasuki bulan ke 4, aku merasa sikap Yoda berbeda. Dia lebih sering marah-marah, cemburuan, dan Egois. Ini terjadi saat dia melihatku sedang asik berbincang dengan salah satu teman kampusku yang bernama Farlan. Tiba-tiba saja saat itu dia menarik tanganku dengan sangat kasar. 

Aku yang saat itu tak tau kedatangannya Yodapun tersentak kaget saat dia menarik tanganku menjauhi Farlan. Kemudian Yoda membawa ku ke taman kampus yang tak jauh dari tempatku dan Falan ngobrol. Karna aku merasa kesal dengannya, aku pun melepas paksa genggaman tanga Yoda yang saat itu sangat keras sampai pergelangan tanganku merah dan berbekas lingkaran tangannya. aku hanya bisa diam melihat tatapan wajah Yoda yang terlihat sangat marah. “kamu ngapain berdua-duan sama cowok tadi?” tanyanya dengan suara keras. 

Untung saja saat itu taman kampus sedang sepi. Mungkin kalau ramai, semua mahasiswa akan memperhatikan aku dan Yoda. “berdua apanya sih?” ucapku dengan suara menahan tangis. Sepertinya Yoda tak tega melihat wajahku yang ketakutan seperti itu. dia pun duduk di samping ku dan berkata “aku gak suka ya kamu berdua-duaan sama cowok lain ! “. 

Sungguh, aku benar-benar tak berani melihat wajah Yoda. “itu temen kampus bukan siapa-siapa. Tadi juga aku gak Cuma berdua. Tapi ada yang lain juga” ucapku membela diri. Yoda pun memegang tanganku. Kali ini genggamannya sangat lembut berbeda saat dia menarikku tadi. Dia pun mengangkat wajahku yang sejak tadi tertunduk dan memalingkan ke wajahnya. 

Dengan lembut nya, dia menghapus air mataku yang memang sudah mulai membasahi pipiku sejak tadi. “aku minta maaf, sudah besikap kasar ke kamu. Tapi aku melakukan ini hanya karna aku takut kehilangan kamu Cik. Aku gak mau kamu sampai sama orang lain nanti” ucapnya sambil memelukku dengan erat. Sebenarnya aku tak tahan dengan sikap dia yang mudah marah dan cemburu buta seperti ini. ingin sekali rasanya aku mengakhiri ini. tetapi, jika aku mengingat kenanganku dengannya selama 4 bulan ini. sikapnya yang lembut seperti yang membuat mulutku terasa sulit untuk memutuskan hubungan ini. dan lagi-lagi aku memaafkannya. Mungkin ini sudah untuk yang kesekian kalinya.

Dan hari ini, tepat 10 bulan aku berpacaran dengannya. *riinnggggg. Ponsel ku berdering. Dan sepertinya aku tau siapa yang meneleponku. Ketika aku melihat layar ponsel ku, ternyata benar dugaan ku. “pagii sayangg” ucap seseorang dari balik ponselku. Ya, yang menghubungiku adalah Yoda. “iya pagi juga sayang” jawabku dengan mata yang masih setengah tertutup. “kekampus jam berapa kamu?” tanyanya. “aku gak ada kelas hari ini” jawabku sambil menuju arah kamar mandi untuk mencuci muka. “hemm, aku kekampus sendiri dong” ucapnya dengan nada suara sedikit manja. “iyalah, aku kan gak ada kelas” jawabku singkat. “iya udah, kamu gak boleh keluar rumah ya. Nanti keluar rumahnya kalau aku sudah pulang dari kampus. 

Biar aku yang temenin kamu kalau kamu mau keluar rumah” ucapnya memerintahku. Seperti biasa, dia suka se enaknya sendiri. Terlalu mengkekang. Rasanya saat ini juga aku ingin putus denganya. Tapi seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, mulutku terasa berat untuk mengatakkan. Sehari saja tidak membuatku kesal sepertinya dia tidak bisa. Aku juga butuk Privasi dan tak selalu harus dia ikuti kemana aja aku pergi. Jalan sama temen, ngerjain tugas kampus, selalu aja dia mau ikut. 

Aku ini juga pengen seperti temen-temen ku yang lain. Pergi tanpa membawa pacar. Toh aku juga gak pernah macem-macem dibelakang dia. Possesiv ! ya itulah sifat Yoda. “iya iya” jawabku dengan sedikit terpaksa. “ya udah bagus. Aku ke kampus dulu ya sayang” ucapnya. “iya” ucapku singkat.

Dengan perasaanku yang masih kesal, aku pun segera bersiap untuk mandi. Setelah selesai mandi, aku melihat ponsel ku sejenak. Dan ternyata ada satu pesan masuk. Dan itu dari Farlan.

To : Cika
From : Farlan
Pagii Cika. Oh iya, tugas yang dari Pak Andi cari bahannya di mana sih? Aku cari di perpustakaan kampus kok gak ada ya?”
Hem sebernya aku punya bukunya mengenai tugas yang di berikan Pak Andi. Tapi, gimana cara minjeminnya ke Farlan ya? Yoda pasti marah kalau aku ketemu sama cowok lain. Ah tapi dia kan lagi dikampus, gak mungking dia bisa liat aku saat ini. dan akhirnya, aku balas smsnya Farlan.

To : Farlan
From : Cika
Aku punya nih bukunya. Gimana kalau kita ketemuan di café daerah kemang?
Tak lama kemudian, Farlan pun membalas pesanku.

To : Cika
From : Farlan
Hem, nanti kamu kena marah lagi sama Yoda.
Aku pun berfikir lagi sejenak. Dan akhirnya aku merubah niatku untuk bertemu dengan Farlan di Café. Aku memutuskan agar dia saja yang kerumah ku untuk mengambil buku itu. dan akhirnya dia pun setuju.

Setelah aku sudah berpakaian rapi, aku pun keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Disana sudah ada adikku yang berumur 12 tahun, namanya Nola. “kok gak sekolah dek?” ucapku sambil menarik kursi makan. “libur” ucapnya singkat sambil melahap makanan yang ada di piringnya. “mamah mana?” tanyaku lagi. “tuh” jawab adikku sambil menunjuk kearah dapur bersih yang berada tak jauh dari ruang makan. 

Hem, adikku memang seperti itu. kalau didepannya sudah ada makanan, pasti males menjawab pertanyaan orang-orang disekelilingnya. Tapi ya sudahlah, aku juga tidak mau mengganggu adikku yang sedang makan. Aku pun beranjak dari ruang makan dan menuju ruang tamu. Ketika sedang asiknya mendengarkan music lewat headphone, tiba-tiba terdengar suara bel di depan rumah. Karna Volume headphone ku tak terlalu kencang, jadi aku masih bisa mendengarnya. Ya mungkin yang datang Farlan untuk mangambil buku yang ia mau pinjam. 

Tetapi … *klekk ~ aku benar-benar kaget melihat Yoga yang saat ini ada di hadapanku. Kok bisa dia ada disini? Bukannya dia di kampus. “kamu? Katanya ke kampus?” ucapku heran sekalipun gugup. “udah, tapi dosennya gak datang” jawabnya sambil tersenyum. “oohh gitu, ya udah masuk” ucapku sambil tersenyum getir ke arahnya. “untung saja gak jadi pergi temuin Farlan tadi. Huuhhh” ucapku dalam hati sambil sedikit menghela nafas. “kamu kenapa sih? Gak seneng ya aku kesini?” ucapnya dengan memandang heran wajahku. “hah? Gak kok. Oia kamu mau minum apa?” ucapku dengan mengalihkan pembicaraan. “apa aja deh. Mamah mana?” jawabnya sekaligus bertanya padaku. “ada temenin Nola makan. Kamu mau makan sekalian?” ucapku. “gak, aku udah makan dirumah kok” jawabnya. Aku pun langsung beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air untuknya. Aku sangat berharap, kalau Farlan datang setelah Yoda pulang nanti. Hem semoga saja harapanku bersambut baik.

Baru saja aku berharap Farlan akan datang jika Yoda sudah pulang. Tetapi baru saja aku melihat Farlan berada didepan rumahku. Dan Yoda yang membuka kan pintunya. Astaga ! harus bilang apa nih sama Yoda. Dia pasti akan menyangka hal yang tidak-tidak dan pasti akan marah. Aku pun berusaha menenangkan hatiku dan perlahan-lahan melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. 

Mendengar hentakan kakiku, Yoda dan Farlan pun menoleh secara bersamaan kearahku. “eh Farlan. Masuk” ucapku dengan sedikit ragu. Sesekali aku melihat wajah Yoda yang sepertinya sudah memerah. Aku gak tau apa yang akan dilakukan Yoda kali ini. andai saja, dia mau mendengar penjelaskanku. Pasti aku tidak akan segugup ini menghadapinya. “hem gak usah Cik, aku buru-buru soalnya. Aku Cuma mau ngambil buku itu aja” ucapnya. Hem, Farlan benar-benar mengerti posisiku saat ini. dia paham akan sifat Yoda yang mudah marah. Karna memang aku selalu curhat dengannya. aku pun langsung beranjak menuju kamar dan mengambil buku yang akan dipinjam Farlan. 

Tak membutuhkan waktu yang lama, aku pun keluar dengan buku di genggamanku. Yoda hanya bisa melihat tajam wajahku dan Farlan saat itu. aku tau, dia benar-benar marah saat ini. “nih bukunya” ucapku sambil memberikan buku yang ia pinjam. “makasih ya Cik. Hem aku pulang ya Cik” ucapnya. Aku pun tersenyum dan tak menjawabnya. “gue pulang ya Da” sapa Farlan pada Yoda. Tapi Yoda sama sekali tak menjawabnya. Dan Farlan pun akhirnya pulang.

Saat ini, aku bingung harus bilang apa sama Yoda. Apa aku harus menjelaskan tujuan Farlan datang kesini, atau tidak??? Setelah beberapa menit sama-sama diam, Yoda pun mengatakan “bagus ya kamu diem-diem janjian sama Farlan. Dirumah kamu lagi tanpa sepengetahuan aku ! kamu ada apa-apa kan sama dia?” ucapnya dengan nada suara membentak. Hem sebenarnya ini sudah menjadi pemandangan yang biasa dihubunganku dengan Yoda sejak 7 bulan yang lalu. 

Tiada hari tanpa bertengkar. Dan hal yang dipermasalahkan adalah hal yang tidak dia ketahui. Dia asal marah, nuduh, tanpa bertanya terlebih dahulu. “maksud kamu apa sih? Dia itu pinjem buku aku buat kerjain tugas dari Pak Andi. Itu aja” ucapku menjelaskan. “alasan ! kalau seandainya aku gak ada disini, pasti lebih dari sekedar pinjem buku kan? Kamu ada apa-apa kan sama dia? Hah !” ucap dia yang terlihat semakin marah. Aku bener-bener capek menjelaskan sesuatu hal yang dia selalu curigai. 

Aku sudah berkata jujur, dan dia masih gak percaya. Mau dia tuh apa sih. “terserah kamu lah” ucapku kesal. Dan kita pun sama-sama dia memendam emosi kita masing-masing. “yaudalah aku mau pulang” ucapnya sambil beranjak dari sofa. Karna saking keselnya, aku pun gak menjawabnya dan tak mengantarnya sampai depan gerbang seperti biasanya.

Malam harinya, Farlan menghubungiku. Aku yang saat itu sedang membaca sebuah Novel pun langsung mengangkat panggilan masuk dari Farlan “hei kenapa Lan?”. “maaf ya soal tadi” ucapnya. “maaf? Untuk apa?” Tanya ku heran. “pasti tadi Yoda salah paham lagi ya? Trus dia marah-marah lagi sama kamu kan?” ucapnya. “hem.. iya sih dia marah. Tapi udah biasa kok. Kamu gak usah minta maaf gitu Lan” ucapku menjelaskan. “tapi sekarang udah baikan?” tanyanya. “belum. Biarin lah. Aku juga udah jenuh sama sikapnya. Aku rasanya pengen putus aja sama Yoda Lan” ucap ku sedikit curhat dengannya. “kamu pikirin dulu jangan ngambil keputusan disaat emosi kamu lagi tinggi-tingginya” ucapnya menasehati. 

Aku pun berfikir sejenak. Dan ada benernya juga sih, aku harus memikirkan keputusan ini dulu sebelum nantinya aku malah menyesal. “iya deh bener kata kamu, aku harus pikirin matang-matang soal ini” ucapku. “Cinta mungkin akan membuatmu terluka, tapi ia membuatmu semakin dewasa. Kamu harus bisa menentukan mana keputusan yang benar-benar terbaik untuk kamu” ucapnya menasehatiku. Aku pun tersenyum kecil di dalam kamar saat Farlan mengatakan hal itu. aku fikir, Farlan adalah sosok laki-laki dewasa yang selalu bisa menangkan hati aku di saat ada masalah dengan Yoda. Dia selalu bisa memberikanku masukan serta nasehat yang membuatku harus selalu berfikir dewasa dalam segala hal. 

Mungkin sangat beruntung wanita yang bisa mendapatkan hati seorang Farlan yang dewasa dan bijaksana itu. “iya iya makasih ya Lan” ucapku. “oke sama-sama” jawabnya.

Pagi ini aku ada ujian di kampus. Aku harus berangkat pagi-pagi. Pukul 7 pagi, aku sudah bersiap dengan rok selutut warna orange dan baju yang di lapisi dengan jaket kecil yang jugawarna orange. Serta rambutku yang aku biarkan terurai. Aku pun keluar dari kamar. Dan ternyata sudah ada Yoda di ruang makan bersama kedua orangtua ku, dan adikku. Yang awalnya wajahku sedang cerah ceria, eh jadi kembali kusam melihat Pacar yang Egois di depan mataku. Aku pun terpaksa untuk duduk disampingnya. Benar-benar mengurangi nafsu makan. 

Tapi aku tidak mau terlihat ada masalah dengan Yoda di depan ke dua orang tuaku. Sebisa mungkin, aku mungkin aku menutupi semuanya. Setelah selesai makan, aku pun langsung berpamitan dengan kedua orang tuaku untuk langsung berangkat ke kampus. Ya tentunya bersama Yoda. Seperti biasa, Yoda membukakan pintu mobilnya untukku.

Didalam mobil, aku tidak berbicara apa-apa. Aku benar-benar masih kesal dengannya. tapi tiba-tiba Yoda menghentikan mobilnya. “aku minta maaf soal kemarin” ucapnya sambil memegang tanganku dan mencoba menatapku. Aku pun perlahan melepaskan genggaman tangannya itu. aku sudah berfikir semalaman tentang masalah ini. sepertinya aku sudah tidak bisa lagi memaafkan kesalahan yang selalu saja di ulangi oleh Yoda. 

Habis melakukan kesalahan, dengan mudahnya dia minta maaf. Tapi setelah itu? dia ulangi kembali kesalahan itu. dan sudah cukup rasanya aku memaafkannya berkali-kali karna kesalahan nya yang sama. Kali ini aku gak mau jatuh ke lobang yang sama. Sudah cukup 10 bulan aku terjebak dalam cinta yang salah menurutku. Aku memang masih menyayanginya, tapi rasa lelahku kini lebih besar dari rasa sayangku. Aku akan mengatakan ini nanti setelah selesai ujian di kampus.

Ujian dikampus hanya sekitar 30 menit. Dan setelah itu aku keluar dari kelas dan langsung mengambil ponsel dari tas ku. “Yoda? Aku mau ketemu kamu sekarang di taman kampus” ucapku saat menghubungi Yoda. Aku fikir, ini saatnya untuk mengakhiri semuanya. Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung menuju taman kampus. Aku duduk disalah satu bangku dengan pohon cemara. Sudah 30 menit, tetapi Yoda belum datang juga. Dan aku memutuskan untuk menghampiri ke kelasnya. Setelah masuk ke area Fakultas Hukum, aku melihat sesuatu yang buat dada ku tarasa sesak sekali. 

Kaki pun terasa lemas dan tak kuasa untuk berdiri. Rasanya benar-benar sakit. Dengan penuh emosi, aku pun melangkah kan kaki ku menuju Yoda. Air mataku sudah mulai jatuh membasahi pipiku. Semua mahasiswa Fakultas Hukum memperhatikanku yang berjalan cepat dengan air mata yang bercucuran. Setelah sampai di depan Yoda, secara begitu saja telapak tanganku melayang ke pipi Yoda dengan kerasnya. Dan seorang wanita yang sejak tadi bersama Yoda pun terkejut melihatku yang tiba-tiba saja datang dan langsung melayangkan tamparan di pipi kanan Yoda. 

Yaa, mungkin ini belum bisa membalas rasa sakit hatiku. Mengapa dadaku tarasa sesak saat baru saja memasuki wilayah Fakultas Hukum? Karna aku melihat pacarku sendiri sedang bersama wanita lain. Dan kemarahanku berbeda dengan kemarahan Yoda terhadap Farlan. Yoda memegang tangan gadis itu dan sesekali membelai rambutnya. 

Aku benar-benar tidak menyangka. Pria yang selama ini selalu menyaka ku ada apa-apa dengan Farlan, ternyata dia sendiri yang melakukan itu dengan wanita lain. “kamu apa-apaan sih?” ucap Yoda dengan wajah terkejutnya. “kamu selama ini duain aku dengan dia? Pantes aja ya, aku gak pernah dibolehin masuk ke area Fakultas Hukum. Ternyata ada yang kamu takutin? Ini kan? Kamu takut ketauan kalau kamu punya pacar selain aku !” ucap ku dengan penuh emosi. “dengerin aku dulu dong Cik” ucapnya berusaha menenangkan hatiku. “udah ya. Aku juga udah capek dengan sikap kamu yang Egois dan gak pernah ngertiin aku. mulai sekarang kita PUTUS!” ucap ku sambil menegaskan kata terkahir. “tapii Cik .. aku bisa jelasin Cik..” teriak Yoda saat melihatku yang pergi begitu saja meninggalkan dia dan wanita itu.

Saat keluar dari area Fakultas Hukum, dada ku semakin sakit menerima kenyataan ini. tapi aku harus bersyukur karna Tuhan telah menunjukan seseorang yang aku fikir baik selama ini. ternyata seseorang yang aku kira baik, setia, kenyataannya tidak seperti itu. dan Tuhan sudah menunjukan semuanya. Menunjukan semua kebusukan yang selama ini aku tidak ketahui dari diri Yoda. Dengan terus menghapus air mataku, tiba-tiba ada seseorang yang menghentikan langkah kakiku. 

Aku pun menatap orang itu. dan ternyata Farlan yang saat ini berdiri tepat di depan ku. Secara reflex, aku pun memeluknya dengan air mara yang masih terus saja keluar dari mataku. Sampai-sampai baju yang dikenakan Farlan basah karna air mata ku. Farlan berusaha menenangkan hatiku dan mengajakku untuk duduk di taman kampus. Dia berusaha menghiburku agar aku bisa tersenyum kembali. Dia berkata pada ku “Dalam cinta, jangan buang air matamu menangisi seseorang yang bahkan tak pantas tuk melihatmu tersenyum”. Aku pun akhirnya bisa tersenyum kembali mendengar kata-kata yang memang ku anggap selalu benar dan tepat itu. entah kenapa aku merasa selalu nyaman jika berada didekat Farlan. Dia selalu bisa menenangkan aku. aku benar-benar beruntung bisa kenal dan dekat dengannya.

Hemm hari ini rasanya aku merasa lebih bebas dari hari-hari sebelumnya. Hari ini aku ada janji dengan Farlan. Dia mengajakku untuk berjalan-jalan ke Festival seni. Aku pun sudah siap untuk pergi dengannya. dan tak lama kemudian, Farlan pun datang menjemput ku dirumah. Kita pergi dengan motor milih Farlan. “maaf ya kita naik motor perginya” ucapnya. “iya gak apa-apa kok Lan” ucapku sambil tersenyum kearahnya. Kita pun akhirnya jalan menuju tempat festival seni itu. tak sengaja, tiba-tiba saja tanganku melingkar di tubuh Farlan. Aku benar-benar menikmati perjalanan kali ini. aku terasa lebih bahagia dari sebelumnya.

Dan tidak terasa, kita pun sampai di Festival Seni itu. benar-benar ramai. Farlan pun tiba-tiba saja memegang tanganku dan mengajak ku untuk melihat seni Drama di ujung sana. Satu persatu kita mengunjungi pertunjukan setiap seni. Dan pertujukan seni yang terakhir adalah seni menyanyi. Dan kita duduk di barisan paling depan. 

Tapi tiba-tiba saja, Farlan menghilang dari sampingku. “mungkin dia ke toilet” fikirku. Aku mungkin tetap duduk manis menikmati pertujukan seni menyanyi itu. dan tiba-tiba sajaa …. “perhatian buat semua pengunjung. Saya ingin mengatakan sesuatu hal untul seorang gadis yang sangat saya sayangi. Seorang gadis cantik yang saya kenal sejak 1 tahun yang lalu. Dan saya akan menyanyikan sebuah lagu khusus untuk gadis itu” ucap seorang laki-laki dengan gitar di tangannya berada diatas panggung pentas seni menyanyi. Dan yang membuatku kaget, itu adalah farlan. Mataku masih terpaku padanya yang sudah mulai memetik nada demi nada pada gitar yang ia pegang itu.


Dan ini lah lagu yang ia nyanyikan :
Ku tatap wajahmu
Saat pertama kita bertemu
Terasa… bergetar jiwaku…
Saat kau tersenyum padaku…

Menawan indahnyaku…
Bibirmu seakan mengisyaratkan…
Dekatlah padaku… huo… uo…

Semua hilang…

Reff:
Seketika… saat dia berkata
Aku sudah ada yang punya a…
Dia bukan miliku… hu… huuu……
Dia hanyalah kenangan indah yang melintas
Dimataku aku bukanlah kekasihmu
aku hanya lah seorang teman curhat… wo…wowo ha…ho…

Reff 2:
Semua hilang… Seketika… saat dia berkata
Aku sudah ada yang punya…
Dia bukan miliku…
Dia hanyalah kenangan indah yang melintas
Dimataku…
Aku bukanlah kasih hu…u…
Aku hanya teman curhatmu

Semua orang yang melihat pertunjukan itu pun besorak-sorai bertepuk tangan saat melihat menampilan Farlan di atas panggung. Begitupun aku. aku tak mengerti kenpa tiba-tiba saja air mataku menetes perlahan mendengar bait demi bait lagu yang ia nyanyikan. Dan setelah itu kita pun memutuskan untuk pulang. Karna hari juga sudah larut malam. Sesampainya didepan rumahku, Farlan pun berkata “besok aku mau ketemu kamu ya di taman dekat komplek rumah kamu aja. Jam 10 ya. Aku minta kamu jangan sampai telat”. “iya. Aku pasti datang” ucapku sambil tersenyum. 

Aku pun mulai membalikan tubuhku untuk masuk kedalam rumah. Tapi kemudian, aku kembali untuk menemui Farlan yang saat itu masih berada di depan rumahku. Tanpa berkata apa-apa, aku langsung mencium pipinya dan setelah itu berlari untuk masuk kedalam rumahku. Entah apa yang aku lakukan tadi, aku pun tak mengerti. Semua terjadi begitu saja tanpa aku sengaja. Tetapi aku tak mau memikirkannya lebih jauh. Aku memutuskan untuk tidur agar besok bisa tepat waktu bertemu dengan Farlan.

Ke esokan harinya tepat pukul 09:45 pagi, aku sudah rapi dan bersiap untuk menemui Farlan. Tapi tiba-tiba aku melihat Yoda yang sudah ada di depan rumahku. “mau apa lagi kamu kesini?” ucapku ketus. Yoda pun memaksa ku untuk bebicara dengannya. tapi aku tak punya waktu lama. Hanya 10 menit waktu yang aku berikan untukknya. Dan dia pun menyetujuinya. “aku mau minta maaf soal kejadian waktu itu Cik. Aku tau, aku salah. Tapi aku mohon kamu jangan tinggalin aku dan memutuskan hubungan ini. aku janji akan merubah semua sikap aku ke kamu Cik” ucapnya. “maaf Yoda, aku gak bisa. Sudah berkali-kali aku kasih kesempatan buat kamu. Tapi kamu gak pernah meyadari itu. aku gak bisa kembali sama kamu” ucapku sambil beranjak dari kursi depan. Tapi kemudian, Yoda menahan langkah kaki ku untuk keluar rumah. 

Aku melihat arah jarum jam pada jam tangan yang melingkar ditanganku. Astaga ! sudah pukul 10:05. Kata Farlan aku gak boleh telat. Aku pun langsung melepas paksa genggaman tangan Yoda saat itu dan langsung berlari menuju taman komplek rumah. Sepi . ya itulah keadaan taman saat ini. aku telat. Pasti Farlan sudah pulang. Sebenarnya untuk apa dia menyuruhku untuk datang kesini. “untuk kasih liat ini” jawab seseorang dari belakang punggungku. Aku pun langsung membalikan tubuhku ke arah suara itu. “Farlan?” ucapku kaget sakligus senang. Dia pun memberikan amplop pada ku. Aku heran, apa amplop itu. dan Farlan menyuruh ku untuk membukanya. 

Dan ketika kau baca, “beasiswa ke Singapore???” ucapku pada Farlan. Farlan pun tersenyum dan langsung memelukku. “aku dapat beasiswa ke Singapore” ucapnya masih dalam pelukannya. Jujur aku sedih. Sedihku bukan karna tidak senang mendengar berita ini. tapi sedih karna Farlan akan berada jauh nanti dari ku. “Cik” ucapnya sambil melepas pelukannya. “kenapa?” jawabku singkat. “sebelum aku pergi, aku mau bilang suatu hal yang penting” ucapnya. “bilang apa?” Tanya ku lagi. “aku sayang kamu. Kamu mau nunggu aku sampai aku pulang dari Singapore?” tanyanya dengan menatapku tajam. “aku juga sayang kamu Lan. Aku bakal tunggu kamu disini sampai kamu pulang nanti” ucapku sambil di sertai dengan pelukan hangat. Dan aku dan Farlan punakhirnya resmi jadian.

Mungkin benar, Tuhan tidak akan membuang sesuatu yang kita akan baik tanpa mempersiapkan sesuatu yang benar-benar baik untuk kita. Dan takdirku memang memisahkan aku dari Yoda tapi pada akhirnya, aku mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Yoda. Yaitu Farlan. Seorang Pria yang selalu membuatku nyaman dekat dengannya. seseorang yang sangat bijaksana dalam melakukan apapun. Semoga hubunganku bisa terus terjaga dengannya.
Tamat

PROFIL PENULIS
Namaku Risdatul Zulfiah
TTL : Jakarta, 06 Juli 1996
Sekolah : SMK Daarul Uluum
Kelas : 3
Facebook : Risdatul Zulfiah
Twitter : @risda_zulfiah

Belum ada Komentar untuk "Akhir yang Indah, Sebuah Cerpen Cinta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel