Jago Gertak (Sebuah Cerpen) By Ami Daria

Cerpen Ami Daria, Kumpulan Cerpen, Cerpen dari Kisah nyata, Cerpen Terbaru 2016, Karya Ami Daria, Planet cerpen, kumpulan cerpen-cerpen terbaik indonesia 2016, cerpen remaja, cerpen wanita, cerpen tentang cinta, cerpen kehidupan, cerpen mengharukan, sastra, karya sastra, pemilik cerpen, bagaimana cara menulis cerpen yang baik, tips menulis cerpen, tips jadi penulis, menulis cerpen itu gampang, jago cerpen, sebuah cerpen kehidupan

PlanetCerpen.Com - Aku  ingin mandiri dalam arti, bisa mencari uang sendiri untuk keperluan sehari-hari juga memenuhi kebutuhan makanku. Jadi uang dari orang tua khusus buat bayar kost dan kuliah. Sebagai anak kuliah yang kost, jauh  dari orang tua, kadang ada kebutuhan-kebutuhan kecil yang mendadak, yang kadang tidak terpikir sebelumnya. Dan untuk memenuhi hal itu aku ingin kerja sambilan. 


Teman kostku menyarankan agar kuliahku pindah malam, dan siangnya aku dapat bekerja. Tapi aku tidak sependapat dengan ide itu. Aku paling anti kalau malam-malam keluyuran di luar rumah. Takut. Kalau melihat berita di TV, sering kali kejahatan atau pelecehan pada perempuan, terjadi di malam hari.


Teman kostku yang lain lagi, Rina, cerita kalau saudaranya kerja di lapangan golf. Dia cerita ada yang kerjanya part time, cuma Sabtu dan Minggu. Wah….kalau yang itu aku tetarik sekali. Akhirnya aku diantar Rina, menemui saudaranya. Dan kebetulan sekali, kata saudaranya Rina, disana masih ada lowongan.


Keesokan harinya aku melamar ke perusahaan itu, perusahaan di bidang lapangan golf. Aku melamar sebagai caddy. Waktu itu ada Sembilan orang. Kami di tes fisik dengan cara lari keliling lapangan golf. Waduh! Jauh juga. Untung saja aku biasa lari pagi, jadi aku tidak terlalu ngos-ngosan. Ada yang pingsan. Otomatis dia gagal di tes babak  awal. Kami berdelapan lolos tes. Dan mulai minggu depan ditraining. 


Satu minggu kemudian, kami ada 32 orang, semuanya perempuan, ditraining oleh seorang caddy kami selama training baik secara teori maupun praktek di lapangan.


Ruangan tempat caddy berkumpul dan melakukan segala aktivitas dinamakan Caddy House. Tempat para caddy menunggu pemain/player dinamakan Stand-by. Caddy tidak dapat memilih player yang akan dibawa. Semua diatur berdasarkan urutan absen.


Alat pemukul bola golf disebut stik. Untuk stik no 1 dan no.2 biasanya terbuat dari kayu, disebut wood. Untuk stik no 4-12 terbuat dari besi dan biasa disebut aren. 


Tiap lapangan ada aturan banyaknya pukulan, yang dinamakan par. Dan bila player dapat memukul sesuai aturannya mainnya disebut par. Jika pukulannya lebih satu dinamakan bogie, lebih dua dinamakan double bogie. Jika kurang, dinamakan berdi.  Di lapangan golf ada cekungan yang isinya pasir, itu dinamakan bangker. Lalu lapangan bundar yang rumputnya lebih pendek dan ditengahnya ada lubang hol,  itu namanya green. Saat player memasuki green, maka tiang bendera diangkat, dan player memukul bolanya pelan agar masuk lubang hol.


Agar bola lebih cepat maka saat mau memasukan bola ke hol, harus dibaca kemiringan tanahnya, atau disebut break. Dan masih banyak istilah-istilah serta aturan-aturan dalam bermain golf, yang diajarkan caddy master penuh kesabaran.


Sudah tiga bulan aku bekerja di lapangan golf sebagai Caddy. Aku bekerja part time, yaitu hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Hari Senin sampai Jumat aku kuliah. Sekarang tempat kerjaku membuka lowongan lagi. Membutuhkan caddy sekitar 40 orang lagi. Setelah melalui seleksi, akhirnya diterimalah 37 orang yang lolos, dan mereka mulai ditraining. 


Ada salah satu  yang menarik perhatianku. Aku curiga, dari ciri-cirinya juga suaranya dia sangat mirip dengan laki-laki, padahal Caddy master pernah bilang, bahwa caddy disini semua perempuan, lalu kenapa  laki-laki itu diterima disini? Dan satu hal lagi, sifatnya itu sangatlah sombong. Kalau bicara selalu sambil tolak pinggang dan nadanya membentak-bentak.


Aku tak dapat menahan rasa penasaran pada si ‘lelaki’ itu. Akhirnya aku ke ruang caddy master untuk menanyakan hal itu.


“Permisi mbak Erni, aku mau Tanya.” Kataku sambil berdiri di tengah pintu.


“Ada apa, Intan?” Caddy master menengok tanpa berdiri dari duduknya.


“Kata mbak Erni, caddy disini semua cewek, lalu kenaapa cowok juga diterima disini?”


“Cowok?! Disini nggak ada cowoknya.”


“Lha itu?! Itu cowok, kan?” Aku menunjuk ke tempat stand-by.


“Yang mana?” mbak Erni berjalan mendekatiku.


“Itu lho, mbak. Caddy baru yang pakai baju kotak bawahan celana jeans…”


Tanpa menjawab mbak Erni tertawa geli sambil memegangi perutnya.


“Itu cewek….Intan…” Kata mbak Erni masih sambil tertawa.


“Cewek?! Kok nggak punya buah dada?!” Tanyaku heran.


Memang untuk ukuran cewek, dada dia terlalu rata, sudah itu potongan rambutnya terlalu pandek dan wajahnya itu, tak ada lembut-lembutnya sama sekali.


“Tapi itu memang cewek, wong di KTP juga nama cewek.” Mbak Erni sudah mengendalikan tawanya.


“Mbak Erni yakin? Mbak udah periksa alat kelaminnya?” Aku masih penasaran.


“Hust! Masa sampai memeriksa alat kelaminnya. Ya nggak boleh, lah……” Kata mbak Erni ,tawanya pecah lagi.


Asisten caddy master, Lisa, keluar ruangan dan ikut tertawa.


“Intan itu lucu. Wong cewek kok dibilang cowok.” Kata Lisa ikut nimbrung.


“Tapi kok….nggak ada ciri-ciri yang mengarah ke cewek, ya? Mbak Lisa yakin, kalau dia memang cewek?”


“Yakin. Kami berdua sangat yakin.” Jawab mbak Lisa mantap.


“Namanya bagus sekali lho….Kusuma Dewi Arumningtyas.” Kata mbak Erni sambil mengingat-ingat.


“Jangan-jangan KTP palsu mbak…siapa tahu namanya Paijo atau Dulgani atau apalah….” Aku masih ragu.


“Ya udah….kalau kamu ragu. Ajak aja dia ke kamar mandi dan periksa alat kelaminnya.” Kata mbak Erni.


“Ih! Mbak Erni porno. Nama panggilan dia apa, mbak?” Tanyaku lagi.


“Dewi.”Jawab mbak Erni.


“Kusuma Dewi Arumningtyas. Kalau dengar namanya, aku membayangkan cewek cantik jelita, tinggi semampai, kulit kuning langsat dan anggun. Lha  ini?!”


Mbak Erni dan mbak Lisa Cuma tertawa sambil melangkah masuk ke ruang caddy master.


Aku sedang makan di kantin, ketika Dewi datang sambil membawa nasi dan minum lalu duduk disebelahku.


“Makan, mbak….”Kata Dewi


“Iya. Terima kasih. Kamu sendirian?” Tanyaku.


“Iya. Nggak deng…ini bareng lu….”Kata Dewi sambil tersenyum.


Setelah itu kami saling diam, makan sampai habis.


“Lu orang mana, mbak?” Tanya Dewi sambil mengangkat minuman.


“Jawa Tengah, tepatnya Pekalongan. Lha kamu sendiri?” Tanyaku.


“Gue orang Jakarta asli.” Jawab Dewi dengan suara medok.


Dalam hati aku tertawa geli. Orang Jakarta asli kok bahasanya medok sekali….


“Maksudnya lahir dan besar di Jakarta?” Aku penasaran.


“Ya, nggak….KTP gue KTP Jakarta, jadi gue orang Jakarta asli, kan?”


“Oh…begitu? Kalau begitu bukan orang Jakarta asli…..Cuma KTPnya doing yang Jakarta…”


“Ya..nggak….tetep aja gue orang Jakarta asli!” Kata Dewi ngotot.


“Iya. Iya. Kamu betul.”Kataku sambil meyakinkan.


Biarin aja aku jawab begitu biar dia seneng dan, selesailah pembicaraan kami. Daripada berdebat untuk hal yang tak penting? Buang-buang energi. Selama kami bicara aku sering mencuri-curi pandang, tapi memang dia sama sekali tidak ada ciri-ciri cewek. Aneh….?


Aku dan teman-teman sedang stand-by, menunggu giliran turun lapangan. Kami semua ada 15 orang. Kalau berdasarkan absen, maka aku absen ke 14 dan Dewi absen ke 15. Jadi ada kemungkinan kami dalam satu group. Dalam satu group maximal empat orang. Setelah empat caddy membawa player, 


Dewi dan dua caddy lain datang ke tempat stand-by.

Dewi langsung menuju ke sudut ruangan, berdiri tolak pinggang di depan caddy yang duduk di situ.

“Gue pingin duduk disini. Lu pindah, nggih!”


“Itu disono kan masih ada yang kosong…”Kata caddy itu.


“Gue pinginnya duduk disini. Kalau elu nggak mau pindah, gue pukul lho!” Kata Dewi sambil mengacungkan tinju.


Caddy itu Cuma diam dan pindah ke tempat yang kosong. Aku Cuma gelen-geleng kepala. Gila! 

Sombong sekali. Sukanya main gertak. Lagaknya seperti preman.
Saat giliranku tiba, Cuma dua player, aku satu group dengan Dewi. Waduh! Aku merasa tidak nyaman. Terus terang aku kurang suka dengan tabiat Dewi. Tapi mau bagaimana lagi? Semua itu kan berdasarkan absen.

Pada hol pertama, yang merupakan par tiga, Pukulan kedua player, langsung sampai green. Dewi yang jalan di depan, buru-buru mengangkat tiang bendera dari lubang hol.


Pak Joko, playerku sedang membaca break. Dia jongkok di depan bolanya sambil memperhatikan lubang hol.


“Tan. Menurutmu, breaknya kemana?” Tanya pak Joko tampak ragu.


“Kanan tiga bola, pak.” Jaawabku mantap.


“Apa, bukan kiri?” Tanya pak Dodi, playernya Dewi.


“Bukit ada di sebelah kanan, pak. Jadi walapun kelihataannya tanahnya rendah, tapi sebenarnya lebih tinggi.” Jawabku meyakinkan.


“Oke…Aku ikut Intan.” Kata pak Joko, playerku.


Pak Joko mengikuti saranku. Pukul kanan 3 bola. Dan ternyata bola itu masuk lubang hol.


“Pinter kamu Intan!” Kata pak Joko sambil tertawa senang.


“Dew, kemana, nih?” Tanya Pak Dodi, playernya Dewi


“ kanan 1 stik.” Jawab Dewi. Tampaknya pak Dodi ragu dengan jawaban Dewi.


“Intan…Kalau menurut kamu kemana?”


“Sebentar pak.” Jawabku sambil jongkok didepan bola pak Dodi. “Kiri ½ stik.” Jawabku mantap.


“Aduh….kok berlawanan, ya. Jawabannya Dewi dan Intan.” Kata pak Dodi sambil garuk-garuk kepala.


“Ikut Intan saja…..”Kata pak Joko meyakinkan.


“Oke deh. Aku ikut Intan. Kalau salah, awas kamu Intan.” Kata pak Dodi bercanda.


Aku hanya tertawa. Dan ternyata, benar! Bola pak Dodi masuk lubang hol.


“Hebat kamu Intan. Benar-benar hebat!” Kata pak Dodi memujiku.


Aku hanya tersenyum sambil melirik Dewi. Kulihat Dewi cemberut. Dia tidak menyukai hal itu.

Sejak itu, pada hol-hol berikutnya. Baik pak Joko maupun pak Dodi selalu menanyakan break padaku. Aku perhatikan, sepertinya pak Dodi memahami kalau Dewi tidak menyukai hal itu, maka kadang-kadang pak Dodi menanyakan break pada Dewi. Tapi jawabannya sering membuat pak Dodi ragu. Dan untuk menangkis keraguannya, pak Dodi menanyakan break padaku. Dan anehnya dalam membaca break, antara aku dan Dewi sering berlawanan. Hal ini menimbulkan ketidaknyamananku pada Dewi. Tapi bagaimana lagi? Sering kali pak Dodi dan pak Joko mencoba menetralisir keadaan, tapi bagaimana lagi? Memang dalam membaca break, Dewi sering tidak tepat. Atau aku katakan lebih tegas lagi, salah he he he.

Selesai membawa player, kami masuk ruang Caddy House. Disitu ada banyak teman-teman (caddy), dengan segala aktivitasnya. Ada yang nonton TV, ada yang tiduran, ada yang makan, adaa juga yang sedang ngobrol. Aku masuk diikuti Dewi. Begitu kami ada di dalam ruang, Dewi langsung pengumuman.


“Hai dengar semua! Pengumuman! Ternyata disini ada caddy yang jago baca break!”Kata Dewi lantang, menarik perhatian teman-teman.


“Gue tahu. Pasti Intan. Kemarin gue juga dibantu Intan baca break. Makasih ya Intan….Kemarin gue lupa belum mengucapkan makasih….” Kata Mia, salah satu teman kami.


Aku hanya tersenyum. Aku tahu arah pembicaraan Dewi, dia ingin memojokanku. Tapi kenapa aku malah dapat pujian? Hem…menyimpang jauh dari rencana Dewi.


“Ah! Itu sih, kebetulan aja.”  Kata Dewi sinis. 


“Tadi memuji, kok sekarang malah bilang begitu? Kamu gimana sih, Dew?” Tanya Mia bingung.


“Siapa yang memuji? Gue Cuma ingin bilang pada kalian, bahwa Intan ingin mendapatkan pujian, cari muka sama player, dengan cara memojokkan teman….”


Wah….naga-naganya Dewi mau cari masalah. Lebih baik aku menghindar, sebelumnya masalahnya makin runyam.Aku ke kantin aja, ah….mau makan. Lapar nih…


Aku jadi makin tertarik mengamati Dewi.Selain ciri-cirinya seperti lelaki, dia juga terlalu sombong dan lagaknya seperti jagoan. Di tempat Stand-by selalu menyuruh pindah caddy yang duduk di pojok, tempat favoritnya. Di kantin selalu minta dilayani dulu tanpa memperhatikan yang antri. Di Caddy House selalu menguasai acara TV. Dimana-mana dia selalu ingin menang sendiri. Satu hal yang membuatku heran, kenapa tak ada satu caddypun yang berani melawan dia? Padahal dia kan termasuk caddy junior? 


Aku sebenarnya ingin sekali member pelajaran pada dia. Tapi kapan? Tinggal menunggu waktu yang tepat. Sebenarnya bisa saja aku melawan, saat dia menyuruh teman caddy pindah karena duduk di tempat favoritnya, saat di tempat stand-by. Atau saat dia nyerobot antrian di kantin. Tapi semua itu tak kulakukan. Aku menunggu saat berurusan langsung dengan dia. Yang membutku heran. Tiap kali melancarkan ancaman, dia selalu mengatakan, kalau nggak mau, gue pukul lu!. Selalu dengan kata-kata gue pukul, lu! Apa dia jago karate? Tapi bukankah motivasi orang latihan karate, karena untuk membela diri? Bukan untuk mengancam orang, berlagak jagoan?


Aku menuju ke tempat stand-by, menunggu giliran turun lapangan, membawa player. Ada tempat kosong, aku langsung duduk disitu. Baru saja aku duduk, Dewi muncul dan berdiri di hadapanku.

“Pindah lu. Gue mau duduk disini.” Kata Dewi sambil tolak pinggang.


“Itu disana kosong. Kamu ke sana aja,” Kataku sambil menunjuk ke tempat lain.


“Tapi gue pingin disini”  Kata Dewi sambil melotot.


“Tapi aku duduk disini lebih dulu!” Kataku tak mau kalah.


“Pokoknya gue pingin duduk disini! Kalau nggak mau pindah, gue pukul lu!” kata Dewi dengan sikap menantang.


Melihat sikapya, emosiku jadi naik ke ubun-ubun. “Oh…mau pukul aku? Silahkan pilih. Mau di pundak? Di lengan? Di dada?” kataku sambil membusungkan dada. “Atau dipantat?” Aku berdiri sambil membalikkan badan. Lalu kubalikkan badan lagi, menghadapi dia. “Tapi ada syaratnya. “ Lu pukul sekali, gue balas dua kali. Lu mukul dua kali, gue balas empat kali. Pokoknya gue balas dua kali lipat pukulan lu. Ayo pilih mau pukul sebelah mana?


Kulihat Dewi diam saja. Lalu dengan langkah lesu dia berjalan ke ruang cady house.


Hah! Kok diam diam doang? Nggak mukul atau apalah…”Kata Niken, salah satu caddy yang duduk di situ.


“Lha itulah. Kalau ada orang mengertak, kita gertak lebih keras lagi. Lebih meyakinkan. Maka dia akan KO. Iya kan, Intan?” Kata Luck, caddy yang lain lagi. 


Itulah rahasia orang yang suka mengertak. Kalau ada orang lain yang lebih berani, dia akan mengkeret. He he he.” Aku geli mengingat hal itu.


Kami masih sibuk membicarakan sikap Dewi, ketika  Windi, lari-lari menuju ke tempat kami.


“Pengumuman…pengumuman. ada berita menghebohkan!” Kata Windi dengan centilnya.


“Berita apaan, sih?” Tanya Niken.


“Wah…pokoknya menghebohkan. Kalian tak kan pernah menduga….”Jawab Windi membuat kami penasaran.


“Alah….paling-paling elu dapat pacar baru.” Kata Luck . 


“Ih….pacar baru…satu aja nggak habis-habis, ngapain cari lagi?”


“So….masalah apa, dong?” Tanya Niken lagi.


“Ceritanya begini….dengerin, ya…..?Gue kan ke toilet….lha toilet yang pojok ada suaran orang nangis sampai sesengrukan gitu deh. Pokoknya kasihan sekali…..suara tangisnya seperti merintih…..gue sampai merinding….terus gue tempel kuping di pintunya. Agar bisa denger lebih jelas gitu….?” 


Winda berhenti sejenak sambil mengamati teman-temannya, apakah mendengarkan ceritanya.


“terus. Terus. Siapa yang menangis?” Niken terlihat penasaran.


“Penasaran, kan? Penasaan…?” Kata Windi riang.


“Cepetan…nanti ada player, gue jadi nggak bisa denger ceritanya.” Kata Luck.


“Oke. Yang nangis….Dewi. Katanya hi   hi  hi  mbak Intan kejam…..” 

Winda langsung tertawa geli.

Ha..ha…ha…kami tertawa semua. Geli membayangkan si’lelaki’ itu menangis sesengrukan. Lucu sekali. Aku sendiri tak pernah membayangkan.


“Ooh…..jadi diberi kebebasan memilih untuk  mukul yang sebelah mana. Dianggp kejam?” Kata Niken sambil tertawa geli.


“Memang boleh memilih….tapi konsekuensinya itu loh….yang bikin dia menangis…..”kata Luck sambil tertawa geli.


“Itulah raahasia  orang yang sok jagoan…..main gertak, balas digertak maka KO.” Kataku sambil tertawa.


“Kalau begitu…mulai besok, klau Dewi main gertk, kita balas gertak secara lebih meyekinkan. 

Oke…” Kata Windi bersemangat.

“Oke….!Gue setuju sekali…!!” Kata Niken semangat, diikuti yang lainnya.


Rencana teman-teman untuk balaas mengertak Dewi, tak dapat terwujud. Karena semenjak itu Dewi tidak pernah mengertak ataupun bicara membentak-bentak sambil melotot selayaknya preman. Dia berubah 180 derajat. Benar-benar berubah total. 


Tapi ada satu hal yang membuatku tidak nyaman. Dia sering datang ke kostku membawa begitu banyak makanan. Kadang kalau makan di kantin, Dewi juga sering membayar makanku. Bagiku itu terlalu berlebihan. Sudah aku nasehati, supaya bertingkah yang wajar-wajar saja. 


Tapi semua itu tidak mempan.Akhirnya aku ambil sikap,perduli amat. Amat aja nggak peduli. He..he…he… aku tak pernah membuat hal itu menjadi penting. Biarkan semua berjalan apa adanya. Tapi satu hal yang kuingat. Bahwa kalau ada orang suka mengertak, dan kita balas mengertak secara lebih berani, maka dia akan ketakutan. Siiiplah.

Belum ada Komentar untuk "Jago Gertak (Sebuah Cerpen) By Ami Daria"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel