SMS Membawa Jodohku, Cerpen Cinta Terbaru 2016

SMS Membawa Jodohku, Cerpen Cinta Terbaru 2016, cerpen cinta,cerpen singkat,cerpen persahabatan,cerpen cinta romantis,cerpen cinta terlarang,cerpen jatuh cinta,cerpen jomblo,cerpen kisah cinta,cerpen kisah nyata,cerpen kehidupan sehari hari,cerpen menarik, Planet Cerpen

PlanetCerpen.com - Menduda selama lima tahun kadang membuatku kesepian. Tapi untuk mencari penganti almarhum istriku terasa sulit. Sebagai guru SMP yang sudah PNS ditunjang wajah ganteng, kata teman-teman lho…..masih kata teman-teman, terasa aneh kalau aku belum juga mendapatkan istri lagi. Teman-teman guru sering menjodoh-jodohkanku dengan guru-guru putri yang masih sigle. Tapi aku hanya tersenyum. Ini kan masalah hati. Kalau hatiku merasa tidak sreg, bagaimana akan menjalaninya? Kebetulan di sekolahku ada empat guru yang masih single, dan kebetulan juga mereka terhitung cantik-cantik. Tapi aku kok sama sekali tidak tertarik pada mereka. Tapi seandainya aku tertarik, apa mereka mau denganku? Usia mereka sekitar 25 tahun, lha aku, sudah 43 tahun. Selisih usia hampir 20 tahun. Apa tidak terlalu jauh? Dimata mereka aku terlihat bapak-bapak. He he….memang aku sudah bapak-bapak. Anak semata wayangku sudah kelas IX atau kelas 3 SMP. 

Entah kenapa aku jadi ingin bernostalgia dengan teman-teman akrabku waktu SMA. Hari Minggu kusempatkan mengunjungi rumah nenekku sekalian berkunjung ke rumah teman-teman. Aku dulu saat SMA tinggal di lain kota, ikut nenek dan kakek. Katanya ibu tidak sanggup menjaga aku yang bandelnya minta ampun, dan aku dipasrahkan ke kakek, pensiunan tentara, dimana kakek orangnya sangat disiplin dan juga keras. Ibu berharap dibawah bimbingan kakek, aku bisa menjadi pribadi yang disiplin. 

Sekarang setelah 24 tahun lulus SMA, yang otomatis tidak bertemu teman-teman, aku mencoba melacak mereka. Berdasarkan daya ingatku yang lupa-lupa ingat. Lebih banyak lupanya daripada ingatnya. Aku ke rumah orang tua teman akrabku, Ridwan. Dan Alhamdulillah Ridwan masih tinggal di situ. Sebagai anak bungsu,dia menempati rumah pokok. Dan aku lebih lega lagi, ternyata Ridwan menjadi suminya Laras, yang dulu juga akrab denganku. Yach…satu rumah yang kutuju, dua sahabat yang kudapat. Kami ngobrol-ngobrol dan berencana untuk mengadakan reuni. Tentunya teman-teman sudah tuwir-tuwir seperti juga diriku. Itu perubahan alami yang tak dapat dicegah oleh siapapun. Ridwan cerita tentang Kardono. Teman akrabku yang lain. Dia jadi tentara, mendapatkan istri adik kelas, sekarang tinggal di desanya sang istri. Bahkan Ridwan memberi gambaran denah rumah Kardono, lengkap dengan nama istrinya. Hanya satu yang disayangkan, Ridwan tidak punya nomor teleponnya. Sebenarnya kami mau kesana. Tapi kok sudah sore. Kalau aku nekat, nanti sampai rumah jam berapa? Akhirnya aku pulang. Ridwan berjanji untuk menemui Kardono agar dapat nomor hpnya.  

Untung tak dapat diraih malang tak dapat dicegah. Kemana-mana aku lebih suka pakai motor. Juga saat mengunjungi Ridwan. Dan….memang sudah sifatku sejak lahir, bawaan bayi. Aku itu orangnya ceroboh. Hp kukantongi di saku celana. Saat sampai rumah, kucari bermaksud untuk sms Ridwan. Tapi ternyata tidak ada. Kucari-cari di tas kecilku juga tak ada. Berarti….jatuh. Padahal di hp itulah aku menyimpan nomor hp Ridwan dan Laras. Gawat. Sia-sia deh usahaku melacak teman-teman SMA sampai ke lain kota, padahal jarak yang kutempuh satu kali perjalanan sekitar satu jam. Aku mencoba mengingat-ingat nomornya Ridwan dan Laras. 0857868889….betul apa salah, ya? Coba aku sms. Kalau tidak salah ini nomornya Laras.

“ Laras….ini nomormu, bukan? Hpku yang ada nomormu dan Ridwan hilang, jatuh. Terima kasih. Anton.” 

Kutunggu….tapi sampai lama tak dapat balasan. Mungkin nomornya keliru. Dua nomor terbelakang kubalik lalu ku sms lagi dengan tulisan yang sama. Sampai lama tak dapat balasan. Namanya juga berdasarkan daya ingatku. Bisa jadi malah salah total. Tapi aku tak akan putus asa. Aku harus bisa calling temen-teman, bagaimanapun caranya. Kucoba tiga nomor terbelakang kubalik dan ku sms lagi dengan kata-kata yang sama. Setelah menunggu sekitar satu jam akhirnya dapat balasan.

“Maaf. Aku bukan Laras. Tapi ini Anton teman SMAku apa bukan,ya? Masalah aku sedang mengalang teman-teman SMA untuk reuni.”

Lho! Kok kami satu tujuan. Jangan-jangan dia salah satu teman SMAku. Coba kubalas smsnya. Mau kupanggil apa ya, dia? Kupanggil ibu? Iya kalau dia memang perempuan dan sudah pantas dipanggil ibu. Ku panggil kamu? Iya kalau usianya dibawahku atau paling tidak seimbang. Mungkin lebih baik kupanggil anda. Anda kan maknanyaa luas. Bisa untuk laki-laki dan perempuan, tua maupun muda.
Kubalas smsnya. “Maaf…aku tidak tahu anda satu SMA denganku atau bukan. Dulu  SMAku Budi luhur 3.” Dia membalas smsku yang pada intinya, dia beda SMA denganku tapi kecamatan dan tahun kelulusan sama. Dia mengaku berjenis kelamin perempuan. Jadi kupanggil mbak. 
Setelah bersms beberapa kali, tiba-tiba dia sms. 

“Maaf, karena ternyata mas Anton, bukan teman SMAku, jadi smsnya sampai disini aja,ya? Terima kasih atas waktunya. Bye…..”

Aduh. Kenapa tiba-tiba dia ingin berhenti bersms denganku? Aku kan tak ingin berhenti sms dengannya. Walau kami beda SMA tapi kan masih satu kecamatan. Siapa tahu dia kenal teman-teman SMAku. Akhirnya kubalas. “Maaf mbak…..walau kita tidak satu SMA, tapi apa salahnya kalau kita bersilaturahmi? Menjalin pertemanan?”

Sampai malam dia tidak membalas smsku. Yach…..mungkin dia tipe orang yang tidak mau buang-buang waktu bersms dengan orang tak di kenal. Ya sudah lah….Aku juga bukan tipe orang yang suka dengan sms nyasar, jadi ya biarkan saja. Mungkin memang ini yang terbaik.

Setelah tiga hari berselang, tiba-tiba dia sms aku. “Anda yakin? Dari sms nyasar laki-laki dan perempuan bisa terjadi persahabatan? Atau anda menyebutnya pertemanan? Bukankah seseorang yang mau bersms dengan orang tak di kenal, biasanya ada maksud-maksud negatif, mengharap sesuatu yang kadang kurang etis?”

Apa ini maksudnya? Aku coba mencerna smsnya. Oh…..mungkin dia berpikir negatif, menganggap sms nyasar ini menuju ke perselingkuhan? Bukankah aku laki-laki dan dia perempuan? Bisa saja kan, ini terjadi? Tapi bukankah perselingkuhan terjadi adanya persetujuan dua belah pihak? Seandainya aku mengarah ke situ, tapi dia tidak mengarah ke situ, atau sebalikknya, perselingkuhan tidak akan pernah terjadi. Aku harus mencari kata-kata yang tepat agar dia tidak mengganggap aku mengarah ke perselingkuhan. Lama aku tidak membalas sms itu. Tapi kenapa juga aku dibuat pusing oleh smsnya? Entahlah….aku jadi ingin mengenal dia lebih jauh. Yang jelas, dari smsnya aku dapat menyimpulkan kalau dia wanita yang punya harga diri tinggi. Bukan tipe wanita yang suka selingkuh. Bagus.

Setelah berpikir lama akhirnya aku balas smsnya. “Aku paham maksud mbak….tapi maaf. Aku bukan tipe seperti itu. Aku masih menjaga norma-norma dan juga menghargai orang lain. Sebenarnya aku juga punya maksud yang sama dengan mbak….ingin mengadakan reuni SMA, dan kebetulan juga SMA kita satu kecamatan, kelulusan kita juga dalam tahun yang sama. Usia kita sebaya. Jadi siapa tahu mbak kenal temen-temen SMAku. Semenjak hpku hilang, aku kehilangan kontak dengan teman-teman SMA, yang sudah berhasil kuhubungi. Padahal aku harus menempuh waktu sekitar 1 jam untuk menemui teman-teman SMA. Bolak balik aku menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Jadi terus terang harapanku hanya pada mbak…kecuali kalau aku ada waktu untuk  mengunjungi temen-teman lagi.”

Selang dua jam dia membalas smsku.“Harapan yang bagaimana maksudnya? Aku bukan pencari jejak, yang mencari jejak-jejak orang yang hilang.”

Aduh! Ternyata aku salah merangkai kata-kata. Benar yang dia tulis. Harapan yang bagaimana maksudnya? Bagaimana ini? Aku terjebak oleh kata-kataku sendiri. Aku harus lebih berhati-hati lagi dalam merangkai kata-kata, agar tidak terkesan mau memperalat dia.  

Setelah aku buat coret-coretan agar kata-kataku tidak menimbulkan kesan yang negatif, aku membalas sms itu. Tapi sebelum sms itu kukirim, aku baca berulang-ulang. “Maaf mbak….kalau smsku terkesan negatif. Demi Allah aku tidak pernah bermaksud negatif. Aku mempercayai adanya hukum karma. Kalau kita berniat buruk terhadap orang lain, maka hal buruk itu bisa menimpa diri sendiri. Jadi aku tegaskan, bahwa aku sama sekali tidak pernah punya niat buruk/jahat terhadap mbak….Tapi kalau mbak berpikir kearah itu, tidak apa-apa. Itu hak mbak. Siapapun tak dapat mencegahnya. Terima kasih.” Harap-harap cemas aku menunggu balasannya. Tapi sampai dua hari tidak ada balasan sama sekali. Tak sabar aku menunggu, rasanya aku ingin memaksa dia agar cepat-cepat membalas smsku. Tapi bagaaimana caranya? Mungkin kalau  berpikir negatif. Kesannya aku menganggap dia materalistis. Jadi kubiarkan saja. Apa yang akan terjadi terjadilah. Kalau dia tidak membalas smsku alamat kami putus. Maksudnya putus pertemanan. Istilah ini kurasa lebih pas. Daripada kusebut persahabatan. Masalahnya kami tidak saling kenal. Bagaimana bisa disebut sahabat?

Sudah larut malam. Aku sudah tertidur, aku terbangun oleh suara hpku. Ternyata ada sms masuk.Wouw dari dia….kubaca smsnya. “Memang kalau kita tidak saling kenal, bagaimana kita bisa menilai baik buruknya seseorang. Rasanya tidak adil kalau aku langsung memvonis hal yang negatif  pada mas Anton.  Jarang, bukan berarti tidak ada. Jarang terjadi sms nyasar antara dua orang berlain jenis menjadi dua teman, atau menurut kamu pertemanan. Tapi bukan berarti itu tidak mungkin. Bukankah dalam hidup ini penuh dengan segala kemungkinan. Baiklah tidak ada salahnya memberi kesempatan pada niat baik seseorang. Bukankah hukum karma masih berlaku. Jadi niat baik atau buruk pada seseorang, akan menimpa diri sendiri.”

Wah….dia  membahas hukum karma yang aku jadikan senjata untuk menangkis kecurigaaannya. Enak juga bahasanya. Bagus juga. Rasa-rasanya aku jatuh cinta pada kelihaiannya dalam berbahasa. Hist! Belum apa-apa sudah membayangkan yang tidak-tidak. Dari kelihaiannya berbahasa. Aku membayangkan dia cantik, cerdas dan tipe setia. Bicara tentang setia, bagaimana aku bisa menyimpulkan seperti itu? Bukankah aku tidak tahu keadaan dia yang sebenarnya? Sudah bersuami apa belum? Kerjanya apa? Dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Tapi kalau aku menanyakan hal yang mendetail tentang dia, marah apa tidak? Ah, perduli amat. Daripada penasaran lebih baik aku tanyakan. Bukankah untuk menjalin pertemanan kita harus saling mengenal secara lebih mendalam? 

Ternyata dia mau mengungkapkan data-data dirinya. Aku jadi tahu kalau dia seorang guru SD dengan dua orang putrid, usia 12 tahun dan 7 tahun.  Suaminya pedagang.  Guru SD. Tapi dalam berbahasa profesional sekali, aku sebagai guru SMP merasa kalah jauh dalam berbahasa. Bisa saja itu terjadi, kan? Guru SD bukan berarti punya kemampuan dibawah guru SMP. Tapi sebenarnya aku kurang adil pada dia. Aku ingin tahu tentang dia secara lebih mendetail, tapi aku tidak memberikan informasi mengenai diriku secara jujur. Aku tidak mengaku guru SMP, aku juga tidak mengaku duda. Kalau aku mengaku itu semua, takutnya dia menganggapku bohong. Masa sama-sama guru? Apalagi kalau aku cerita, bahwa aku duda. Jangan-jangan dia memutus smsnya. Menganggap aku duren, duda keren sedang mencari pasangan. Jangan-jangan menganggap aku mengajak ke perselingkuhan. 

Ah….kadang-kadang kejujuran belum tentu membawa kebaikan. Jadi dalam smsku, kukatakan kalau aku ayah dari satu anak, punya satu istri, pekerjaanku, buruh harian. Hem…..kita lihat. Apakah dia mau berteman dengan buruh harian seperti diriku?

Ternyata bahasa dia tetap sopan, dan terkesan menghormatiku, walau cuma  sebagai buruh harian. Kata-kata   dalam sms yang sampai sekarang kusimpan. “Apalah artinya status sosial? Itu hanya masalah tugas. Tugas apa yang diberikan tuhan pada kita? Guru, Polisi, atau buruh harian. Semua sama di mata tuhan. Kenapa juga dalam pertemanan harus ada syarat-syarat status sosial? Lagipula apakah ada undang-undang yang mengatur/mengatakan bahwa buruh harian status sosialnya dibawah guru? Tapi sudahlah. Kita tak usah membahas hal yang tidak terlalu penting ini. Yang penting niat yang baik untuk menjalin pertemanan. Oke?” Gila. Bahasanya indah sekali. Kok bisa sampai ke istilah undang-undang dan tugas dari Tuhan segala. Tapi….benar juga kata-katanya. 

Yang masih menganjal dalam benakku. Sudah bersms kurang lebih sebulan, aku belum tahu namanya. Maka ku beranikan diri untuk tanya namanya. “Mbak yang cantik….rasanya kurang sreg kalau aku belum tahu nama mbak. Bagaimana aku harus memanggil? Masa mbak mbak doang?” Lama dia tidak membalas smsku. Masa dia marah gara-gara kutanyakan namanya.

“Sory pulsa habis. Ini baru ku isi. Apalah artinya sebuah nama? Toh kita juga tidak saling kenal. Dalam arti belum pernah ketemu, tanpa tahu namaku, tetap bisa komunikasi. Apakah itu akan mempengaruhi pertemanan ini?”

Waduh. Bagaimana aku menjawabnya? Pertanyaannya gampang dan sepele, tapi jawabannya yang sulit. Kenapa dia terlihat keberatan untuk mengatakan namanya? Oh ya, aku harus terkesan rendah, sehingga dia tidak mau berkenalan denganku. Ku sms. “Baiklah….mungkin aku yang cuma buruh harian, orang rendah, terlalu lancang untuk mengetahui nama bu guru….maafkan aku.”
“He he he tidak usah terlalu membesar-besarkan masalah yang tidak penting. Dan juga jangan mengait-kaitkan hal yang tidak ada kaitannya. Lha memang tb mas Anton berapa? Masa lebih rendah dariku? Tinggiku 164 m. Ee…maksudku cm. Apa mas Anton dibawah 100 cm? Kok sama dengan ponakanku yang masih SD?”

Sial. Kok jadinya ke tinggi badan? Aku tahu kalau dia paham maksudku, Cuma dia tidak mau membahas masalah itu. Akhirnya sms kubalas dengan tawa. “He he he kok jadi salah jurusan. Masa mau ke Jakarta dari Tegal lewat Pekalongan dulu. Ya, nggak nyambung, to? Muter-muter nggak sampai-sampai.”

“He he he juga. Teman-temanku biasa memanggilku Tyas. Mungkin ini akan lebih baik buat perkembangan jiwa mas Anton. Semoga cepat sembuh, ya?”

Gila. Masa menanyakan nama dianggap orang sakit. Semoga cepat sembuh, ya….? Ada-ada saja. Selera humornya tinggi juga. Tapi biarlah. Yang penting aku sudah mendapatkan namanya. Tapi jangan-jangan itu nama palsu. Kucoba menyelidikinya. “Maaf mbak Tyas….ini nama asli atau nama palsu?”

“He he he kalau kira-kira mas Anton nggak percaya padaku, kenapa mengajukan pertanyaan yang butuh jawaban? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Atau bisa menunggu suara tokek. Tokek…benar…tokek…salah…terus sampai selesai. Atau tanyakan pada felling. Masih punya, nggak?”

Kupikir dia akan menyakinkanku bahwa jawabannya benar. Tapi malah membahas tokek. Lucu juga dia. Kubalas smsnya.“Baiklah. Aku percaya pada mbak Tyas. Maafkan aku.” 
“Jangan terlalu gampang minta maaf untuk hal yang bukan suatu kesalahan. Kesannya terlalu mengiba-iba. Terlalu mengasihani diri sendiri”

Waduh. Salah kata-kata lagi.     

Aku tinggal mencari akal agar tahu ciri-cirinya. Tinggi 164 cm. Tapi dia masuk kategori   gemuk atau kurus? Tapi apa pentingnya? Toh kami Cuma berteman? Apakah hal itu akan berpengaruh? Walau secara langsung tidak berpengaruh, aku tetap penasaran. Walaupun cuma berteman, kalau dia cantik, mungkin lebih enjoy. Ya….seperti kalau aku memandang teman-teman guru. Walaupun sekedar memandang tanpa maksud memiliki, aku lebih senang memandang yang cantik dan pantas dalam berbusana.        

“Hallo mbak yang cantik…..bagaimana kabarnya? Sudah banyakkah teman-teman SMA yang terlacak?” Aku tanyakan hal itu. Karena aku tahu, dia dan sahabatnya melacak teman-teman SMA. Biasanya itu yang melacak laki-laki, ini kok dua wanita? Dia dan sahabatnya.
“Lumayan.”

Jawabannya singkat sekali? Sampai beberapa hari aku tidak berani sms. Tapi akhirnya aku merasa kesepian. Aku ingin dapat sms dari dia. Jadi aku bersms lagi. Bertegur sapa dengan pembukaan smsnya Assalamu’alaikum….dan dia membalas salam itu secara agama juga. Setelah itu jalinan sms diantara kami berjalan lancaar. Bahasa bahasa kami sopan. Aku tetap menjaga kesopanan kata-kata diantara kami. , 

Suatu ketika mbak Tyas cerita kalau dia mau melacak teman SMA pada suatu desa. Dan menanyakan siapa tahu ada teman SMAku yang sedesa dengan temannya itu. Aku jadi teringat Kardono, teman SMAku yang beristri orang sana dan punya rumah disana. Aku katakan Kardono itu tentara, tugasnya di koramil kecamatan. Dia berjanji untuk mencari Kardono. Selang sehari kemudian, suatu siang mbak Tyas sms. Memberikan nomor hp, yang katanya punyanya Kardono. Aku kaget. Ternyata dia benar-benar memenuhi janjinya. 

“Terima kasih sekali, mbak….berkat kebaikan mbak…aku bisa ngobrol dengan sahabatku.”
“Sama-sama.”
 “Kok mbak Tyas mengatakan sama-sama. Memangnya aku pernah membantu mbak, apa?”
“He he he mungkin saat ini mas Anton merasa belum pernah membantuku. Tapi suatu saat nanti, entah dalam bidang apa, aku akan membutuhkan bantuan mas Anton. Bukankah tiap orang punya kelebihan masing-masing?”

Benar juga apa yang dia katakan. Setelah bersms jalan dua bulan. Aku dapat menyimpulkan kalau dia cerdas dan sangat pandai merangkai kata-kata. Rasa-rasanya aku jatuh cinta pada smsnya. Aku jatuh cinta pada orang yang tidak pernah ketemu. Wajahnya seperti apa? Dan bagaimana tabiatnya. Tapi dari .hasil sms selama ini aku dapat menyimpulkan kalau dia masuk kategori orang baik. Tentunya juga cantik orangnya. Dalam smsnya dia pernah menuliskan kalau berat badannya 58 kg, dan aku masih ingat kalau tingginya 164 cm Berarti masuk kategori langsing. Semenjak itu sms kami bergulir layaknya dua orang sahabat. Saat reuni tiba, dia menceritakan kekecewaannya karena yang datang ke acara reuni tidak ada separo dari jumlah orang yang berhasil dihubungi. Aku menghiburnya. Bahwa mungkin saja mereka punya kesibukan lain yang tak dapat ditinggal. Untuk aku sendiri tidak jadi reuni. Karena aku tinggal di kota lain, dan Kardono, dalam pembicaraannya lewat hp, terlihat tidak berminat untuk reuni.

Suatu saat Tyas. Sms, katanya ada kumpulan guru-guru SD di kotaku. Dia minta aku untuk menemuinya. Tapi aku tak berani. Aku takut jatuh cinta pada istri orang. Aku takut jatuh cinta pada  Tyas. Cinta terlarang. Jadi aku beralasan kalau aku sedang ada di luar kota. Dari smsnya terlihat kalau dia sangat kecewa.

Sekitar dua minggu kemudian, Tyas sms lagi. Katanya dia ada di kotaku karena suatu hal. Aku tahu maksud pemberitahuannya.Kubalas smsnya “Sebenarnya aku ingin menemui mbak Tyas, mumpung ada disini. Tapi bagaimana caraku kesana? Motorku sedang di bengkel.”

“Jangan dibuat masalah. Nggak apa-apa kok. Mungkin bisa kapan-kapan. Lagian aku sudah selesai, mau pulang. Bye……”

Wah….dia mau pulang. Lega deh hatiku. Ku sms lagi. “Wah….padahal aku mau nyamperin ke sana, kok udah mau pulang? Takut ya….?Ya sudah ya nduk…..hati-hati di jalan….”
“Iya. Aku  juga takut ketemu preman.”
Waduh. Kok dia menyebutku preman? Bagaimana logikanya? Ku balas lagi smsnya. “Kok aku disebut preman? Bagaimana ceritanya?”
“Lha gimana lagi? Berjuta-juta alasan untuk……Lagian, katanya motornya masih di bengkel? Aku disuruh menunggu? Ya sama aja dengan menunggu ayam blorok bertelur. Menunggu untuk waktu yang tak terbatas.”
Iih……bahasanya lihai banget. Aku jadi gemes. Ku balas.”Ya….betul juga. Wouw! Iiiihhh…..eemmmmm……”

Dia tidak membalas smsku. Kutunggu sampai beberapa hari, dia tidak sms juga.Semenjak itu acara smsan diantara aku dan  Tyas terputus.  Aku mencoba sms dia. Tapi sampai beberapa kali sms, tidak pernah dibalas. Ada apa ini? Apa Tyas marah dan kecewa karena aku tak dapat datang menemuinya?Atau terjadi sesuatu pada dia? Jauh dilubuk hatiku, aku merasakan khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya. Tapi…semoga saja kekhawatiranku tidak terjadi. Aku berdo’a agar tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya. Aku mencoba lagi menghubungi lewat sms tapi tidak pernah dapat jawaban. Akhirnya aku nekat menelepon dia, tapi tidak diangkat. Ada apakah gerangan? Sebegitu marahkah dia padaku?

Lima bulan telah berlalu. Tiba-tiba dia sms, memberi kabar kalau suaminya meninggal sekitar lima bulan yang lalu. Jadi dia tidak pernah membalas smsku karena sedang berkabung? Saat itu aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Datang bersama sahabatku, Ahmad, yang guru ngaji dan sedikit-sedikit punya indra keenam. Dia dapat membaca tabiat seseorang hanya dengan menatap wajahnya.

Dengan mengendarai mobil, yang disetir Ahmad, kami melaju ke kota tempat tinggal Tyas. Aku masih ingat nama desa tempat tinggalnya. Setelah bertanya-tanya, akhirnya aku sampai pada rumah besar model spanyolan. Aku dan Ahmad mengetuk pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Tapi sampai lama, tidak juga dapat jawaban dari tuan rumah. Aku dan Ahmad hanya bisa saling pandang, tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Masa kami nekat masuk rumah? 

Saat kami sedang kebingungan, kami mendengar suara perempuan menyanyi sambil memetik gi   tar. Tanpa rundingan lebih dahulu, kami melangkah mencari arah nyanyian itu. Tampak seorang wanita sedang duduk di teras rumah yang berhadapan dengan rumah yang kutuju, bersandar tiang sambil menyanyi dan memetik gitar. Gila. Hebat juga perempuan ini. Dia jago main gitar dan bernyanyi. Keadaan dua rumah ini sangat kontras. Rumah yang kutuju besar tapi tidak indah. Belum pakai keramik, masih lantai biasa. Sedangkan rumah perempuan yang jago main gitar itu, kecil tapi indah dan bersih. Taman kecil yang dipenuhi bunga warna-warni ada disamping teras. 

“Assalamu’alaikum….” Aku mengucapkan salam.

“Wa’alaikum salam….” Dia menghentikan petikan gitarnya dan menatapku tajam.
Cantik nian perempuan ini. Pujiku dalam hati. Tinggi semampai, kuning langsat, dan dagunya terbelah. Untuk beberapa saat kami saling tatap.

“Maaf numpang tanya. Apa betul itu rumah bu Tyas?” Tanya Ahmad, sambil menunjuk rumah besar itu.

“Maaf. Bapak berdua mau mencari rumahnya bu Tyas?” Tanyanya.

“Iya. Bu Tyas yang guru SD.” Jawabku tanpa mengalihkan tatapan dari wajahnya.

“Ee…kalau boleh tahu, bapak berdua apanya bu Tyas?” Tanyanya terlihat kikuk.

Untuk beberapa saat aku dan Ahmad tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Iya, ya….kami apanya? Mau dibilang teman…kami tidak pernah bertemu. Tapi kok smsan, ya…..?

“Saya Anton. Sahabatnya bu Tyas.” Jawabku sekenanya. Saya dengar kabar kalau suami bu Tyas meninggal, dan kami berdua turut berduka.

Untuk beberapa saat wanita cantik itu menatapku tajam sampai akhirnya tersenyum lebar.

“Ini mas Anton? Teman smsku? Aku Tyas.” Dia mengulurkan tangannya.

“Oh…ini mbak Tyas?” Kami bersalaman.
“Silahkan masuk.” 

Kami masuk ke rumah indah itu. Dalam ruangan, Tyas menatapku lama. Saat aku balas menatapnya, dia tersenyum manis. Tebakanku betul. Kalau Tyas wanita yang cantik. Katanya usianya sebaya denganku. Tapi perasaan dia jauh lebih muda bila dibandingkan aku. 

“Maaf. Aku tinggal sebentar.” Tyas masuk sambil membawa gitarnya. Mungkin akan membuatkan kami minuman. Uh. gr sekali.

“Dia cantik luar dan dalam.” Kata Ahmad sambil menepuk pahaku. “Kamu duda dan dia janda. Klop, kan? Tampan dan cantik. He he.”

“Semprul kamu!”

“Semprul apanya? Bisa saja, kan itu terjadi? Awas jangan sampai lepas.”

Aku tidak jadi menjawab perkataan Ahmad, keburu Tyas datang sambil membawa minuman. Tyas meletakkan minuman dan cemilan di atas meja dan mempersilahkan kami minum.Dia menatapku tajam. Dan saat kubalas tatapannya. Dia tersenyum malu.Aduh….manisnya……

“Aku merasa aneh. Kok kita bisa ketemu beneran, ya?”

“Iya. Memang aku bertekad untuk menemui mbak Tyas.”

“Kenapa bertekad?” Tanyanya heran.

“Itulah mbak….arti persahabatan. Bila sahabat terkena musibah, kita wajib menjenguknya.” Ahmad yang menjawab.

“Oh ya, terima kasih, atas kedatangan mas Anton dan….”

“Ahmad.” Jawab Ahmad mantap

menyerahkan buah tangan yang sengaja kubawa dari rumah, kami berpamitan, dan berjanji untuk tetap berhubungan layaknya sahabat sampai tua dalam suka dan duka.

Dalam perjalanan pulang, Ahmad menyinggung tentang Tyas. “Ton. Sambar saja. Jangan sampai lolos.”

“Memang gampang? Bagaimana caraku mengatakan? Nanti dia marah menganggapku melecehkannya mentang-mentang dia janda.”

“Memangnya kamu belum pernah mengatakan kalau sebenarnya kamu duda?”,  
Aku mengeleengkan kepala.

“Lha…ini masalahnya. Kamu harus cepat-cepat mengatakan kalau kamu ini duda.”

“Lho! Apa hubungannya?”

“Ya….paling tidak kalau dia tahu kalau kamu duda, dia tidak akan begitu gampangnya menerima lelaki lain. Tentunya kesempatan pertama jatuh padamu. Dia sangat cantik, lho….tentunya banyak lelaki yang ingin memperistrinya. Kamu jangan sampai keduluan….”

Benar juga kata Ahmad, tapi bagaimana cara mengungkapkannya?  Kadang aku merangkai kata demi kata. Dia dengan enaknya menjawab blak blak blak. Ah. Nanti sampai rumah, kan kuungkapkan keadaaanku yang sebenarnya. Ahmad memberi saran kira-kira kata-kata yang cocok.

Sampai dua minggu aku tidak sms Tyas. Padahal tiap malam aku terbayang-bayang senyumnya.Dan kenapa pula Tyas tidak sms aku? Aku ingin sms untuk sekedar memberitahukan bahwa sebenarnya aku duda. Tapi apakah itu pantas? Mentang-mentang dia janda, lalu aku memamerkan kedudaanku. Ada udang di balik batu, deh. Lagipula. Ada satu hal yang menganjal. Kenapa pula diakhir pertemuan aku mengatakan, akan tetap berhubungan selayaknya sahabat sampai tua dalam suka dan duka? Kalau misalnya aku melamarnya untuk menjadi istriku, berarti bukan sahabat lagi?Tapi kalau dari sahabat menjadi suami istri..berarti ada peningkataan . Tentunya itu lebih bagus daripada tidak ada peningkatan sama sekali. Cuma bagaimana caranya untuk bertanya yang menuju kearah itu? Aku berpikir keras agar dapat merangkai kata-kata yang tepat tanpa menyingung perasaannya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku menemukan kata-kata yang menurutku cukup cocok dan sopan.

“Assalamuu’alaikumn mbak Tyas yang cantik….maaf sebelumnya. Mbak kan sangat cantik dan masih muda. Sepeninggalan suami, apakah mbak ada niat untuk menikah lagi? Maaf loh…. Mungkin sms ini terlalu lancang.”

 Tapi aku harus menanyakan hal itu. Agar aku bisa kuda-kuda dalam mewujudkan keinginanku untuk memiliki dia. Hanya satu tekadku. Tyas jangan sampai lepas dari genggamanku.

Kurang lebih satu jam kemudian, dia membalas smsku. “Sampai detik ini aku belum berpikir untuk mencari penganti almarhum suamiku. Tapi….kenapa pula mas Anton menanyakan hal itu? Dan kenapa pula harus buru-buru? Memangnya sudah mau kiamat?”

“He he he kok membahas kiamat? Apa ada pengaruhnya?”
“Ya….siapa tahu mau kiamat, jadi kan nggak ada waktu untuk menikah…? Tapi…kenapa mas Anton menanyakan hal itu? Aku curiga deh. Jangan….jangan….”

“Mungkin lebih baik kalau kita bertemu langsung mbak. Lewat sms kurang enak. Kapan kira-kira mbak ada waktu untuk sekedar ngobrol denganku? Kalau boleh aku ingin berkunjung ke rumah mbak lagi.”

“Besok jam 9 aku ada kumpulan di kota mas. Mungkin lebih baik besok aja. Habis kumpulan. Tapi pertemuan ini nggak mengarah ke hal-hal yang negative, kan?”

“Insya Allah nggak mbak. Tenang aja. Oke. Kutunggu besok. Terima kasih.”

Keesokan harinya kami jadi bertemu. Habis kumpulan dia memberitahu tempatnya dan aku langsung izin KS dan menemuinya. Dia kuajak makan-makan. Saat makan dia sering mencuri-curi pandang padaku. Dan tiap kali aku balas menatapnya, dia tersenyum manis. Aku tidak tahu makna senyumannya. Yang jelas senyum itu sangat manis. Aku menunggu Tyas membuka pembicaraan. Tapi sampai lama Tyas tidak membuka pembicaraan. Berarti aku yang harus memulai pembicaraan. Bukankah aku yang mengajak bertemu.

“Iya mbak Tyas….kemarin aku kan ingin bertemu untuk menjawab pertanyaan mbak….” Agak kikuk aku. Tyas hanya menunggu. “Begini…..”Aku diam beberapa saat. Dan Tyas dengan sabarnya menunggu. “Kira-kira kapan mbak mau membuka hati untuk menerima lelaki lain?”

Tyas tertawa geli. “Kok kurang nyambung ya, mas? Dari begini…..kok tiba-tiba tanya itu? Aku nggak tahu. Tapi…kenapa tanya hal itu, sich? Mas Anton berminat padaku?” Tyas tersenyum mengoda.

“Kalau, iya. Bagaimana?”

“Ya…enak di lu, nggak enak di gue….”

 “Kok. He he bisa pakai istilah lu gue juga, to? Enak di aku, bagaimana?”

“Iya lah…..aku kan cuma dijadikan cadangan. Dijadikan istri kedua. Enak aja.”

“Siapa bilang, mbak mau kujadikan istri kedua?”

“Lho terus? Mau cerai sama istri yang sekarang?”

Aku diam beberapa saat, hingga aku menarik napas dalam-dalam dan mulai bicara. “Sebenarnya…sebelumnya aku minta maaf. Sebenarnya sudah lima tahun aku menduda.”

Tyas tampak sangat terkejut. Dia menatapku tajam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Lalu dia menarik napas dalam-dalam.

“Kenapa, mbak?” Aku khawatir Tyas tersinggung dengan pengakuannya yang bisa dibilang terlambat ini.

“Tidak apa-apa. Cuma aku merasa selama ini aku dibohongi mas. Dalam sms aku selalu mengatakan keadaan  yang sebenarnya. Kupikir mas juga melakukan hal yang sama….Sekarang setelah aku janda. Mas baru menungkapkan kalau sebenarnya mas duda. Atau ini juga bohong? Tapi sudahlah. Itu nggak penting buatku.”

“Tapi bagiku sangat penting. Karena……”

“Hem….jangan menyangka, janda gampangan lho……”

“Aku nggak pernah berpikir kearah itu. Cuma terus terang saja, aku sudah jatuh cinta pada mbak. Jatuh cinta pada untaian kata-kata mbak selama ini. Tapi selama ini aku menyadari nggak mungkin merayu istri orang.”

“Dan  mumpung aku janda, jadi saatnya untuk melancarkan rayuan gombal? Mas pikir aku percaya? Aku curiga, jangan-jangan ini cuma siasat. Sudahlah…aku nggak mau buang-buang waktu. Permisi” Tyas berjalan cepat meninggalkanku.

“Mbak! Tunggu…..” Aku berusaha mencegahnya. Tapi Tyas tetap pergi meninggalkanku. Aku membayar makanannya dan pergi juga. Gagal total. Sama sekali aku tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Aku menghanyalkan Tyas akan tersenyum manis dan menjawab iya
mas….kebetulan sekali. Aku janda dan mas duda, kita klop deh. Tapi ternyata jauh….jauh sekali.

Tapi walau begitu, aku tetap sms Tyas. Tapi berkali-kali aku sms, Tyas tidak pernah menjawabnya. Padahal dalam sms aku sering mengunkapkan penyesalan, tidak jujur dari awal sms. Tapi tetap saja dia tak mau balas smsku. Sudahlah….mau bagaimana lagi? Aku berpikir telah bertemu dengan wanita yang menawan hatiku. Tapi ternyata wanita itu tidak tertarik padaku. Bahkan sangat marah padaku.

Tiga tahun telah berlalu…..aku putus hubungan dengan Tyas. Tapi aku sama sekali tidak bisa melupakannya. Walau smsku tidak pernah dibalas, aku tetap sms paling tidak seminggu tiga kali. Hatiku benar-benar sudah terpaut padanya. Dan sampai kapanpun aku tak bisa pindah ke lain hati.
Aku makan di SeaFood, tempat favoritku. Baru saja aku mau makan pesananku, aku mendengar dua orang, laki-laki dan wanita, yang duduk membelakangiku, bertengkar. Yang laki-laki tampak emosi dan sangat marah. Yang wanita hanya duduk, diam.

Aku menangkap kata-kata lelaki itu. “Kamu itu terlalu jual mahal. Aku kurang apa, coba? Sudah lama aku menunggumu. Tapi kamu tetap tak mau.

Disini aku dapat menangkap makna kata-kata itu. Cinta lelaki itu ditolak oleh wanita itu. Untung saja tempatnya sepi. Jadi tidak ada yang melihat pertengkaran ini, kecuali aku dan penjualnya. Tampaknya penjualnya tidak mau ikut-ikutan. Aku juga tidak berani mencampuri urusan mereka.

“Maaf pak….saya menghargai bapak sebagai atasan saya. Tapi saya tidak mau menjalani apa yang bapak inginkan.” Wanita itu angkat bicara.

“Kamu ingin aku menceraikan istriku? Oke. Hari ini juga aku akan menceraikan dia. Dan kamu akan menjadi istriku satu-satunya.” Kata laki-laki itu.

“Maaf pak. Terlepas dari bapak punya istri atau tidak? Aku tetap tidak berminat menjadi istri bapak. Aku hanya menghargai bapak sebagai atasanku.Tidak lebih. Permisi.” Wanita itu berdiri.
Tapi dengan kasarnya lelaki itu menarik tangan wanita itu hingga duduk kembali. “Kamu jangan mempermainkan perasaanku!”

Aku sudah tidak tahan melihat kejadian ini. Lelaki hidung belang ini ingin memaksakan kehendak pada wanita ini. Aku mendekati mereka.“Maaf sebelumnya pak….bukan aku ikut campur  masalah ini tapi…” Belum selesai aku bicara, wanita itu menoleh padaku. Dan dia langsung menubrukku. 

“Mas Anton?” Kata Tyas sambil menyembunyikan wajahnya didadaku.
Aku terkejut beberapa saat. Setelah itu aku menguasai keadaan.
Lelaki itu menatapku tajam. “Siapa kamu!!”

“Aku calon suaminya Tyas.” Jawabku mantap. Kulirik Tyas tersenyum manis sambil menatap wajahku. Kepalanya masih tetap bersandar didadaku. Lelaki itu melangkah pergi sambil ngedumel tak karuan.

“Kamu nggak apa-apa?” Aku mengangkat dagunya.  Kami saling tatap. Tyas hanya mengeleng sambil tersenyum manis. “Iiihh….tiga taahun nggak ketemu kok sekarang cantik sekali….” Kupencet hidungnya. 

“Iiihh….!!” Tyas mencubit lenganku keras sekali. Ha..ha..kok jadi seperti remaja yang sedang jatuh cinta.  Sudah tuwir tuwir jatuh cinta boo….. Puber kedua, ha..ha..ha.Yang jelas hari ini aku bahagiaaaa….sekali. Aku tidak  membahas smsku yang selama ini tidak pernah dibalas. Takut merusak suasana. Tapi dia yang cerita, katanya hpnya hilang. Oalah……pantes saja……??

Kami melanjutkan makan, lalu Tyas kuantar pulang. Dan dua hari kemudian aku melamarnya. Dan……sekarang dia menjadi istriku. Karena kota kami berlainan dan kami sama-sama harus dinas. Aku tak mungkin menyuruh istriku menempati rumahku. Kasihan kan jarak tempat mengajarnya terlalu jauh. Jadi aku yang lelaki mengalah, tinggal di rumahnya.Mengenai anak semata wayangku, gampang. Sementara ini dia ikut budhenya. Nanti setelah lulus SMP, dia melanjutkan sekolah di kota ini, biar kami bisa tinggal bersama. Anakku yang laki-laki punya dua adik perempuan yang cantik-cantik seperti ibunya. Lengkaplah sudah hidupku, punya anak laki-laki dan perempuan. Mungkin sebaiknya aku minta mutasi. Tapi biarlah…..itu urusan nanti…yang penting aku akan menikmati bulan maduku dengan istri tercinta. Istri yang cantik, baik dan sangat profesional merangkai kata demi kata sehingga membuatku klepek-klepek walau saat itu belum pernah melihat wajahnya. He..he..he..

                                                                  SELESAI



Belum ada Komentar untuk "SMS Membawa Jodohku, Cerpen Cinta Terbaru 2016"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel