Dewi Benalu Wati (Sebuah Cerpen) By Amy Daria


Planetcerpen.com - Aku ini seorang pengamat. Mengamati  keadaan sekeliling tempat tinggalku. Semuanya tak lepas dari pengamatanku, baik-buruk, pantas-tidak pantas selalu masuk dalam daftar pengamatanku. Termasuk keluarga bulek Anisah, adik sepupu ibuku, yang rumahnya sebelah kananku selisih dua rumah. Yang jadi focus pengamatanku bukan bulek Anisa, wanita sederhana berusia 70an tapi Ningsih, menantunya bulek Anisa atau lebih tepatnya bekas menantu. Dikatakan bekas menantu karena suami dari Ningsih yang juga anak kandung bulek Anisa sudah sepuluh tahun lebih meninggal karena sakit.  Saat itu Ningsih yang sudah dikaruniai dua anak,belum punya rumah sendiri, dia menumpang di PMI (Pondok Mertua Indah). Sepeninggalan suaminya, Ningsih diberi modal oleh bulek Anisa untuk dagang sayur di pasar mengikuti jejak keponakannya. Masalah tempat tinggal, Ningsih masih tetap tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah). Bulek Anisa tidak mengusir Ningsih karena tahu kedua orang tua Ningsih sudah meninggal dan tidak punya rumah dan Ningsih sendiri pingin tetap tinggal bersama bulek Anisa.  

Dengan modal dari  bulek Anisa, Ningsih belajar dagang sayur. Tapi ada keanehan, selama berdagang tidak pernah dapat untung yang ada utang melulu. Tiap minggu bulek Anisa memberi tambahan modal dengan harapan Ningsih dapat untung sehingga bisa menampung kebutuhan hidup Ningsih dan kedua anaknya. Tapi harapan itu tak dapat terpenuhi buktinya walaupun kebutuhan hidup Ningsih dan kedua anaknya ditanggung bulek Anisa tetap saja Ningsih tak dapat untung. Kupikir bukannya tak dapat untung tapi keuntungannya disembunyikan agar bu Anisa tidak tahu, agar kebutuhan hidup dia dan kedua anaknya ditanggung bu Anisa selamanya. Atau mungkin dia terlalu boros. Sebagai pedagang dia melangar  pantangannya orang berdagang. Pantangan itu yaitu mengeluh. Menurut kepercayaan orang jawa, orang dagang tidak boleh mengeluh, kalau mengeluh maka tidak berkah. Dan kalau tidak berkah, maka duitnya tidak bisa kumpul. Duitnya akan habis untuk keperluan yang tidak begitu penting.

Mengenai mengeluh……Ningsih memang jagonya. Bahkan kalau ada lomba mengeluh dia bisa dapat juara satu. Hebat,kan? Dia sering datang ke rumahku sekedar untuk mengeluh. Katanya berdagang untungnya sedikit sekali tak setimpal dengan capeknya. Badan pegel semua, sangat capek. Aku sering menasehati agar bersyukur pada Tuhan yang memberinya rejeki, yang membuka pintu hati bulek Anisa sehingga mau memberi modal. Tapi dia menjawab bersyukur gimana? Wong keuntungannya capek? Kalau sudah sampai ke istilah itu aku cuma diam. Percuma menasehati orang yang tak ada rasa syukurnya sama sekali, orang yang terlalu suka mengeluh. Kupikir sifat mengeluhnya sudah mendarah daging, bawaan dari lahir, atau mungkin bawaan dari genetika. Biarlah tiap hari aku jadi tong sampah yang menampung sampah-sampah yang berupa keluhan dia. Aku tak komentar sama sekali walau kadang-kadang mengeluhnya sampai diluar logika. Dia selalu mengeluh badan pegel semua karena di Pondok Mertua Indah dia diperlakukan seperti pembantu. Mengerjakan semua pekerjaan rumah dari menyapu, mencuci piring sampai masak. Padahal sebagai pengamat aku selalu mengamati dan tahu kalau pulang dagang sekitar jam 14.00 dia langsung tidur dan bangun sekitar jam 17.00. Setelah itu dia mandi dan makan. Tak pernah membantu kerepotan bulek Anisa sama sekali. Tapi bulek Anisa tak memperdulikan hal itu. Justru  masih terus memberi tambahan modal dengan harapan dagangnya tambah maju untuk masa depan Ningsih dan kedua anaknya.





Belum ada Komentar untuk "Dewi Benalu Wati (Sebuah Cerpen) By Amy Daria"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel