Pohon Jambu Idaman (Sebuah Cerpen) By Ami Daria

Pohon jambu disamping rumahku idaman setiap orang. Saking banyaknya yang menginginkan, hampir saja terjadi salah paham dengan tetangga. Bagaimana kejadiannya? Bacalah cerpennya...

PlanetCerpen.com - Tanah pekarangan keluargaku lumayan luas. Dibelakang rumahku ada perkebunan kelapa, yangbiasa buat main sepak bola anak-anak tetangga. Setiap sore selalu ramai. Kalau habis dhuhur yang main sepak bola usia dua belasan, usia anak SD. Setelah itu jam tiga sore, anak usia lima belasan, usia SMP-SMA. Terakhir jam lima sore sampai maghrib, usia remaja. Yang terakhir ini mayoritas bekerja sebagai penjahit, dengan membawa jahitan ke rumah. Sepertinya antar mereka sudah ada perjanjian. Kadang mereka bertaruh, siapa yang kalah membelikan minuman yang menang. Lucu juga. Aku hanya mengamati.

Dulu almahum ayahku pernah berpesan, Kalau bisa kebun kelapa itu jangan di buat rumah. Katanya kasihan anak-anak tak ada tempat bermain sepak bola. Dibalik tabiatnya yang keras,  ternyata ayahku punya jiwa sosial yang tinggi juga.

Samping rumahku ada kebun. Di kebun itu ada pohon jambu biji. Nah…pohon jambu biji itu buahnya sangat lebat dan manis. Aku suka mencari kalau kalau ada yang matang. Tapi aku tak pernah menemukanya. Setelah aku perhatikan, ternyata anak-anak yang main sepak bola  selalu menghampiri, main gelantungan dan memetik jambu biji itu. Hal itu selalu dilakukan khususnya oleh anak-anak yang usia dua belasan tahun.Kadang aku heran. Mereka dengan santainya memetik dan memakannya disitu. Bahkan ada yang dikantongi segala. Aku heran. Kok anak-anak itu dengan santai memetik jambu biji yang bukan miliknya. Bukankah itu sama artinya dengan mencuri?

Kadang  anakku, Bagas protes padaku. Karena sering tidak kebagian jambu biji. Padahal jambu biji itu kan milikku, kok bisa-bisanya tidak kebagian. Masa pemiliknya berebut dengan orang lain. Hidup ini kok aneh.

Pernah terbersit dalam hatiku untuk menasehati anak-anak itu agar tidak memetiknya. Tapi setelah kupikir pikir, rasanya kok malu. Malu sama orang tua mereka. Aku kan kenal orang tua mereka. Namanya juga tetangga dekat. Jadinya, ya sudahlah…..pasrah pada keadaan. Toh di pasar juga banyak jambu biji. Harganya juga tidak mahal-mahal amat. Masih mahal apel atau jeruk, atau klengkeng, apalagi durian. Jadi ngapain juga dipikirin?

Sebenarnya jambu biji itu termasuk buah kesenanganku. Sering aku beli jambu biji walau cuma setengah kilo. Tapi sering tidak habis. Jambu biji kalau sudah dua hari dipetik, rasanya sudah tidak enak lagi. Kurang renyah. Jambu biji itu enak  kalau belum benar-benar matang. Jadi baru setengah matang. Makanya kalau beli di pasar, jarang jambu biji yang setengah matang. Kebanyakan sudah matang, bahkan banyak yang sudah layu. Ya…idealnya memetik langsung dari pohonnya. Tapi ya itu….berebut dengan anak-anak tetangga yang suka main sepak bola di belakang rumah. Payah 
kopyah……

Pagi itu kebetulan hari Minggu, Bagas masih mencari jambu biji yang matang.
“Ada yang matang, dik?” Tanyaku
“Ada   bu. Ini satu. Lumayan…..” Jawab Bagas.
Namun belum juga Bagas memetik jambu biji itu tiba-tiba ada Akmal, yang mencegahnya. Akmal datang bersama teman-temannya untuk  main sepak bola.
“Cop! Itu jambu udah aku cop. Siapa yang berani memetik tangannya buntung.” Kata Akmal sambil menunjuk ke Bagas.
Bagas tidak jadi memetik jambu biji itu.
“Jangan berani kamu petik jambu itu. Sudah aku cop.”Kata Akmal.
“Apa, Mal? Sudah kamu cop?” Tanyaku.
“Iya. Dari kemarin.?” Jawab Akmal dengan penuh percaya diri.
“Memangnya pohon jambu ini punya siapa?”Tanyaku agak emosi.
“Tapi kan sudah aku cop….”Jawab Akmal.
“Iya…sudah kamu cop…! Tapi pohon jambu ini punya siapa? Kok berani-beraninya kamu main cop?”Tanyaku.
“Akmal ngawur…..!”Kata salah satu temannya. “Pohon jambu itu kan punya Bagas….Ngawur…!” Sambung anak itu lagi.
“Kamu dengar kata temanmu, Mal? Jadi selama ini kamu memetik jambu punya Bagas. Kamu nggak pernah pamit. Jadi kamu mencuri. Paham?” Kataku  
Akmal hanya diam sambil garuk-garuk kepala, kebingungan.
“Udah dik Bagas. Kalau mau dipetik, petik aja.”Kataku.
Buru-buru Bagas memetik jambu itu dan makan dengan lahapnya.
“Baru sekarang aku bisa makan jambu ini, bu…biasanya kan nggak pernah kebagian.”Kata Bagas senang.
“Dengar kamu, Mal….yang punya baru sekarang kebagian. Selama ini yang memetik kamu dan teman-temanmu, kan…? Memetik yang bukan miliknya. Itu artinya apa, Mal…?”Kataku agak emosi.

Aku memang emosi,mendapati Bagas yang mau memetik jambu dilarang oleh Akmal. Walau seringkali aku tak menemukan jambu yang matang, aku masih bisa santai. Tapi kalau hal itu terjadi pada Bagas? Mana mungkin aku membiarkan hal itu terjadi di depan mata? Enak saja. Memang jambu punya siapa? Rasa sayangku pada Bagas membuatku emosi. Memang rasa sayang seorang ibu terhadap anaknya melebihi rasa sayang pada diri sendiri.

Sejak itu, anak-anak kalau mau memetik jambu, dan kebetulan ada Bagas, mereka pamit. Kalau tak ada Bagas,ya tak pamit juga. Tapi sepertinya Bagas tak memperdulikan hal itu. Dia tak begitu suka  dengan jambu biji. Padahal aku suka. Suamiku juga tak suka. Berarti Bagas meniru ayahnya. Tidak suka jambu biji. Memang kalau masih  keturunan genetika, hal-hal yang disukai juga masih sama.

Ela, anak dari tetanggaku ada yang pulang dari Jakarta. Dia sedang ngidam anak pertama. Melihat pohon jambu yang berbuah begitu lebatnya, dia ingin memakannya. Ternyata dia ngidam jambu bijiku, dan ingin memetik sendiri. Aku mempersilahkan. Diapun memilih, tapi tak menemukan yang matang. Dua hari kemudian, dia mencari jambu yang matang lagi,
“Kok nggak ada yang matang sih, mbak…”Tanya Ela dengan wajah kecewa.
“Iya, ya….Masalahnya selalu dipetik anak-anak…”Jawabku prihatin.                     
“Sebenarnya kalau aku minta jambunya, boleh apa nggak sih, mbak?”Tanya Ela.
“Ya boleh….tapi gimana lagi…Memang nggak ada yang matang?” Jawabku.
“Ya nggak mungkin ada yang matang bu….wong belum matang sudah dipetik sama mereka…”Kata Bagas sambil menunjuk ke kebun kelapa, tempat anak-anak main sepak bola..
“Iya ya dik. Berarti mulai besok, aku akan larang anak-anak memetiknya.”Kataku.
“Iya mbak. Makasih sebelumnya. Besok aku kesini lagi.”Kata Ela sambil melangkah pergi
Aku hanya mampu memandang kepergian Ela dengan rasa kasihan dan rasa bersalah..

Keesokan harinya, mas Kresna suamiku membawa triplek yang ada tulisannya “DILARANG MENCURI JAMBU’ dan dipaku di pohon jambu itu. Tapi walau ada tulisan itu, aku melihat Akmal tetap memetik jambu itu. Aku  hanya diam, pura-pura tak melihat, tapi anak-anak yang lain memarahi Akmal. Bahkan ada yang mengatakan kalau Akmal buta huruf segala. Akhirnya Akmal pergi dari pohon jambu sambil mengenggam beberapa jambu. Bagas mengerutu tak karuan. Tidak suka dengan cara Akmal yang memetik jambunya terlalu banyak. Seharusnya maximal dua. Tapi dia memang tak tahu malu.Padahal teman-teman sebayanya semenjak ada tulisan itu, tak berani memetik jambu itu lagi. Akmal masuk kategori anak yang tak punya etika.

Sore hari Ela datang mau memetik jambu, namun tak mendapatkan jambu yang matang.Dia terlihat sangat kecewa. Aku jadi trenyuh melihat kesedihan di wajah Ela. Aku juga merasa bersalah. Kalau aku diam saja, Ela tak akan pernah kebagian jambu itu. Nanti bagaimana nasip bayinya? Kata orang tua, kalau keinginan orang ngidam tidak dipenuhi, bayinya bisa ngiler sampai dewasa. Aduh kasihan sekali. Sejak itu aku melarang Akmal memetik jambu. Mas Bayu malah lebih cerdas lagi. Dia dibantu Bagas membungkus jambu jambu itu pakai Koran. Aku juga punya tugas baru, yaitu mengawasi Akmal dan kawan-kawan saat mereka main sepak bola. Seringkali Akmal mencoba memetik jambu itu, namun aku sering memergokinya.Memang kalau sudah tabiat, di nasehati dengan cara apapun tak akan berhasil. Yang dominan dalam dirinya tetaplah tabiat itu.

Sudah hampir seminggu jambu itu tak ada yang memetik. Aku mengintip kedalam Koran pembungkus jambu dan mendapati jambu-jambu itu banyak yang matang. Aku memetik dua. Alhamdulillah…akhirnya dapat bagian juga. Aku tertawa sendiri. Ela pasti sangat gembira bila saat memetik jambu itu mendapatkan banyak yang sudah matang. Membayangkan hal itu, aku ikut gembira. Makanya saat belanja sayuran aku mampir ke rumah Ela sekedar memberitahu, kalau jambunya sudah banyak yang matang. Tapi kata ibunya, Ela sedang tidur.Namanya juga orang hamil. Kadang tubuhnya lebih gampang lelah tanpa melihat waktu.

Sampai kelompok Akmal selesai main sepak bola,  Ela belum datang juga.Seandainya mengidamnya hanya ingin jambu itu, bisa saja  aku petikkan. Tapi mengidamnya, ingin jambu biji itu, dan harus dipetik sendiri. Jadi aku hanya menunggu Ela datang untuk memetik jambu itu tanpa ada niat memetikkan. Karena kelompok Akmal sudah pulang, aku merasa jambu itu dalam keadaan aman. Aku tidur siang. Kalau tubuh ini terasa lelah dan ingin istirahat, maka istirahatlah….agar tubuh ini tidak mudah terkena penyakit sehingga selalu sehat.

Satu jam kemudian, aku bangun. Satu jam cukuplah untuk menghilangkan penat di badan.Aku duduk di teras, menunggu Ela. Di rumah sepupuku, Lita yang terletak di depan rumahku agak kekanan, ada yang berteriak memanggilku. Teryata Heny, temanku saat SMA. Dia dulu sekelas dengan Lita. Heny bersalaman denganku, basa-basi sekedarnya dan pamit pulang. Di stang motornya ada plastic kresek bergelantung. Aku tak perduli, apa isi plastic kresek itu.

Ela datang sambil senyum-senyum.
“Mbak kata ibuku, jambunya banyak yang sudah matang?” Tanya Ela dengan wajah gembira.
“Iya. Tadi aku mengintip ke koran pembungkusnya, sudah banyak yang matang.” Jawabku sambil tersenyum.
“Aku minta ya, mbak….” Tanya Ela sambil melangkah ke pohon jambu itu.
Aku mengikuti di belakangnya. Aku ingin menyaksikan wajah gembira Ela saat memetik jambu biji yang matang. Ela memasukkan tangan ke dalam Koran pembungkus jambu.
“Kok kosong, mbak?” Tanya Ela dengan wajah kaget.
“Masa? Tadi siang aku lihat ada jambunya.” Kataku sambil melihat kedalam Koran pembungkus jambu.
“Ini juga kosong, mbak…”Kata Ela lagi.
“Kok bisa??” Aku sangat kaget juga kecewa.
Tanpa melihat kedalamnya, aku memijit Koran itu. Memang kosong. Semua Koran-koran itu kosong. Kalaupun ada isinya, jambunya belum matang.
“Dik Bagas….ini bungkusnya kok banyak yang kosong, sich….?” Tanyaku pada Bagas, yang pulang dari dolan.
“Iya bu? Jangan-jangan dipetik semua sama tante Lita….”Jawab Bagas, sambil ikut-ikutan memeriksa Koran pembungkus jambu. “Iya bu…kosong semua. Ini ada jambunya. Aduh masih mentah.”Kata Bagas lagi.
“Aku duduk di teras dulu ya, mbak….”Kata Ela dengan wajah penuh kecewa.
“Tante Litaaaa….!”Aku meneriaki Lita yang keluar dari rumahnya.
“Iya Budhe…ada apa?”
“Tadi Tante minta jambu, ya?”
“Iya….buat Heny. Dia kan suka jambu biji. Melihat  banyak yang matang, dia pingin.  Maaf tadi aku kasih ke Heny nggak bilang sama Budhe….Boleh, kan Budhe…?”
“Boleh…sih boleh….tapi mbok jangan dihabiskan.”Kataku sambil mendekati Ela, dan duduk di sebelahnya.
“Heny kan belum tentu kesini sebulan sekali, ya…mumpung dia kesini kasih yang banyak.”Jawab Lita.
“Kasih yang banyak boleh saja….tapi jangan dihabiskan.” Kataku lagi.
“Kenapa sih Budhe? Derajatnya jambu saja, kok di permasalahkan?”Tanya Lita sengit.
“Sebenarnya kamu baik hati ya Tante….? Temen datang dikasih jambu yang banyak…”Kataku.
 “Tentu. Namanya juga sama temen.”Jawabnya dengan PD.
“Tapi sayang…..yang kamu kasihkan bukan milik kamu sendiri….”Kataku lagi.
“Wong jambunya nggak ada, aku mau pulang aja, mbak…”Kata Ela sambil melangkah pergi.
“Ada apa dengan Ela? Sepertinya dia kok ngambek?”Tanya Lita tak megerti.
“Ela itu ngidam jambu biji….Selama ini nggak pernah kebagian yang matang, makanya sama mas Kresna dikasih tulisan itu.”Kataku sambil masuk rumah.
“Kok Budhe nggak cerita, kalau Ela ngidam jambu biji itu?”Kata Lita.
Aku tak menjawab omongan itu. Percuma. Dia orangnya kan tidak mau kalah. Kalau bicara suka ngenyel, mau menang sendiri. Jadi lebih baik, aku  diam saja. Bicara dengan orang seperti itu. Hanya buang-buang energi.

Mas Kresna dan Bagas membuang Koran Koran pembungkus jambu yang sudah kosong. Mulai sekarang, kami berjanji untuk mengawasi jambu itu exstra keras. Kalau kelompok Akmal sedang main sepak bola, aku juga Bagas sering mondar-mandir di sekitar pohon jambu. Pokoknya kami harus bisa mempersembahkan jambu biji itu untuk Ela. Aku merasa tidak enak sama Ela. Masa keinginan yang begitu sederhana tidak terwujud. Terlalu banyak hamanya. Hama kepala hitam. Hama-hama seperti inilah yang sulit di berantas. Masalahnya menyangkut etika dan juga perasaan.

Aku sedang menyapu halaman sambil ngobrol dengan Lita, yang duduk diteras rumahnya, ketika Ina, ibunya Ela, datang menghampiriku.
“Ini uang muka.”Kata mbak Ina sambil menyodorkan uang seratus ribu.
“Uang muka buat apa, mbak?”Tanyaku tak mengerti.
“Uang muka jambu biji. Kemarin Ela pulang sambil menangis.Dia benar-benar menginginkan jambu itu. Tapi sepertinya kamu tak mau memberikan secara gratis.”Kata Mbak Ina mulai emosi.
Lita mendekati tempat kami berdiri.
“Kenapa mbak Ina berpikiran seperti itu?”Tanyaku.
“Buktinya, berkali-kali tidak pernah ada jambu yang matang.”Jawab mbak Ina.
“Banyak hamanya, mbak. Mereka yang memetik jambu biji itu nggak minta ijin sama aku.”Jawabku.
“Ah, itu hanya alasanmu saja. Bilang aja kamu minta jambunya dibayar.”Jawab mbak Ina lagi.
“Bilang saja iya, Budhe….”Kata Lita.
“Laa….betul kan, tebakanku? Bilang saja terus terang. Nggak usah malu-malu.”Kata mbak Ina lagi.
“Tante Lita, kamu bukannya menjelaskan yang terjadi, malah memperkeruh suasana.”Kataku.
“Habis dia sok kaya….Pakai pamer duit seratus ribu segala….”Kata Lita sambil tertawa.
“Oh…jadi mentang-mentang aku orang miskin, terus kalian berdua menghinaku. Menghina Ela…?” Kata mbak Ina penuh emosi.
Aku dan Lita saling pandang. Aku bingung. Bagaimana cara menjelaskan pada orang yang sedang emosi? 

Mas Kresna dan Bagas keluar dari dalam rumah.
“Maaf ya mbak Ina….Sebenarnya kemarin sudah banyak jambu yang matang. Tapi…..”Mas Kresna tidak melanjutkan omongannya. Dia hanya memandang Lita.
“Tapi dirontoki sama tante Lita….”Bagas melanjutkan omongan mas Kresna.
“Kok jadi aku, yang disalahkan?”Lita mulai emosi.
“La. Kan tante Lita yang memetik semuanya. Dikasihkan ke temannya. Betul, kan?” Kata Bagas lagi.
“Salah sendiri nggak mau bilang kalau jambu itu buat Ela….”Kata Lita sambil berjalan ke rumahnya.
“Yang salah tante. Kenapa mau kasih jambu ke teman, nggak pamit sama yang punya jambu?”Kata Bagas lagi.
“Alah! Cuma jambu biji aja dipermasalahkan. Besok aku belikan ke pasar. Sepuluh kilo. Paling harganya, berapa?”Kata Lita sambil masuk rumahnya.
“Hiits….! Udah dik Bagas. Udah biarain aja. Jangan diladeni, nanti makin panjang nggak karuan.”Kataku saat melihat bagas mau bicara lagi.

Mas Kresna hanya tertawa geli sambil geleng-geleng kepala.
“Oh…jadi yang memetik jambunya, Lita?”Tanya mbak Ina, salah tingkah.
“Begitulah mbak….Hamanya sangat banyak kepala hitam dan sangat besar…”Kataku sambil tertawa.
:Tante Lita pingin dapat pujian. Wiih…..baik sekali. Kasih jambu banyak…tapi sayang, punya orang lain. Nggak tahu malu.”Kata Bagas.
“Hist! Jangan begitu. Nggak baik.”Kataku menasehati.
“Tenang mbak Ina….kami mau jaga pohon jambu itu exstra ketat agar Ela bisa mendapatkan yang matang.” Kata mas Kresna.
“Iya. Terima kasih. Aku juga mau ikut mengawasi pohon jambu itu.”Kata mbak Ina. Emosinya sudah reda.
“Iya mbak….Tenang saja…Duitnya dibawa pulang saja”Kata mas Kresna lagi.
“Ya udah, aku pulang dulu, ya….”Kata mbak Ina
 “Iya mbak…..”Jawabku.
Mbak Ina pulang. Aku bernapas lega. Hamper saja terjadi perang bratayuda. Untuk mas Kresna dan Bagas datang melerai. Walau konsekuensinya Lita yang jadi emosi. Dia memang tabiatnya begitu. Merasa benar sendiri. Terlalu sombong. Tapi biarlah….bukankah tiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing?

Sekarang pohon jambu itu menjadi pohon yang diperhatikan semua orang. Aku Bagas, mas Kresna, Lita, malah mbak Ina juga ikut mengawasi. Buktinya saat Akmal dan teman-temannya baru mendekati pohon jambu, mbak Ina langsung menghampiri dan menasehati agar tidak memetik jambu biji itu.

Berkat kerjasama beberapa pihak dalam menjaga pohon jambu biji dari hama-hama berkepala hitam, akhirnya buahnya banyak yang matang. Ela sangat gembira memanen buah jambu itu. Benar-benar dirontoki. Tapi biarlah, aku iklas. Bagas juga sangat gembira menyaksikan Ela makan jambu biji dengan lahapnya.

Waktu itu sore hari. Aku sedang membakar sampah saat Ela datang sambil menjinjing plastik kresek, dan menyerahkan padaku.
“Ini  buat mbak….sebagai tanda terima kasihku.”Kata Ela.
“Apa ini?”Tanyaku sambil menerima bungkusan itu.
“Buah Naga dan klengkeng  Buat dik Bagas.”Kata Ela sambil tersenyum.
“Waduh. Nggak usah repot-repot. Masa jambu biji ditukar buah Naga dan klengkeng? Ya kemahalan…..”Kataku sambil mengembalikan bungkusan itu.
“Ya nggak kemahalan mbak…wong…”Ela tampak malu-malu.
“Wong kenapa….?”Tanyaku penasaran.
“Wong aku masih akan memetik jambu biji lagi. Maksudnya selama aku masih ngidam…Boleh nggak ,mbak?.”Tanya Ela malu-malu.
“Oh begitu….? Boleh nggak apa-apa.”Jawabku mantap.
“Terima kasih banyak ya mbak…..Aku jadi nggak enak. Tapi kalau melihat jambu biji punya mbak, kok kelihatannya enak banget…”Kata Ela sambil tertawa.
“Namanya juga orang ngidam….Ya begitu. Nggak apa-apa kok.” Kataku lagi
“Makanya buah ini sebagai gantinya.” Kata Ela sambil menyerahkan bungkusan itu lagi.
“Nggak usah Ela….aku iklas kok.” Jawabku.

Bagas tampak keluar rumah.
“Bu….aku mau mandi. Tungguin dong….”Kata Bagas sambil memandang Ela, penuh tanda tanya.
“Kebetulan Bagas keluar. Ini buat kamu. Makasih atas jambunya, ya….?”Kata Ela sambil menyerahkan bungkusan itu pada Bagas.
“Iya mbak Ela. Sama-sama.”Bagas menerima bungkusan itu.
“Ya udah mbak Ningrum….aku pulang dulu. Makasih ya….”Kata Ela sambil melangkah pergi.
“Iya….sama-sama….Kalau mau metik jambu, petik aja, ya….?’
“Iya mbak….” Kata Ela.
Ternyata buah Naga dan klengkeng itu sebagai alat untuk menyewa pohon jambu bijiku. Entah sampai kapan, aku juga tak tahu.

Setelah Ela tak terlihat lagi, Bagas langsung melihat isinya dan dan tertawa senang.    
“Wah….buah Naga  dan klengkeng? Buah kesukaanku.”Kata Bagas gembira.
“Dari siapa itu?”Tanya mas Kresna, yang baru keluar dari dalam rumah.
“Dari  mbak Ela…..”Jawab Bagas. “Baik banget Ela. Masa jambu biji ditukar sama buah Naga dan klengkeng?” Kata Bagas sambil makan buah klengkengnya.
“Iya bu…”Tanya mas Kresna.
“Iya….tapi ada syaratnya….”Kataku
“Apa syaratnya?” Tanya mas Kresna
“Dia minta  ijin untuk selalu memetik jambu biji itu.”Jawabku.
“Sampai kapan?”Tanya mas Kresna
“Ya….nggak ngidam jambu lagi.”Jawabku.
“Waduh! Sampai lama apa nggak, bu?”Tanya Bagas.
“Mungkin dua bulan.”Jawabku.
“Nggak apa-apa. Yang penting kalau habis memetik jambu, mbak Ela menukarnya dengan buah Naga dan klengkeng.”Kata Bagas sambil tertawa.
“Hist! Ya enggak lah…..”Kataku.
“Siapa tahu….”Kata Bagas lagi.
“Ini berarti Ibu sudah mengadaikan pohon jambunya?” Kata Mas Kresna sambil tertawa.
“Iya. Benar-benar pohon jambu idaman. Sampai-sampai ada yang mengadai.”Jawabku.
“Idaman setiap orang. Dari anak-anak, orang dewasa sampai orang hamil” Kata mas Kresna lagi. 

Aku hanya tertawa menangapi humor mas Kresna. Iya ya? Pohon jambu itu sudah kugadaikan pada Ela. Digadai sesuai keinginan yang mengadai. Ada ada saja. Tapi tak  apa. Malah aku sangat bersyukur, berkat pohon jambu idaman, aku dapat membantu Ela. Memang nilainya tak seberapa, tapi bagi Ela sangat berarti. Aku suka itu. Prinsip hidupku, selama aku masih bisa membantunya, dan hal itu tidak merugikan atau membahayakan diriku sendiri, is oke…..tak apa-apa. Daripada nanti bayinya ngiler terus. Kasihan,kan. Sekarang aku membantu, siapa tahu suatu hari nanti disaat aku membutuhkan bantuan,  ada seseorang yang datang membantu. Bukankah makin banyak kita memberi, maka akan makin banyak pula yang kita dapatkan. Itulah hukum alam.

Belum ada Komentar untuk "Pohon Jambu Idaman (Sebuah Cerpen) By Ami Daria"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel