Jemuran Antik dan Mang Ujang

Cerpen Pencuri Celana dalam, cerpen kos-kosan, cerpen psikologis, cerpen kelainan jiwa, kelainan seksual, cerpen keidupan sehari-hari, cerpen harian, cerpen original, cerpen Ami Daria, cerpen orisinal, kumpulan cerpen,

Planetcerpen.com - Sudah ketiga kalinya Vivi adik sepupuku kehilangan celdam,dan tiap kali kehilangan pasti tiga celdam, dan dia kehilangan tiga kali, berarti ada sembilan celdam yang hilang.Tapi walau begituVivi tidak jera juga. Dia tetap melakukan kebiasaan antiknya.Padahal kebiasaan antiknya itulah yang memegang peran besar hilangnya kesembilan celdamnya.

Aku mengontrak satu rumah, berdua dengan teman kerjaku, Retno. Saat aku mengutarakan kalau Vivi, adik sepupuku yang baru diterima kerja di tempatku bekerja, akan bergabung ikut mengontrak,  Retno tidak keberatan. Akhirnya sebulan yang lalu Vivi ikut mengontrak denganku.Sehari sampai seminggu tidak terjadi apa-apa alias semua baik-baik saja. Setelah lewat seminggu kebiasaan antic Vivi baru muncul. Dia punya kebiasaan, tiap kali selesai mandi celdam langsung dicuci dan dijemur di dalam kamar mandi. Vivi membuat jemuran dari seuntas tali yang dibentangkan dari dinding yang satu ke dinding diseberangnya, Melintas diatas bak mandi. 

Bisa dibayangkan, didalam kamar mandi ada pemandangan yang begitu “Indahnya” Tiap hari minimal ada tiga  celdam yang dijemur tanpa pernah dikeluarkan untuk dijemur dibawah terik matahari. Tapi walau begitu aku mencoba untuk bertenggang rasa. Kubiarkan hal itu terjadi. Sehari, dua hari bahkan sampai seminggu. Kupikir lama-kelamaan jemuran antik itu akan kering dan disimpan.Tapi ternyata tebakanku meleset jauh. Jemuran itu bukannya habis tapi malah semakin banyak bahkan pernah sampai sepuluh stel. Sampai-sampai ada yang dijemur tepat diatas bak kamar mandi dan airnya menetes ke dalam bak kamar mandi, padahal air dari bak itu buat mandi, gosok gigi, wudhu dan lain sebagainya. Aduh….jijai aku. Kalau mau mandi jadi malas. 

Aku memutuskan, bahwa hal ini tak boleh berlarut-larut. Sebab kalau kupikir-pikir jemuran antik itu tidak akan habis. Kalau bertambah pasti. Bagaimana bisa habis? Sebelum kering sudah ditambah jemuran yang baru. Tiap hari pasti nambah dua  celdam, sedangkan keringnya paling tidak menunggu dua-tiga hari. Kebiasaan unik yang sangat tidak menyenangkan ini harus dihentikan. Aku harus bicara! Intinya Vivi harus menghentikan kebiasaan yang sangat merisihkan itu titik.

Kebetulan hari itu libur. Retno pulang kerumah orang tuanya di Jakarta  Selatan. Kesempatan untuk aku bicara empat mata dengan Vivi. Aku berdiri didepan pintu kamar mandi, menunggu  Vivi selesai mandi. Setelah Vivi keluar dari kamar mandi, baru kuutarakan keberatanku. Aku bukan tipe orang yang suka bicara panjang kali lebar sama dengan luas. Alias bertele-tele, aku tipe orang yang to the point. Langsung ke pokok masalah.

“Vi, itu celdam dijemur di luar aja. Jangan dalam kamar mandi. Risih aku melihatnya.” Kataku.
“Risih kenapa? Kalau habis mandi celdam biasa langsung ku cuci, Ya dijemur di dalam. Memangnya mau dijemur di mana?” Tanya Vivi santai.

“Ya…kalau pagi di jemur diluar, dibawah sinar matahari, jadi bisa langsung kering, bisa dilipat dan simpan di lemari.”

“Lah! Ribet mbak, kalau tiap pagi aku menjemur diluar. Mendingan disitu. Nanti kalau kering bisa langsung kupakai.”

“Kalau di jemur didalam bisa-bisa tiga hari tidak kering. Jemuran bukannya habis tapi malah bertambah.”Kataku agak ketus.

“Ya…. Ngak apa-apa mbak, toh celdamku banyak. Ada dua puluh stel” Jawab Vivi santai.

“Yang jadi masalah bukan banyaknya celdam kamu, tapi jemuran celdam di kamar mandi. Tak bisa kubayangkan seandainya ada temanku main kesini, apalagi teman cowok, dia menumpang ke kamar mandi, begitu buka pintu, akan tampaklah pemandangan yang begitu indahnya…malu aku, Vi.”

“Malu kenapa? Biasa aja, lagi. Lagian mbak Retno juga no problem. Kupukir mbak Lintang aja yang  terlalu berlebihan.”Jawab Vivi santai.

“Retno diam karena ngak enak denganku.Dia tahu aku akan membicarakan hal ini denganmu.”Jawabku ketus.

“He…he…mbak Lintang lucu.Masalah kecil dibuat besar. Santai aja lagi….Udah ya mbak? Kata Vivi sambil melangkah pergi.

Dua hari setelah pembicaraan itu, tidak ada perubahan sama sekali. Vivi tetap melakukan hal yang baginya bukan masalah, tapi bagiku masalah besar. Kebetulan Retno baru selesai mandi.

“Ret. Bagaimana menurutmu?” tanyaku sambil menunjuk jemuran antik dalam kamar mandi.

“Sebenarnya aku sangat tidak suka dan risih.Tapi kalau mau ngomong ngak enak sama kamu.”

“Wouw….!berarti kita sependapat dong.” Kataku senang.

“Iya dong. Cepaat bicarakan dengan Vivi. Sebab kalau kelamaan bisa menyebabkan penyakit rabun dekat. Bahaya.” Kata Retno sambil tertawa.

“Oke!”Jawabku mantap.

Yang  jadi masalah, bagaimana cara mengutarakan pada Vivi agar mengerti apa yang jadi ganjalan dalam pikiranku. Agar Vivi melihat permasalahan itu dari sudut pandangku. Atau…aku yang harus memahami Vivi? Melihat permasalahan itu dari sudut pandang Vivi. Menganggap hal itu bukan masalah? Ah….! Tidak bisa! Tidak bisa! Bagiku itu masalah besar dan  menjijikkan.  Harus dihentikan.Dalam hal ini tidak bisa diundur-undur lagi.

Sore hari, aku dan Vivi sedang santai, menonton TV di ruang depan. Retno sedang shoping. Kesempatan bagiku untuk membicarakan hal yang perlu dibicarakan.

“Vi. Ternyata pembicaraan kita dua hari yang lalu, hanya kamu anggap angin lalu, ya?”

“Pembicaraan yang mana, mbak? “ Tanya Vivi kelihatan bingung.

“Itu….masalah celdam dalam kamar mandi……”

“Oh…..kupikir itu bukan masalah penting, mbak….jadi kuanggap selesai.”

“Maksudmu selesai tanpa penyelesaian?”

“Memangnya bagi mbak Lintang itu masalah? Bagiku itu bukan masalah….Mbak Lintang kok aneh.” Kata Vivi terlihat agak emosi.

“Justru kamu yang aneh. Mencuci kok menjemurnya dalam kamar mandi. Ya diluar dong….Jadi cepat kering. Yang jelas aku sangat tidak suka ada pemandangan yang sangat tidak bagus dalam kamar mandi. Kamu tahu, ngak? Saat jemuranmu penuh, ada yang berada tepat diatas bak kamar mandi dan airnya menetes ke dalam bak. Dan kamu tahu? Apa gunanya air dalam bak Buat mandi, gosok gigi, Wudhu juga. Apa itu ngak menjijikan?” Aku ikut-ikutan mulai emosi.

“Baiklah aku mengalah. Akan kupindahkan jemuran itu keluar.” Kata Vivi sambil beranjak pergi.

“Kamu bilang ini mengalah? Justru kalau kamu tetap melakukan hal itu, kamu yang egois.” Aku mengejar Vivi.

“Iya mbak……” Jawab Vivi lesu. 

“Besok pagi aku ngak mau lihat jemuran itu masih dalam kamar mandi.” Kataku sambil melangkah ke ruang depan untuk melanjutkan nonton TV.

Pandangan yang sangat indah. Menambah gairah hidupku melonjak tinggi. Hidup ini penuh dengan warna…merah…ungu…hijau…oh indahnya….”Terdengar puisi dadakan Parjo, pemuda yang mengontrak sebelahku.

“Pemandangan yang sangat indah….Apa, sich?” Dengan rasa penasaran aku membuka pintu belakang.  Dan……oh my god! celdam itu melambai-lambai tepat di depan mataku. ternyata jemuran antik milik Vivi dipindah di teras belakang. Kalau aku mau melewatinya, aku harus menunduk, kalau tidak maka kepalaku akan menyentuh jemuran antik itu. Padahal kalau mau belanja atau menimba air aku selalu lewat pintu belakang. Kebetulan kontrakanku tidak ada pompa airnya. Kami harus menimba untuk memenuhi kebutuhan air setiap harinya. Dan kebetulan lagi sumurnya ada di sebelah kiri kontrakanku jadi otomatis kontrakan sebelah kananku, ada dua kontrakan, yang semuanya dihuni cowok. Mereka kalau mau menimba air harus lewat teras belakang kontrakanku. Dan sekarang teras belakangku ada jemuran antik itu…? 

“Punya siapa mbak?” Tanya Parjo sambil senyum-senyum. “Yang jelas bukan punya mbak, kan?” Kata Parjo tampak serius.

“Emang bukan. Ini punya anggota baru. Tadinya dalam kamar mandi. Kusuruh pindah. E….pindahnya ke sini, didepan pintu. Aku harus selalu memundukkan kepala kalau tak ingin rambut indahku menyentuh benda antik ini.” Kataku agak sewot

 “Biarin aja, mbak. Pemandangan yang sangat indah.”Kata Parjo sambil tertawa.

“Sangat indah, gimana? Ini bisa menyebabkan peyakit mata.” Kataku.

Parjo hanya tertawa geli sambil menimba. “Kalau dilarang nanti dipindah ke kamar mandi lagi. Ayo mbak Lintang pilih mana?” Kata Parjo terdengar bijaksana.

“Aku ngak pilih dua-duanya. Tapi benar juga katamu. Sebenarnya memalukan, apalagi sebelahku yang ngontrak cowok semua. Tapi….kenapa aku harus malu? Toh ini bukan milikku.”

“Betul itu.” Kata Parjo lagi.

 Parjo mengontrak di sebelah kananku. Usianya dua tahun dibawahku, tapi pola berpikirnya dewasa. Tiap kali aku ada masalah aku sering berdiskusi dengannya. Nama aslinya Wasdi. Dia orang Jogya. Jago melukis dan enak diajak bicara. Dalam kontrakannya yang berpenghuni empat cowok,  Parjo yang paling muda, tapi dia paling dewasa dalam bersikap.

Walau aku agak dongkol mendapati jemuran antik diteras belakang, tapi aku menuruti saran Parjo untuk diam saja. Malu juga sich….tapi kenapa mesti malu? Toh jemuran antik itu bukan milikku. 

Seminggu sudah berlalu, jemuran antik itu menampang di depan  pintu belakang. Hari ini kebetulan aku libur kerja. Kumanfaatkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk. Aku sedang memasukkan pakaian kotor ke dalam ember, saat Vivi datang mendekatiku.

“Mbak……kalau dihitung-hitung dalam waktu tiga hari ini aku kehilang Sembilan celdam. “ Kata Vivi setengah berbisik. 

“Kok bisa?! Sembilan? Banyak amat?”

“Iya, mbak….sehari hilang tiga. Selma tiga hari jadi Sembilan.” Kata Vivi lagi. 

“Aneh! Ada orang mencuri celana dalam? Buat apa?” Aku benar-benar tak habis pikir.

“Iya mbak…..makanya jemurannya aku pindah ke kamar mandi lagi, ya?” Kata Vivi penuh harap.

“Hah?! Ngak boleh. Begini saja….celdam kamu dijemur dibawah sinar matahari, jadi sorenya kering bisa diangkat, ngak bermalam diluar. Mungkin hilangnya pas malam hari.”

“Ah ribet, mbak. Kupikir hilangnya bukan malam hari kok mbak. Masalahnya pagi tadi aku lihat masih ada, sore harinya sudah hilang.”

“Berarti hilangnya siang hari? Kalau begitu kamu menjemurnya bareng pakaian yang lain. Di hanger dan diluarnya kasih kemeja atau rok.” Saranku.

“Nggak bisa, mbak. Aku ngak biasa menyimpan celdam kotor sampai berhari-hari.”

Vivi Cuma diam dan melangkah pergi. Ah, tidak mendapatkan mufakat. Tapi bagaimanapun juga jemuran antik itu tidak boleh pindah ke kamar mandi. Untuk satu hal ini aku tetap bertahan. 

Aku sedang mencuci baju di  sumur, ketika Mbak Rose, tetangga kosku sebelah kiri, yang juga sedang mencuci baju, berjalan mendekatiku. 

“Mbak Lintang pernah kehilangan celdam, nggak?”

“Enggak mbak. Memangnya mbak Rosa sering kehilangan celdam”?

“Iya. Tadinya aku tak menyadari. Tapi setelah kuperhatikan tiap kali mencuci celdamku pasti hilang satu atau dua.

“Vivi juga sering kehilangan kok, mbak.”

“Ya pasti. Dia kalau menjemur celdam seperti dipajang. Itu yang diteras, punya dia semua kan?”

“Iya….Mbak Rosa kok tahu?” Tanyaku sambil tertawa.

“Ya tahu. Diam-diam aku kan memperhatikan. Oh ya, mbak. Ternyata yang mengonttrak disini hamper semua kehilangan celdam. Dan anehnya mbak, yang dicuri itu yang sudah lama. Kalau masih baru pencurinya ngak mau.”

“Jadi yang dicuri, yang sudah pernah dipakai?” Tanyaku penasaran.

“Iya.” Jawab mbak Rosa sambil mengangguk mantap.

Sampai tengah malam aku tidak bisa tidur. Pembicaraanku tadi pagi dengan mbak Rosa menganggu pikiranku. Ternyata hampir semua yang mengontrak disini kehilangan celdam kecuali aku. Lalu bagaimana dengan Retno? Apakah dia juga kehilangan? Yang jelas pencuri itu menyukai celdam yang sudah pernah dipakai. Untuk apa, ya? Kalau untuk dijual, siapa yang mau beli celdam bekas pakai? Kupikir bukan untk dijual. Tapi untuk apa? Jiwa berpetualang dan berandai-andaiku mulai bekerja. Aku mulai meraba-raba dan mengkait-kaitkan tiap peristiwa yang ada. Antara apa, siapa dan bagaimana. Apa motif pencurian itu? Siapa pencuri itu? Laki-laki, perempuan, tua, muda? 

Bagaimana caranya? Dan untuk apa dia mencuri? Disimpan? Dijual? Entahlah……Setelah kupikir dan kulihat dari berbagai sudut, akhirnya aku mendapatkan suatu hipotesa. He….he…pakai bahasa teknis segala. Dugaanku sampai pada suatu kesimpulan, ada orang yang mempunyai suatu kelainan, sangat suka mengoleksi celdam bekas, untuk apa? Itu yang masih menjadi tanda tanya besar. Tunggu dulu. Aku menyimpulkan pencurinya punya kelainan, berarti kelainan sex? Berarti pencurinya lelaki….lelaki dewasa. Seorang lelaki dewasa mencuri celdam? Kenapa dia melakukan itu? Kenapa pula aku dibuat pusing dengan hilangnya celdam-celdam itu? Tapi aku penasaran dan aku yakin, entah kapan aku pasti menemukan jawabannya. Pasti!  

Sore  hari aku bersantai diteras sambil ngobrol dengan tetangga kontrakan. Fifi ikut bergabung. Tampak Mang Ujang berjalan mendekati kami sambil senyum-senyum.

“Hai mbak Fifi, pa kabar…..?”Sapa Mang Ujang ceria.

Bukannya  menjawab, Fifi malah lari masuk rumah sambil bergidik. Aneh. Kenapa Vivi ketakutan? Aneh juga kenapa Mang Ujang begitu ramah pada Vivi? Kalau kuperhatikan Mang Ujang begitu antusuas meliaht Vivi. Dia tampak sangat ingin ngobrol dengan Vivi. Tapi ya…..itu. Vivinya ketakutan.

Mang ujang seorang tuna daksa tingkat ringan. Badannya kecil, kerempeng dengan tinggi badan sekitar 140 cm. Terlalu kecil untuk ukuran badan orang normal dengan usia yang kuperkirakan antara 35-40 tahun. Usia orang yang sudah sepantasnya menikah dan membentuk keluarga. Tapi apa ada wanita yang mau sama dia? Apalagi ditunjang dengan pekerjaannya yang tidak tentu. Jadi suruhan orang-orang dengan imbalan yang tak seberapa. 

Dia sering disuruh oleh tetanggaku untuk menimbakan air, setiap satu ember, bekas cat, upahnya seribu rupiah. Tetangga khususnya yang sudah berkeluarga sering menyuruh Mang Ujang menimba, alasannya cukup masuk akal. Tak ada waktu untuk menimba. Tapi yang masih bujanganpun, seperti Parjo dan teman sekontrakkannya juga sering menyuruh Mang Ujang menimba, alasannya agar Mang Ujang ada pekerjan dan dapat upah. Kadang Parjo dan teman sekontrakannya memberinya rokok. Katanya kasihan. Ya, masuk akal juga. 

Dari sepuluh kontrakan yang berjajar kurasa hanya aku bertiga, aku, Retno dan Vivi yang tidak pernah menyuruh Mang Ujang menimbakan air. Selain sayang duitnya, kami juga masih punya banyak waktu dan tenaga untuk menimba air demi kebutuhan sehari-hari. Tapi walau begitu aku sering bertemuMang Ujang yang selalu lewat teras belakang kontrakanku saat mengambil air dari sumur di sebelah kiri kontrakanku. Dan dia selalu mengucapkan “Permisi…”sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

“Iya, Mang….”jawabku ramah. Aku selalu bersikap ramah, tapi kenapa Mang Ujang terlihat takut padaku? Apakah aku terlihat menakutkan?Ah tidak. Orang bilang aku lumayan cantik. Wajah oval, bentuk bibir, hidung,mata, terlihat begitu serasi. Tubuh tinggi semampai dan kulit sawo matang. Tidak ada unsure menyeramkan sama sekali, bukan? Lalu kenapa Mang Ujang terlihat takut dan segan padaku? Entahlah. Mungkin karena aku tidak pernah menyuruhnya menimba air, jadi kami tidak terlalu akrab. Namun belakangan ini Mang Ujang sering melintas didepan kontrakanku, bahkan dia sering berhenti lama disitu seperti menunggu seseorang. Tapi kalau melihatku keluar Mang Ujang buru-buru pergi. Jadi Mang Ujang ingin bertemu dengan salah satu penghuni kontrakanku.Yang jelas bukan aku. Retno? Vivi? Tebakanku Vivi. Retno tidak mugkin. Dia kan penghuni lama bareng denganku. 

Sementara Mang Ujang sering berdiri di depan kontrakan dalam waktu akhir-akhir ini, sama dengan kedatangan Vivi. Apakah untuk ukuran orang normal Mang Ujang jatuh cinta  pada Vivi? Bertolak dari hal itu, Vivi justru ketakutan. Waktu kutanya, Vivi memberikan alasan, takut pada Mang Ujang yang terlihat aneh. Memang seorang tuna daksa, bagi orang yang belum memahami akan terlihat aneh, bahkan mereka khawatir penderita tuna daksa akan melakukan hal di luar control. 

Seorang tuna daksa dengan IQ dibawa rata-rata sifatnya kekanak-kanakkan tidak sesuai dengan usianya. Idiot? Bukan. Idiot berarti tuna daksa tingkat berat. Sedangkan Mang Ujang tuna daksa tingkat ringan. Bagi seorang Psikologi ada istilahnya tersendiri. Aku bukan Psikologis, tidak tahu apa nama tuna daksa ringan seperti Mang Ujang. 

Aku sedang melipat baju yang baru kering, cucianku tadi pagi. Vivi juga mengangkat
jemurannya dan bergabung denganku. Kuperhatikan ada sekitar sepuluh celdam diantara baju
baju Vivi.

“Masih kehilangan celdam?” Tanyaku penasaran.

“Nggak. Kan celdam ku taruh dihanger dan luarnya kututupi dengan baju.”Jawab Vivi sambil
Tertawa. “Tapi kalau begini terus, aku harus mengorbankan baju untuk menutupi celdamku.”

“Lho. Kupikir kamu mencuci tiap hari?” Tanyaku kaget.

Vivi hanya mengeleng sambil tersenyum malu.

Ternyata Vivi tidak mencuci bajunya tiap hari. Katanya capek, kalau harus berurusan dengan cuci mencuci tiap hari. Setelah berkali-kali celdamnya di jemur di hanger dan ditutupi baju aman, dalam arti tidak hilang. Vivi menghentikan kebiasaan itu dan menjemur celdamnya dibawah sinar matahari tanpa ditutupi baju. Sehari sampai seminggu aman, akhirnya Vivi kembali ke biasaan lama. Menjemur di teras belakang dan otomatis aku harus menundukan kepala tiap kali melintas di bawahnya. 

Namun ternyata keamanan itu tidak berlangsung lama. Tiga hari kemudian, celdam hilang tiga, hari berikutnya hilang tiga juga. Hal ini membuat Vivi kalang kabut. Dia tidak mau menghentikan kebiasaan antikkya, tapi juga tidak siap dengan konsekuensinya. Bagiku Vivi mempersulit masalah mudah. Apa susahnya menghentikan kebiasaan antiknya itu? Vivi bersikeras mempertahankan kebiasaan antiknya itu. Aneh ….tapi nyata.

Kalau kuperhatikan Mang Ujang sekarang sering mondar-mandir di depan kontrakan. Dan dia akan terlihat sangat ceria bila melihat Vivi, selalu menyapa dan berusaha untuk mendekati. Sebaliknya, Vivi terlihat ketakutan. Aku hanya mengamati hal itu tanpa komentar apa-apa. Dan dari hasil peengamatanku selama ini, aku mencoba mengaitkan antara ramahnya Mang Ujang terhadap Vivi dan hilangnya celdamnya. Jangan-jangan yang mencuri celdam milik Vivi adalah Mang Ujang? 

Untuk usia di atas 35 tahun, sudah saatnya Mang Ujang mencari pendamping hidup, namun dari segi ekonomi maupun fisiknya tidak mendukung ke arah itu. Sementara hasratnya ke lawan jenis membutuhkan tempat untuk melampiaskannya. Dan akhirnya dia memilih celdam. Tak dapat memiliki orangnya, maka dipilih barang pribadinya. Yach….kupikir hipotesaku saat ini benar. Mencapai nilai 99%.

Aku sedang memasak, saat kudengar senandung Mang Ujang yang sengau dari arah sumur. Wah….Mang Ujang sedang menimba. Inilah saatnya aku membuktikan hipotesaku. Aku keluar menuju sumur. Kulihat Mang Ujang sedang menimba, suara sengaunya terdengar makin jelas. Aku berdiri bersandar dinding sambil sedakep(menyilangkan kedua tangan didada). Merasa ada yang mendekati, Mang Ujang menoleh. Melihat aku berdiri di belakangnya, Mang Ujang tampak terkejut dan gugup.

“Ee….Mbak Lintang……”Mang Ujang tampak gugup.

“Iya Mang……”Jawabku sambil tersenyum semanis mungkin.“Mang Ujang tahu  ngak? Kalau yang mengontrak disini sering kehilangan celdam?” tanyaku sambil menatapnya tajam..

“Nggak Mbak…..sumpah demi Tuhan, aku nggak tahu apa-apa.” Jawabnya gugup.

“Ya….nggak usah pakai sumpah segala, Mang Ujang….biasa aja, lagi….”Jawabku santai.

“Tapi memang sumpah berani mati mbak, aku nggak tahu apa-apa.” Jawab Mang Ujang, makin terlihat gugup.

“Ah….yang bener….?”Aku tidak percaya.

“Bener Mbak….! Sumpah mati!” Kata Mang Ujang tampak ketakutan.

“Ya udah Mang….gini aja. Kalau Mang Ujang ketemu sama dia, Bilang! Jangan coba-coba curi celdamku! Kalau sampai dia berani mencuri celdamku, maka aku, kek!” Kataku sambil mengerakan tangan mencekik  leher. “Mang….lihat tanganku. Begitu kuatnya, kalau sekedar mencekik orang sampai klenger.....kecil…!” kataku sambil menyentilkan jari.

“Iya Mbak….aku permisi dulu Mbak…….”Kata Mang Ujang sambil berlari membawa ember yang belum penuh.

“Mang….itu embernya belum penuh. Dipenuhi dulu…”Kataku setengah berteriak. 

Tapi Mang Ujang sudah keburu masuk ke dapur kontraknnya Parjo. Aku menunggu sambil mengamati pintu dapur Parjo. Tapi sampai lama Mang Ujang tidak keluar juga. Oalah….ditungguin malah tenggelam. Akhirnya aku masuk kontrakanku.

Mumpung libur aku berkunjung ke rumah saudara, dan pulang ke kontrakan menjelang senja. Oh my God! Jemuranku masih melambai-lambai di tempatnya. Vivi memang keterlaluan. Masa dari pagi di rumah, tidak mau mengangkatkan jemuranku. Padahal kalau dia pergi, aku sering mengangkatkan jemurannya. Aku juga sering memasak, dan Vivi tinggal makan. Memang  orang pelit, tenaganya juga pelit.tapi biarlah…..tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Lumrah.  Aku masuk dan menjatuh semua jemuranku di tempat tidur, dekat tempat tidur Vivi. Vivi masih tiduran sambil nonton TV.

“Celdamnya ada yang hilang, mbak?” Tanya Vivi sambil duduk.

“Ngak tuh. Aman-aman saja.” Jawabku samtai.

“Aneh….celdamku sering hilang, tapi milik Mbak Lintang kok aman-aman saja?” Tanya Vivi heran.

“Mungkin karena punyaku jelek. Kalau punyamu kan bagus. Ada pitanya, ada gambar bunga, ada gambar kupu….jadi menarik minta pencurinya.”jawabku sekenanya.

“Tapi aku dengar-dengar yang ngontrak disini, kehilangan celdam semua kok Mbak, termasuk mbak Retno. Kecuali Mbak Lintang.”Kata Vivi.

“Oh, ya? Berarti Celdamku tidak menarik minatnya, saking jeleknya, ya?” Kataku berlagak bego.
Hanya milikku yang tidak dicuri? Apakah karena pencurinya takut kucekik, seperti ancamanku pada Mang Ujang? Berarti pencurinya Mang Ujang?. Kalau begitu Mang Ujang punya kelainan sex? Mencuri celdam untuk memenuhi hasratnya? Lalu apa yang dilakukan dengan celdam itu? Didekap, dipeluk, dan berhaluniasi?  

Hari ini libur. Semalam hujan turun begitu lebatnya, disertai halilintar yang mengelegar, bersahut-sahutan. Tidak biasanya Vivi rajin. Dia sedang mengepel teras depan. Biasanya kalau libur Vivi shoping dengan kolompoknya, mereka berjumlah empat orang, termasuk Vivi. Aku sedang mengoreng tempe, lauk favoritku. Nasi hangat lauk tempa goring hangat juga, hmm….enak sekali.

“Hiii……takut….!”Vivi berlari masuk sambil bergidik.

“Ada apa sich,Vi…?” Tanyaku kaget.

“Itu ada Mang Ujang di depan. Aku sedang ngepel, dia langsung mendekatiku sambil menyapa, pa kabar mbak Vivi……itu dia masih berdiri di teras. Sana Mbak, diusir…” 

“Oke. Tolong tempenya jangan sampai gosong.”Kataku sambil melangkah ke teras depan.

Tampak mang Ujang sedang berdiri disisi luar teras, lurus pintu masuk. Dia tertawa riang memperlihatkan giginya yang kuning kehitaman.

“Ada apa, Mang?” Tanyaku, kubuat seramah mungkin.

“Mbak Vivi, mana Mbak?” Tanya dia sambil melongok ke dalam.”Nggak apa-apa, Cuma pingin ketemu.” Kata dia malu-malu.

“Jangan macam-macaam Mang…..Dia adikku, lho…”Kataku setengah mengancam.

“Nggak Mbak…….saya nggak akan macam-macam kok. Permisi….”Mang Ujang  tampak ketakutan. 

Dia pergi sambil membungkukan badan, sedemikian dalamnya hingga ujung jarinya hampir menyentuh lantai. Aku hanya memperhatikan kepergiannya.

Ya ampun. Ternyata hari ini Mang Ujang tampak perlente dibandingkan hari biasanya.  Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang. Warnanya sudah kusam, tapi mungkin itu kemeja terbagus yang dia miliki. Bawahannya celana jeans biru yang agak kebesaran, Tampak sabuk dikenakan pas badan sehingga celana yang kebesaran tertekuk miring. Minyak rambutnya begitu banyak, sangat klimis membeleber sampai ke jidat. Dan yang tak dapat diabaikan. Wanginya, bo…sampai jarak beberapa meter aroma wanginya masih mengelitik hidungku. Gila.. habis itu minyak wangi satu botol. Setelah Mang Ujang jauh, aku masuk untuk melanjutkan mengoreng tempe.

“Bagaimana Mbak? Udah pergi?” Tanya Vivi, yang masih tampak ketakutan. 

“Udah. Kamu tahu nggak, Vi? Kenapa dia kesini?”

“Nggak. Emang kenapa?” Tanya Vivi penasaran.

“Dia ingin menemuimu.”

“Menemuiku? Dalam rangka apa?” Tanya Vivi bingung.

“Dia ingin bilang….mbak Vivi, semalam kita berehem ehem, ya?”

“Berehem-ehem apa, mbak? Aku kok bingung.” 

“Semalam kan hujan lebat? Udara terasa dingin….Mang Ujang ambil koleksi celdamnya, dia pilih yang punya kamu, lalu dia berhalusinasinasi sambil mengelus-elus celdam kamu, terus… terus dan akhirnya dia tertidur. Dalam mimpinya dia berlari berkejar-kejaran denganmu di sebuah taman yang indah….” Bicaraku kubuat seperti deklamasi dengan penghayatan yang sangat tinggi.

“Maksud mbak, yang mencuri celdam-celdam itu, Mang Ujang?” Tanya Vivi penasaran.

“Menurut prediksiku, begitu.Sembilan puluh Sembilan persen.” Jawabku meyakinkan.

“Hii…..takut.” Vivi kelihatan bergidik.

“Makanya, Vi….tadi pagi dia bangun tidur langsung  mandi dan dandan seperlente mungkin dan begitu wanginya, untuk menemui pujaan hatinya.” Kataku seperti deklamasi.”Makanya….jangan suka menjemur celdam sampai berhari-hari.”

Wajah Vivi terlihat ketakutan dan bingung. Bagus! Semoga kejadian ini dapat menghilangkan kebiasaan antik Vivi, yang tidak sedap dilihat mata.

Hilangnya celdam-celdam itu akhirnya sampai juga ke seluruh penghuni kontrakan termasuk yang lelaki. Parjo sengaja datang ke kontrakanku untuk membicarakan hal itu. Aku katakan padanya, bahwa aku merasa yang melakukan itu, Mang Ujang. Parjo tak percaya, tapi setelah kujelaskan bahwa itu kelainan sex, juga kujelaskan alasan-alasanku, Parjo dapat menerima hal itu. Bahkan dia bersedia berkunjung ke rumah Mang Ujang, dengan tujuan dapat masuk ke kamarnya untuk menyelidikinya. 

Beberapa hari kemudian Parjo melaporkan kalau dugaanku benar. Dalam kamar Mang Ujang, dibawah kasur dan dibawah bantal terdapat banyak celdam. Tapi walau begitu, kami berdua memutuskan untuk diam, pura-pura tidak tahu. Memangnya apa yang dapat kami lakukan? Toh perbuatan Mang Ujang tidak merugikan orang lain secara finansial. Apa perlu dilaporkan ke pihak berwajib? Ah, kupikir itu terlalu berlebihan. Belum juga Parjo pergi, Vivi muncul dari dalam sambil membawa tas besar berisi pakaian. Dia pamit mau mengontrak bersama kelompoknya. Walau kaget, aku merelakan Vivi pindah kontrakan. Aku dan Parjo hanya saling tatap sambil angkat bahu. Pindahnya Vivi terlalu mendadak.

Beberapa hari kemudian, aku dan Retno berkunjung ke kontrakan baru Vivi. Sampai disana, aku numpang ke kamar kecil. Dan oh my God……Di kamar mandi ada dua untas tali yang dibuat jemuran. Dalam hati aku menghitung celdam itu. Ada sebelas. Gila. Banyak sekali Aku hanya geleng-geleng kepala sambil keluar dari kamar mandi. Aku ke ruang tengah, bergabung dengan Vivi  dan teman sekontrakannya. Kebetulan semua ada.

“Vi…..jemuran antikmu banyak amat?”Tanyaku heran.

“Iya Mbak, itu sama punya Rita…..”Jawab Vivi malu-malu.

“Hah?! Manusia dengan kebiasaan antic sepertimu adakelompoknya?” Aku makin heran.

Vivid an Rita Cuma tertawa malu. Yach…..kebiasaan antik itu sudah mendarah daging. Dan kedua teman yang lain tidak keberatan alias no problem. Mereka menganggap hal itu sebagai suatu kewajaran. Pantas saja mereka sangat akrab. Ternyata antar mereka saling menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Siip……..lah.

TAMAT

Catatan:
Cerpen ini adalah kisah nyata, nama tokoh dan lokasi kejadian sengaja disamarkan. 
Penulis: Ami Daria

3 Komentar untuk "Jemuran Antik dan Mang Ujang"

  1. Lah kenapa kata siapa perbuatan mang ujang ga merugikan secara finansial? Memang celdam di beli pake daun? Parahnya lagi ini udh termasuk tindak pencurian & pencabulan.. Atau jangan2 vivi sama mang ujang kerja sama

    BalasHapus
  2. Ini sih namanya pencurian & pencabulan.. Gimana bisa d bilang ga merugikan secara finansial? Orang celdam di beli pake uang gak pake daun.. Atau jgn2 si vivi sma mang ujang kerja sama?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hem.....kok jadi si Vivi yang kerja sama? mang ujang memang kelainan sex, n Vivi orangnya teledor...gitu aja.....

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel