PUISI PENYEBAB PERSETERUAN (Sebuah Cerpen) By Ami Daria

PUISI PENYEBAB PERSETERUAN (Sebuah Cerpen) By Ami Daria
Niatnya Eko membuat puisi untuk memenuhi tugas sekolah, tapi saat dia sedang membacanya kok didamprat sepupuku, ada apakah gerangan?

PlanetCerpen.com - Aku selalu jadi tempat curhat budhe Marni mengenai perlakuan Handi, putra semata wayangnya. Kebetulan rumah kami bersebelahan. Malah terasnya dijadikan satu. Ya, tak  apa-apa, toh kami masih saudara. Budhe Marni itu kakak kandung almarhum ayahku.


Berulang kali Handi diberi modal oleh ayahnya, padhe Joko yang bekerja sebagai penilik sekolah. Dengan uang pinjam dari koperasi, Handi dibelikan ruko untuk jualan pakaian jadi. Tapi entah bagaimana bisa bangkrut, malah rukonya terjual. Pernah  dijualkan sawah untuk modal pembuatan meubel, bangkrut. Lalu usaha pengilingan padi, bangkrut juga.


Terakhir membuka toko sembako. Yang ini berkembang pesat. Kehidupan Handi meningkat, dan Handi menikah  dengan Wulan, gadis tetangga desa. Setahun kemudian, mereka dikaruniai anak perempuan, dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan kedua.


Seiring usia kedua putrinya yang menginjak ke bangku SMP, toko sembako Handi mulai sepi. Barang-barang yang dijual juga semakin berkurang. Handi juga sering pulang pagi. Begitu seterusnya hingga bangkrut. Ternyata Handi dililit utang.  Kedua orang tua juga istrinya tidak tahu untuk apa Handi pinjam duit. Akhirnya toko beserta isinya dijual, dan uang hasil penjualannya untuk membayar utangnya.


Setelah habis-habisan memberi modal dengan berbagai macam usaha. Padhe Joko, benar-benar bingung atas perlakuan Handi. Padhe Joko sakit-sakitan, bolak balik ke rumah sakit menghabiskan begitu banyak biaya. Setelah tiga tahun sakit-sakitan akhirnya padhe Joko meninggal.


Sepeningalan padhe Joko, Handi jadi pengangguran. Hidup dirinya, istri dan kedua putrinya mengantungkan pada budhe Marni, yang pensiunan guru SD, juga pensiuan padhe Joko. Budhe Marni menganjurkan pada Handi agar dagang ayam goreng atau apalah, yang modalnya tidak terlalu besar. Tapi Handi menolak dengan alasan malu. Handi lebih memilih jadi pengangguran daripada jadi pedagang keliling. Gengsinya lebih tinggi daripada suara keroncong perutnya.


Sore menjelang malam, Kedua anakku Eko, anakku yang pertama, dan adiknya Dwi, belajar. Aku membaca majalah ketika budhe datang ke rumah. Wajahnya terlihat murung.
“Kalau kita  ngobrol-ngobrol, kamu ada waktu apa nggak, Asti?” Tanya budhe Marni, mendekatiku yang sedang baca majalah
“Bisa budhe….”Jawabku sambil menutup majalah itu.              
Dwi masih konsentrasi pada buku pelajarannya, sementara Eko berhenti belajar, dia terlihat ingin tahu.
“Mau bicara apa budhe? Kok sepertinya penting banget.”Kataku sambil memberi kode pada Dwi dan Eko agar masuk kamar.
Mereka segera masuk kamar sambil membawa bukunya.
“Kenapa budhe…”    
“Budhe bingung sama Handi. Tiap hari kerjanya kok makan tidur melulu. Sumpek budhe dibuatnya….”
“Iya ya budhe….mana anak-anaknya udah besar. Udah mau masuk SMA…”Jawabku ikut bingung.
“Sebenarnya sudah seminggu ini Handi minta modal budhe…Modalnya banyak…hampir seratus juta.”Kata budhe Marni.
“Modal buat apa, budhe?”
“Katanya ingin membuat konveksi celana boxer. Melihat teman SMPnya sukses usaha konveksi, Handi mau ikut ikutan.”
“Kalau begitu, modalnya kecil-kecilan dulu budhe….jangan langsung seratus juta”
“Iya…seratus juta dapat dari mana…? Bingung aku….Budhe pinginnya Handi bekerja. Jangan  usaha yang selalu butuh modal.” Kata Budhe sambil  menghela napas panjang.
“Kalau misalnya Handi ikut jadi penjualnya saja bagaimana budhe…Tetangga juga banyak yang jadi penjual boxer.”
“Nggak mau. Katanya malu kalau cuma jadi penjual celana.” Kata budhe lesu.
“Gengsi Handi terlalu tinggi ya budhe….”
“Iya. Maunya kerja di kantoran. Tapi bagaimana mungkin? Ijasahnya kan cuma SMA. Nggak punya keahlian apapun. Bingung ….” Kata budhe sambil geleng-geleng kepala.
“Iya ya ….wong kuliah tinggal buat skripsi aja kok bisa ditinggal….”Kataku.
“Iya….dulu ayahnya sangat marah! Handi nggak mau menyelesaikan skripsinya. Tapi bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur.”
“Terus rencana selanjutnya apa, Budhe?”
“Semalam Handi merengek, agar budhe jual sawah.”
“Jual sawah? Sawah Budhe kan tinggal satu….”
“Itulah….kalau usahanya nanti bangkrut juga, habislah semua…Tapi kalau nggak  dikasih Handi nggak punya pekerjaan. Makan tidur melulu……”Kata budhe sambil memijit-mijit dahinya, sepertinya budhe pusing.
“Apa nggak sebaiknya pinjam ke koperasi aja, Budhe? Sayang kalau jual sawah.”
“Kalau pinjam di koperasi, cicilannya besar. Kalau pensiunan budhe dan padhe dipotong buat cicilan, sisanya cukup apa nggak ya, buat kebutuhan tiap hari.” Kata budhe sambil berpikir keras.
“Ya…yang mencicil jangan Budhe….tapi Handi…Kan duitnya buat buka usaha Handi…”Kataku.
“Ya…coba nanti Budhe rundingan sama Handi dulu….”Kata budhe sambil berdiri. “Itulah makanya Budhe senang bicara sama kamu Asti. Kamu selalu punya solusi…Makasih ya…Budhe pulang dulu…”
“Iya Budhe…..”Kataku sambil berdiri.
“Ya udah. Budhe pulang ya….”Kata Budhe sambil melangkah keluar.

Aku mengikuti budhe sampai keluar rumah. Aku berdiri di teras memperhatikan budhe sampai masuk rumahnya. Perasaanku campur aduk, ikut memikirkan keadaan Budhe. Punya anak semata wayang bisanya hanya mengerogoti harta orang tua.

Aku mau masuk rumah ketika Eko keluar rumah dan mendekatiku.
“Kasihan eyang putri ya, bu?” Kata Eko.
“Kasihan , kenapa?”Tanyaku bingung.
“Ya…kasihan….aku kan dengar semuanya bu….Ya tahu lah…..”Kata Eko sambil tersenyum.
“Tadi kamu nguping, ya?” Tanyaku.
Eko mengangguk sambil tertawa.
“Besok lagi jangan suka menguping pembicaraan orang tua. Nggak baik….”Kataku sambil masuk rumah.
“Aku kan penasaran bu…..Tiap kali eyang putri mau bicara sama ibu. Aku dan dik Dwi selalu disuruh pergi. Jadinya aku kan penasaran…”Jawab Eko mengikutiku masuk rumah.


Budhe Marni memutuskan menjual sawahnya untuk modal konveksi Handi dengan harapan Handi bisa mandiri. Mampu memberi nafkah istri dan kedua anak perempuannya.


Dengan uang hasil menjual sawah, Handi mempersiapkan segala sesuatunya. Membeli 10 mesin jahit, dua mesin obras, mencari penjahit, membeli kain, benang dan lain sebagainya. Merubah ruang tengah menjadi tempat menjahit. Semuanya diatur sedemikian rupa.


Aku perhatikan konveksi Handi berjalan lancar. Handi sibuk mengurusi konveksinya. Budhe Marni juga tidak pernah mengeluh. Kadang Handi sekeluarga makan diluar. Ekonomi Handi makin membaik. Aku turut bahagia.


Dua tahun telah berlalu. Konveksi Handi masih lancar. Budhe datang, mendekatiku dan anak-anak, yang sedang santai sambil menonton TV. Budhe mengeluh kalau belakangan ini Handi sering pinjam uang untuk memberi upah penjahitnya.  Pernah juga budhe menanyakan kemana uang hasil penjualan celana hasil konveksinya, tapi Handi malah marah-marah. Bahkan tega mengatakan budhe Marni terlalu pelit, tak sayang anak cucu dan masih banyak lagi, omongannya yang menurutku, tak pantas dikatakan seorang anak kepada ibu kandungnya.


Anak pertama Handi yang bernama Lita, satu sekolah dengan Eko. Sekarang mereka sama-sama kelas XII. Tapi walau mereka satu sekolah berangkatnya sekolah sendiri-sendiri. Lita selalu berangkat duluan, mengendarai motor  matic merek yang sedang in. Beda dengan anakku Eko yang pakai motor buntut, walau buntutnya tidak panjang-panjang amat, alias masih agak baru.

Anak kedua kami juga sama-sama kelas X, hanya beda sekolah. Intan anaknya Handi sekolah di SMK, kalau sekolah selalu diantar ayahnya. Sedangkan Dwi,  sekolah di SMA yang sama dengan kakaknya sehingga sering berboncengan saat sekolah.


Aku masih ngobrol sama budhe dirumahnya, ketika ada tamu dari Koperasi utang pinjam. Mereka menawarkan pinjaman buat modal. Budhe langsung menolak dengan alasan modalnya sudah cukup. Namun Handi bersekeras untuk mengambil seratus juta dengan  alasan agar usahanya makin berkembang. Budhe mengajak Handi ke ruang dalam untuk bicara empat mata.
“Han…kamu mau ambil utang buat apa lagi?”Tanya Budhe Marni.
“Biar  usahanya makin berkembang, bu…….Nanti aku kulakan kainnya diperbanyak, penjahitnya juga ditambahi. Dengan begitu hasil juga bertambah.”
“Kamu jangan hanya memikirkan hasilnya. Tapi bisa menjualnya apa, nggak? Kalau kira-kira nggak bisa, jangan ambil utangan.”
“Nggak apa-apa bu. Mumpung ada utangan….”
“Utang itu ada tanggung  jawab untuk menyaurnya. Kalau kamu ambil seratus juta, cicilan tiap bulannya tinggi lho….kamu mampu nggak?”
“Pasti mampu Ibu…..tenang saja. Pokoknya kalau ada tambahan modal, maka usahanya makin aku lebarkan. Tenang saja……” Kata  Handi mau kedepan, namun Budhe  Marni langsung menyambar lengannya.
“Ibu nggak setuju. Modal yang ada sekarang sudah cukup.”
“Ibu tahu apa sih, soal konveksi?”Kata Handi sambil melangkah keluar.
“Heran. Ada tawaran utang main ambil  saja tanpa mikir cicilannya.”Marni bicara sendiri.  

Aku hanya diam. Tidak berani berkomentar. Tapi aku sependapat dengan budhe Marni.
“Begitulah Handi…sulit dibilangin. Dia pikir, utang dapat duit banyak terus selesai?  Handi sama sekali tidak memikirkan konsekuensinya….”Kata budhe sambil geleng-geleng kepala.
“Iya Budhe…..yang sabar ya Budhe…kita do’akan aja..semoga dengan uang pinjaman itu usaha  Handi makin maju pesat….”Kataku menghibur.
“Kalau dilihat dari gaya hidup Handi sih, sulit….Tapi ya semoga aja, apa yang kamu katakan bisa terlaksana.”Kata budhe Marni tersenyum pahit.
“Amin….kita do’akan ya Budhe….”Kataku lagi.

Budhe menghela napas panjang sambil tersenyum. Kami terlarut dalam pikiran masing masing. Handi tidak berpikir panjang dalam mengambil keputusan, dia hanya berpikir ‘mumpung ada yang kasih pinjam, sikat saja’ benar kata budhe. Handi tak mikirkan konsekuensinya.


Ternyata uang dari utang itu digunakan untuk beli dua motor matic merek terbaru. Satu buat Intan, biar Handi tidak perlu mengantarkan ke sekolah tiap pagi. Satunya buat istrinya. Jadinya masing-masing punya motor sendiri. Jumlahnya empat. Selain itu kedua putrinya juga dibelikan HP android yang aplikasinya paling cangih. Di luar Handi mengatakan pada orang-orang bahwa motor itu dibeli dari tabungannya selama ini. kemarin sore budhe Marni datang ke rumah, sekedar curhat. Budhe Marni prihatin dengan kebiasaan Handi yang suka menghambur-hamburkan uang. Aku hanya mampu memberi saran agar Budhe Marni bersabar.

Kulihat Handi dan mas Permadi, suamiku sedang ngobrol di teras rumah Handi. Aku duduk di teras rumahku, namun aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Kamu lihat dua motor baruku itu? Itu hasil dari usahaku lho….aku tabung sedikit demi sedikit agar bisa beli motor itu.” Kata Handi
“Iya. Kamu memang hebat. Aku perhatikan, usahamu makin maju pesat .”Kata mas Permadi.
“Iya dong…..”Jawab Handi dengan bangganya.
Aku hanya tersenyum sendiri mendengar jawaban Handi. Diam-diam aku memuji kepinteran mas Permadi dalam menyembunyikan perasaannya. Bagaimanapun juga mas Permadi sudah tahu hal yang sebenarnya. Karena aku sudah menceritakan curhatan budhe Marni. Tapi dengan santainya mas Permadi masih memuji kehebatan usaha konveksi Handi yang makin maju pesat hingga dapat beli dua motor baru. Setiap kali mereka ngobrol, mas Permadi sering ngemong pada Handi, pada omongan omongannya yang tinggi, suka pamer.Mungkin sifat inilah yang menyebabkan mereka rukun rukun saja.

Handi pulang karena ada langganannya. Aku segera duduk disebelah mas Permadi sambil tertawa geli.
“Kenapa tertawa? Datang datang kok langsung tertawa sendiri, ih ngeri….”Kata mas Permadi sambil bergidik.
“Iya lucu. Iya kamu memang hebat, aku perhatikan usahamu makin maju pesat. Itu kan perkataan mas tadi?”Kataku sambil tertawa.
“Oh itu…sudah biarkan saja….itu kan agar dia senang…..”Jawab mas Permadi sambil tertawa.
“Bukannya itu sama saja dengan munafik?”
“Iya ngak lah…lagian aku harus bilang apa? Masa aku bilang bahwa aku tahu duit buat beli motor dapat dari utang. Buat apa? Toh dia utang sendiri, bayar cicilannya juga pakai uang sendiri…”
Kami hanya tertawa geli. Kasihan budhe Marni…..tapi apa yang dapat aku lakukan? Aku hanya mampu menjadi pendengar yang baik. Paling tidak aku bisa meringankan  beban pikirannya dengan menjadi tempat menumpahkan hal-hal yang menyesakan dada.


Aku dan Handi duduk di teras rumah Handi. Kami melihat Eko memboncengkan Lita. Lita turun mendekati kami.
“Yah, motor Lita bocor. Tadi dibawa Eko ke tukang tambal ban.” Kata Lita.
“Bu, aku menyusul dik Dwi dulu di tukang tambal ban.”Kata Eko sambil memutar motornya dan pergi kearah sebelumnya.
“Iya hati-hati.”Jawabku.
“Ya udah…Lita ganti baju, terus makan…nanti kita ke tukang tambal bannya.”Kata Handi sambil masuk rumah mengikuti Lita.

Mereka berdua masuk rumah meninggalkan aku sendirian. Aku juga masuk rumah. Aku ingat perkataan Lita tadi, bahwa motornya dibawakan Eko ke tukang tambal ban. Lalu Eko mau menyusul Dwi yang masih ada di tukang tambal ban, berarti menunggui motornya Lita. Tapi walau begitu tidak ada ucapan sekedar terima kasih, dari Handi. Memang anak-anakku tulus ikhlas melakukan itu semua. Tapi mbok….ucapkan terima kasih….Gengsi Handi terlalu tinggi sehinga dia  sama sekali tak mau mengucapkan terima kasih. Memang kalau aku perhatikan Handi tidak pernah menghargai kebaikan orng lain. Tidak pernah mengucapkan terima kasih. Itu sama artinya tidak pernah bersyukur. Tapi biarlah…itu kehidupan dia sendiri. Yang penting aku sekeluarga tidak melakukan hal itu. Aku selalu ajarkan kepada anak-anakku agar selalu mengucapkan terima kasih pada kebaikan orang lain sekecil apapun.

Kulihat Eko sedang konsentrasi mengetik sesuatu di laptop. Lita bertamu, langsung mendekati Eko. Ternyata Lita minta dibuatkan puisi pada Eko, untuk memenuhi tugas dari sekolah.
“Ini puisi buat kamu. Coba dibaca.” Kata Eko.
Lita segera membaca puisi di laptop, dia tertawa senang.
“Iya bagus. Tinggal di print.” Kata Lita.
“Kamu suka puisinya.”Tanya Eko.
“Aku nggak begitu tahu masalah puisi. Yang penting aku mengerjakan tugas sekolah.”Jawab Lita santai.
“Ya udah, besok aku print bareng punyaku.”Jawab Eko.
“Oke deh. Ya udah aku pulang dulu. Pulang dulu Tante Asti……”Kata Lita sambil melangkah keluar.
“Iya….”Jawabku
Lita sudah tidak kelihatan lagi.
“Kamu membuatkan puisi Lita?”
“Iya bu. Kami disuruh untuk membuat puisi dan membacakannya didepan kelas.”
“Jadi harus buatan sendiri?”
Eko mengangguk sambil komat-kamit membaca puisi di laptop.
“Kalau disuruh buat sendiri, kok kamu membuatkan Lita?”
“La Lita nggak bisa bikin puisi, minta dibuatkan, mau bagaimana lagi. Kasihan kan, bu.”
“Terus setelah kamu membuatkan puisi Lita, apa yang kamu dapat?”
“Ya nggak dapat apapun. Memangnya mau minta dibayar?”
“Ya nggak…maksud ibu, ucapan terima kasih misalnya…seingat ibu, tadi Lita nggak mengucapkan terima kasih….”
“Ya memang begitu sifat Lita. Biarin aja bu…bagiku nggak penting.”
“Heran….sudah minta dibuatkan puisi, minta di printkan, nggak mau mengucapkan terima kasih. Dasar…..anaknya….sifatnya sama.”
“Biarin aja bu….begitu aja dipermasalahkan….”Kata Eko sambil tertawa geli.


Kulihat Lita sedang dilatih baca puisi oleh Eko. Aku keluar rumah dan duduk di teras. Handi mendekatiku dan duduk di sebelahku. Handi mulai berkicau, memamerkan punya tabungan banyak, sebagian buat beli dua motor matic merek terkenal, dua HP android buat kedua putrinya. Dan masih banyak lagi bualan-bualan yang sebenarnya membuatku mual. Apa Handi tidak tahu, kalau aku sudah tahu semuanya dari budhe Marni? Atau dia lupa, saat mengambil pinjaman seratus juta, aku ada disana, jadi aku tahu….entahlah….

Tiba-tiba Handi menghentikan celotehnya. Dia tampak serius menyimak  Eko yang sedang membaca puisi dengan suara yang lantang.

KASIHAN DIA
Berpuluh tahun yang lalu,
Dia berjalan membusungkan dada
Menunjukan pada tiap orang,
Ini aku anak orang terkaya di desa ini
Hidupku bergelimang harta,
Segala keinginanku tercapai.

Tapi kini…..
Setelah ayahnya meninggal.
Dia yang berbekal ilmu menghabiskan harta,
Kebingungan, belum siap, sama sekali belum siap.

Kasihan dia
Di usianya yang setengah abab,
Dia berjalan terlunta-lunta
Salah siapa?
Apakah salah kedua orang tuanya?
Atau salah dia sendiri,
Dia yang hanya belajar ilmu menghabiskan harta,
Entahlah…..

Kasihan dia
Di usianya yang setengah abab,
Dia berjalan terlunta-lunta
Hanya jadi beban ibunya yang telah renta
Bagaikan benalu yang menempel di pohon randu

Kasihan dia…………..

Tiba-tiba Handi mengeram penuh amarah sambil masuk ke ruang tamuku. Aku mengikutinya.
“Kurang ajar kamu Eko!”Handi mengacungkan tinju pada Eko.
Eko kaget dan ketakutan. Lita tampak kebingungan.
“Lho! Memangnya Eko kenapa? Kok kamu bilang dia kurang ajar?” Tanyaku tak mengerti.
“Lho! Kamu memang nggak tahu, atau pura-pura nggak tahu?” Emosi Handi beralih padaku.
“Nggak tahu atau pura-pura nggak tahu masalah apa?” Tanyaku tak mengerti.
“Puisi anakmu itu! Isinya menyindir aku, kan?”
“Enggak padhe….sama sekali aku nggak menyindir padhe…”Jawab Eko buru-buru.
“Mana puisi kamu.” Kata Handi sambil merebut puisi itu dari tangan Eko.
“Baca ini.  Tapi kini…setelah ayahnya meninggal, dia yang berbekal ilmu menghabiskan harta, kebingungan, belum siap, sama sekali belum siap!” Kata Handi sambil menyodorkan puisi itu ke mukaku.
“Lha mana, kata-kata yang menyindir?” tanyaku.
“Lha ini. Dia yang berbekal ilmu menghabiskan harta. Itu menyindirku, kan? Jawab!” Kata Handi sambil mengacungkan tinju pada Eko.
“Aku nggak menyindir siapapun…”Jawab Eko tak mengerti.
“Bohong! Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu, siapa yang kamu maksud dalam puisi itu.” Handi mulai emosi lagi.
“Ada apa ini…..ada apa…..?” Tanya budhe yang tiba-tiba sudah ada disampingku.
“Ini Eko…kurang ajar. Anak kemarin sore sudah berlagak! Baca puisinya, bu. Anak tak bermoral!” Kata Handi sambil merebut puisi dari tanganku dan memberikan pada budhe Marni.

Sekilas budhe Marni membaca puisi itu.
“Ibu tak menemukan kata-kata sindiran sama sekali? Kamu saja yang terlalu sensitif” Kata budhe Marni sambil mengembalikan puisi itu padaku.
“Disitu ada kata-kata ‘dia yang berbekal ilmu menghabiskan harta’ Siapa yang dimaksud? Aku, kan….?”Kata Handi penuh emosi.
“Ya udah….kalau kamu merasa tersindir….aku minta maaf. Tapi aku yakin kalau Eko tidak ada niat untuk menyindir…..”Kataku hati-hati.
“Iya padhe….aku sama sekali tidak menyindir….ide itu kan aku dapat dari sinetron ….”Kata Eko  masih ketakutan.
“Nah…kamu dengar…jangan asal emosi…”Kata budhe Marni lagi.
“Betul Handi, lagian kamu kan pengusaha sukses. Kamu bisa beli dua motor baru, dua Hp android…mana kata-kata yang menyindir….?”Kataku.
“Udahlah! Percuma bicara sama kamu juga ibu! Percuma! Semua tak akan paham. Awas kamu anak bau kencur. Kalau mengulangi lagi, menyindir-nyindir, tahu rasa kamu!” Kata Handi mendorong pundak Eko, dan melangkah pergi.
“Han! Yang sopan dong, jadi orang….” Kata budhe Marni mengejar Handi.
“Udah Budhe…biarin aja….dia sedang emosi….” Kataku sambil memegang lengan budhe.

Kami berjalan mendekati Eko dan Lita.
“Ayah kok begitu, sih Eyang….Lita kan takut….”Kata Lita hampir menangis.
“Ya memang begitu ayahmu. Gampang emosi….masalah kecil diperbesar, bukan masalah dibuat masalah. Ribet.Maafkan padhe Handi ya Eko….”Kata budhe Marni sambil mengelus pundak Eko.
“Iya Eyang….nggak apa-apa….” Jawab Eko sambil tersenyum. Kulihat Eko sudah dapat menguasai keadaan. Dia sudah terlihat tenang. Beda dengan Lita yang masih terlihat ketakutan.


Malam harinya kami sekeluarga membahas puisi itu. Mas Permadi membaca puisi itu berulang kali dan tertawa geli.
“Memang kamu bermaksud menyindir kan, Eko?”Tanya mas Permadi.
Eko hanya mengangguk sambil menahan tawa.
“Aku kan selama ini mengamati kehidupan padhe Handi, mendengar semua keluh kesah eyang putri pada ibu….”Kata Eko sambil senyum-senyum.
“Iya, Yah…kalau eyang putri kesini dan bicara sama ibu, mas Eko sering menguping….” Kata Dwi sambil tertawa.
“Maaf maaf…bukan maksud hati  tidak sopan…tapi kasihan sama eyang putri….” Kata Eko lagi.
“Kamu kasihan sama eyang putri, dan puisi ini  wujud simpatimu pada eyang putri, begitu maksudmu?” Tanya mas Permadi.
“Ya bukan….yang bisa membantu  eyang kan hanya padhe Handi….puisi itu kan cuma ungkapan perasaan hatiku yang terpendam….” Kata Eko sambil tertawa.
“Itu namanya mas Eko jujur….” Kata Dwi sambil tertawa.
“Betul! Seratus buat dik Dwi.” Kata Eko sambil mengacungkan jempol pada Dwi.
“Jujur memang bagus…tapi kalau kejujuran itu menyakitkan hati orang, lebih baik nggak usah diungkapkan. Apalagi kalau nggak akan memperbaiki keadaan. Biarkan saja.” Kataku.
“Betul kata ibu….apakah dengan puisi itu padhe Handi jadi sadar? Enggak, kan? Dia malah marah-marah.” Kata mas Permadi.

Eko mengangguk-angguk tanda mengerti. Kami memberi pengertian pada kedua anakku. Bahwa di dunia ini penuh keaneka ragaman tabiat orang. Ada orang yang baik, ada orang yang tidak baik. Ada yang sabar ada yang emosian. Bahkan gaya hidup orang juga beda-beda. Ada yang hidup sederhana, ada yang suka foya-foya tidak perduli masa depannya. Handi adalah orang dengan gengsi yang tinggi. Dia akan melakukan apapun, uang dari manapun. Yang penting bisa membeli barang-barang mahal demi mendapat pujian sebagai orang kaya. Nampaknya kedua anakku dapat memahami hal itu.


Sejak kejadian itu Handi seperti menjaga jarak dengan keluargaku, terutama  pada Eko. Sikapnya pada Eko selalu sinis. Kalau secara tak sengaja bertatap muka, Handi langsung buang muka. Tapi kami menerima semua perlakuan Handi dengan lapang dada. Kami menyadari kalau Handi sangat sakit hati dengan syair puisi itu. Mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi.Tapi walau begitu aku dan mas Permadi sering pendekatan pada Handi. Walau Handi sering acuh, kami tetap sabar. Entah sampai kapan Handi akan membuka hatinya kembali. Aku tak tahu…….

Tapi walau Handi menjauhi kami, justru sebaliknya dengan budhe Marni yang makin sering ke rumah, makin sering mengeluhkan usaha Handi yang makin morat-marit. Sawah habis terjual, malah sekarang harus mencicil utangnya yang seratus juta. Kedua motor barunya dijual. Kami menganjurkan agar pengelolaan konveksi diambil alih budhe Marni.

Sekarang pengelolaan konveksi diambil alih budhe Marni dan menantunya. Untuk penjualan, keuangannya  yang memegang mereka. Menantunya begitu telitinya mencatat semua pengeluaran dari yang sekecil apapun. Mereka tidak pernah jalan-jalan maupun makan di luar lagi. Benar-benar sangat ketat menagemen keuangannya.Tugas Handi hanya kulakan kain ke Jakarta. Yang lain masa bodoh. Kalau kulakan Handi dikasih upah selayaknya pekerja. Handi layaknya buruh di usahanya sendiri. Namun cicilan yang sangat besar membuat kehidupan mereka kempas kempis, entah sampai kapan konveksi itu bertahan hidup.


Memang kehidupan bagai roda pedati. Terus berputar, kadang diatas kadang dibawah. Saat diatas janganlah sombong, saat dibawah janganlah rendah diri. Semua itu ada yang mengatur. Namun kita sebagai manusia tetap harus berusaha dan berdo’a. Menjalankan kehidupan ini sesuai kaidah-kaidah yang ada. Baik kaidah dalam masyarakat maupun dalam agama. Mensyukuri semua nikmatNya. Menerima ujian-ujian dengan lapang dada. Yang terpenting, berusaha berbuat yang baik dan menjauhi yang buruk. Maka kita akan selalu dalam lindunganNya….itulah rahasia hidup

Belum ada Komentar untuk "PUISI PENYEBAB PERSETERUAN (Sebuah Cerpen) By Ami Daria"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel