SERIBU TAKTIK (Novel/Cerbung) By Ami Daria (Part 1-3)

SERIBU TAKTIK  

(Novel/Cerita Bersambung) By Ami Daria

Setelah saya membuat kumpulan cerpen dan Skenario, kini saya merambah membuat Novel/Cerita panjang, yang saya buat secara bersambung tiap hari KAMIS. Cerita ini seru karena tokoh-tokohnya yang merupakan dua saudara kembar, punya seribu taktik untuk menghadapi segala masalah dalam hidupnya. Oke....selamat membaca.....


planetcerpen.com Seribu Taktik menceritakan dua saudara kembar Kensi dan Mitha dengan kepribadian yang berbeda. Kensi tomboy, tegas, mandiri, dan cuek. Sementara Mitha, feminim, manja, lemah lembut, kurang tegas, dan selalu menjaga perasaan orang lain tanpa memikirkan diri sendiri.

Sejak ibu kandungnya meninggal dan papanya menikah lagi, mereka harus berjuang mati-matian demi masa depannya. Mereka putri dari pegusaha sukses  Santoso, namun kehidupan mereka tidaklah bergelimang harta selayaknya anak pengusaha sukses karena segala keputusan Santoso dibawah kendali istri  mudanya yang baru dinikahi enam bulan dan sekarang sedang mengandung buah cinta mereka.

Herman, adik kandung ibu mereka bersedia membiayai kuliah mereka. NamunHerman juga dibawah kendali istrinya. Jadi atau gagalnya mereka kuliah, tergantung keputusan Mega, istri Herman.

Ketidaktegasan Santoso dan Herman yang dibawah kendali istri sangat mempengaruhi keputusan terhadap masa depan mereka juga.Mereka harus berjuang sendiri. Tidak hanya itu, karena istri-istri dari Papa dan Omnya selalu mencari celah untuk mengagalkan segala jerih payah mereka.Selain itu ketidak harmonisan di keluarga Herman, mau tak mau ikut menyeret mereka ke dalamnya juga. 

Mampukah mereka melepas diri dari belenggu itu?
Begitu banyak jalan berliku yang harus mereka tempuh. Dengan orang-orang sekeliling yang menghalalkan segala macam cara demi mencapai ambisinya. Dapatkah mereka berdua melewati semua rintangan itu?


BAGIAN 1
Mereka tinggal bersama ayahnya Santoso dan Santi, yang baru resmi sebagai ibu tiri enam bulan yang lalu. Santi sangat galak pada kedua anak tirinya, terutama terhadap Mitha. Sebenarnya Santi lebih cocok sebagai kakak mereka karena jarak usia mereka hanya selisih delapan tahun. Sementara jarak usia dengan Santoso, sangatlah jauh. Santi 27 tahun sementara Santoso 54 tahun. Tepat dua kali lipatnya. Dengan jarak yang jauh itulah membuat Santoso sangat menyayangi istrinya, melebihi rasa sayang terhadap dua putrinya.
Merasa di atas angin sifat aslinya Santi muncul. Dia tak setuju bila Santoso mau menguliahkan kedua putrinya. Dan bila Santoso menolaknya, Santi melancarkan senjata pamungkas yang mampu membuat Santoso tak berkutik
                                                                                        
Kensi sedang tiduran di kamarnya sambil menirukan lagu slow rock dari radio.Suasana kamarnya terkesan maskulin. Dinding warna biru, seprei juga biru dengan gambar kucing. Didinding terdapat foto Kensi dengan pakaian karate.
Mitha sedang duduk sendiri di lantai, menyisir rambut sambil gerak bibirnya menirukan lagu sendu dari radio yang ada disamping tempat tidur.Mitha yang feminim lebih suka warna yang lembut. Serba pink. Seprei pink bergambar bunga-bunga kecil, dinding juga pink.Berbagai boneka berjajar ditempat tidur bersandar dinding. Didinding terdapat foto Mitha dengan busana kebaya.

Kensi membuka pintu kamar, melongokan wajah sambil tersenyum.
“Sedang apa nona manis....? Cari jerawat? Biasanya sibuk cari jerawat.” Kata Kensi sambil berbaring ditempat tidur dan memindah gelombang radio.
“Hoe! Jangan diganti! Itu lagunya bagus-bagus” Mitha protes.
“Alah....lagu cengeng begini....nanti kamu jadi sentimentil....menangis, meratap...waduh...hidup ini perlu diperjuangkan. Bukan diratapi.” Kata Kensi.
“Pokoknya bagus menurut seleraku. Yang penting lagunya enak didengar.”
“Cari lagu itu yang membuat kita semangat, berpikir positif. Jangan yang bikin kita sedih tak menentu, seolah-olah putus cinta, patah hati. Kesedihan bukan untuk disebarluaskan Non...tapi untuk dilupakan.”
“Ini kamarku. Selera musiknya juga seleraku. Kalau nggak mau dengar, keluar. Go!”  Mitha mendorong Kensi hingga keluar dari kamarnya.

Dengan cueknya Kensi keluar kamar sambil bersenandung. Sejenak kemudian kepala Kensi nongol dari balik pintu.
“Sory lupa. Sebenarnya maksudku kesini mau kasih tahu kalau kamu dipanggil.”
“Dipanggil siapa?”
“Ibu tiri hanya cinta kepada....ayahku saja...” Kata Kensi sambil ngeloyor pergi.

Santi sedang makan. Dimeja terdapat beberapa piring dan gelas kotor. Mitha datang menghampiri.
“Ada apa, Tante...” Tanya Mitha.
“Ada apa? Cuci semua piring dan gelas yang kotor. Dasar pemalas!”  Santi sangat marah.
Mitha mengangguk dan membawa piring serta gelas yang kotor ke dapur.
“Hoe! Ini mejanya dilap dulu....:” Bentak Santi lagi.
Mitha muncul dan membersihan meja lalu ke dapur melanjutkan pekerjaannya.
Mitha mencuci piring dan gelas diawasi Santi yang mondar-mandir dibelakangnya.
“Kalau udah selesai, setrika pakaian papamu. Jangan di kamar melulu.” Kata Santi.

Santi tak menyadari kalau Kensi mengendap-endap dan berdiri di belakangnya.
“Aku ini ibumu, bukan pembantu. Aku sibuk masak kalian enak-enakan tidur. Keluar hanya untuk makan. Mulai besok kamu yang masak. Bilang sama Kensi. Agar dia yang cuci dan setrika baju papamu!”
“Oh ya? Lalu apa yang akan kamu lakukan disini?” Tanya Kensi dari belakang Santi.
“Ken...Kensi? Sejak kapan kamu disini?” Santi tampak kaget.
“Sejak kemarin mungkin. Yang jelas sudah lama. Sudah mendengar semua perkataanmu. Dan jawabnya no way.....Kami tak kan melaksanakan perintahmu, tahu?” Kata Kensi sambil melotot pada Santi.

Kensi menarik Mitha agar berhenti mencuci piringnya. Walau ragu-ragu namun Mitha menuruti ajakan Kensi.
“Ibu tiri yang terhormat. Mestinya kamu berterima kasih pada kami. Kami sudah membantu peker jaanmu. Aku nyapu dan ngepel. Mitha mencuci peralatan dapur. Ibu tiri  masak. Adil, kan?” kata Kensi.
“I...iya....” Santi tampak ketakutan.
“Kalau kami egois. Kami nggak akan membantumu. Bukankah kamu yang mengusir mbok Inem?   Dulu janjinya sama papa mau mengantikan semua tugas mbok Inem....kan duit yang seharusnya buat bayaran mbok Inem masuk ke kantongmu...”
“Iya sih....” Jawab Santi.
“Lha itu sadar....kamu Mitha. Kalau dibentak-bentak lawan dong...kamu sama dia kan sama besarnya. Kalau berkelahi paling-paling kamu yang menang....Orang sewenang-wenang itu harus dilawan....” Kensi emosi.
“Nggak apa-apa Kensi...ini tugasku..” Mitha mau melanjutkan mencuci piring.
“Aku tahu. Tanpa disuruhpun nanti sore pasti kamu cuci semua. Ibu tiri aja yang kebanyakan tingkah. Sehari makan lima kali. Tiap habis makan harus langsung dicuci. Nyuruhnya membentak-bentak lagi. Lagaknya kayak bos aja. Ayo  kerjakan sendiri. Makan makan sendiri, giliran cuci piring suruh orang lain.” Kata Kensi.
“Lho...katanya cuci piring tugas Mitha...?” Santi membela diri.
“Memang. Tapi nanti sore. Pokoknya menjelang makan malam semua sudah bersih. Jangan makan sehari lima kali, habis makan selalu bentak-bentak Mitha suruh langsung cuci! Lagaknya kayak preman....bikin aku gemes aja. Gemes pingin nendang...” Kata Kensi sambil tertawa geli.
Santi hanya diam.  Awas! Belum tahu apa yang akan kulakukan padamu. Kamu akan menyesal seumur hidup. Kata Santi dalam hati.

Mereka kedatangan Herman, adik ipar Santoso. Kebetulan Herman ada tugas  dari kantornya ke kota mereka. Jadi daripada menginap di hotel. Herman lebih suka menginap di rumah Santoso agar dapat ngobrol-ngobrol dengan kedua keponakannya.
Herman menanyakan kelanjutan pendidikan kedua keponakannya yang sudah mau lulus SMA. Santoso belum bisa memastikan, apakah kedua putrinya mau dikuliahkan atau tidak. Dia tak dapat memutuskan tanpa persetujuan Santi.

Malam sudah larut. Namun Kensi tak dapat memejamkan mata. Dia masih teringat jawaban papanya yang tak dapat memutuskan, mau menguliahkan mereka atau tidak. Padahal dulu papanya pernah berjanji mau menguliahkan mereka. Kenapa sekarang jadi pindah haluan? Kensi benar-benar tak habis pikir.
Kensi memutuskan untuk bergabung ngobrol dengan papa dan Omnya. Tapi saat ke ruang tengah sudah sepi. Mereka sudah tidur. Kensi berniat kembali ke kamarnya namun dia menangguhkan keinginannya ketika tanpa sengaja mendengar pembicaraan Santi dan Santoso dari kamar mereka.

Kensi menempelkan telinganya dipintu kamar Santoso agar dapat mendengar pembicaraan mereka secara lebih jelas. Tanpa Kensi sadari, Herman berjingkat-jingkat di belakangnya dan ikut menguping.
“Aku takut  kalau Papa membiayai kuliah mereka, nggak ada uang buat biayai kelahiran anak kita nanti.” Kata Santi.
“Jangan khawatir. Tabungan  Papa banyak. Kalau buat kuliah mereka juga persiapan kelahiran anak kita, Papa kira cukup.” Jawab Santoso.
“Nggak hanya itu, Pa....Anak kita nanti juga butuh biaya perawatan, pendidikan dan lain-lain yang  kadang diluar perhitungan. Aku nggak mau kalau anakku nanti nggak dapat pendidian yang layak.”
“Mama nggak usah khawatir...kalau mereka dapat pendidikan tinggi maka harapan agar mereka hidup layak lebih besar. Bila saatnya tiba, mereka sudah mandiri. Mereka bisa membantu membiayai pendidikan anak kita.”
“Masa? Aku nggak percaya....apa mungkin mereka akan menyayangi anakku yang hanya adik tiri? Rasanya nggak mungkin..” Santi terdengar ragu.
“Papa yakin mereka akan menyayangi selayaknya adik kandung. Percayalah. Mereka anak yang baik.” Santoso menyakinkan.

Hening sejenak. Tampaknya mereka sedang berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
“Nggak! Pokoknya aku nggak setuju. Begini aja....Papa pilih salah satu. Menguliahkan mereka tapi kita cerai, atau menyuruh mereka cari kerja.” Kata Santi .
Keadaan hening lagi. Kensi membalikan badan dan.... “Auh!” Kensi langsung menutup mulutnya. Dia sangat kaget hampir saja menubruk Herman.

Herman mengandeng Kensi ke ruang depan. Menyuruh Kensi duduk dan menyalakan lampu.
“Ada pa sih, Om?” Kensi tak sabar.
“Kamu sebenarnya ingin kuliah, nggak?” Tanya Herman.
“Ya pingin. Kenapa sih Om? Kok Om tanya itu?” Tanya Santi tak mengerti.
“Om mau membiayai kuliah kalian berdua. Tapi Om harus bicara dulu sama Tante Mega.” Jawab Herman mantap.
“Oh...begitu....? Oke deh.” Kensi tersenyum senang.
                                             
                                                BERSAMBUNG

Bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Kensi dan Mitha jadi kuliah? Untuk tahu kelanjutannya.......Bacalah pada bagian ke 2 yang akan hadir pada hari ‘Kamis’ mendatang. Oke.....

Hallo.....teman-teman,.....sekarang hari Kamis, saatnya saya melampirkan cerita bersambung 'Seribu Taktik' bagian ke 2......selamat membaca......


                SERIBU TAKTIK
(Novel/Cerita Bersambung) By Ami Daria  
  
BAGIAN 2
Setelah berunding dengan istrinya, Mega. Akhirnya Herman memberitahu lewat telpon hasil rundingannya, yaitu membiayai kuliah salah satu dari mereka.
Dengan keputusan dari Herman tersebut, Kensi dan Mitha berharap Papanya mau membiayai salah satunya juga sehingga keduanya kuliah semua. Namun Santoso tetap pada keputusan semula.
Setelah berunding, akhirnya Mitha dan Kensi bisa memutuskan, siapa yang akan kuliah, dan Herman datang menjemputnya.

Mitha dan Kensi dinyatakan lulus. Saat makan malam mereka membahas mengenai jurusan yang akan diambil saat kuliah nanti. Namun Santoso memutuskan tidak akan menguliahkan kedua putrinya. Saat Mitha menanyakan alasannya, Santoso menjawab tak punya biaya.
“Bukan karena pengaruh seseorang, Pa...?” Tanya Kensi sambil melirik Santi yang duduk di sebelah santoso.
“Maksudmu?!” Santoso sangat kaget.
“Kensi nggak perlu menguraikan. Toh Papa udah tahu sendiri....”
“Tidak usah berputar-putar. Apa maksudmu?” Santoso mulai emosi.

Mereka saling tatap dengan pandangan yang tajam.Mitha berusaha menyimpulkan dari tingkah mereka. Belum sempat Mitha menyimpulkan terpotong ucapan Kensi yang sangat tegas.
“Kensi mendengar pembicaraan Papa di kamar saat itu.” Jawab Kensi.
“Pembicaraan, apa?!” Santoso kaget.
“Ya...mengenai kuliah kami.” Kensi menjawab sambil ekor matanya menghujam ke Santi.

Mendapati perlakuan seperti itu Santi gugup juga. Namun dia mencoba bersikap setenang mungkin.
“Papa benar-benar tak mengerti maksud pembicaraan kamu?” Santoso pura-pura bingung.
“Bicara yang jelas. Jangan bertele-tele....” Kata Santi.
“Kamu nggak berhak ikut bicara dalam masalah ini!” Kata Kensi tegas.
“Kensi! Yang sopan kalau bicara dengan ibumu!” Santoso sangat marah.
“Dia emang selalu begitu Pa...nggak pernah menghargaiku sama sekali.” Kata Santi sambil merajuk manja.
“Bagaimana Kensi bisa menghargai? Kalau dia tak bisa menghargai diri sendiri?” Kata Kensi gusar.

Santoso tampak sangat marah.Seperti ingin menelan Kensi mentah-mentah. Kensi berdiri sambil meletakkan sendok dan garpunya.
“Baiklah. Kalau bu tiri nggak mau mengaku mempengaruhi Papa supaya nggak membiayai kuliah kami nggak apa-apa. Tapi seharusnya Papa bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan asal menuruti kemauannya.”  Kata Kensi sambil meninggalkan meja makan.
“Benarkah? Ibu tiri mempengaruhi Papa agar enggak membiayai kuliah kita?” Mitha seakan tak percaya.

Kensi menghentikan langkahnya sambil mengangguk mantap.”Tapi biarlah. Saat ini kita di pihak yang lemah, kita tergantung pada pihak yang kuat. Selanjutnya biarlah waktu yang memutuskan.” Kensi melanjutkan langkahnya.
Mitha menatap papanya penuh kecewa lalu berlari mengejar Kensi.
“Mitha makan dulu...!” Teriak Santoso.
“Nggak laper Pa....” Jawab Mitha dari jauh.

Santoso  meletakkan sendoknya. Hati kecilnya membenarkan Kensi. Dia marah pada diri sendiri. Namun saat melihat Santi menunduk ketakutan hatinya luluh juga.
“Papa marah padaku?” Tanya Santi ketakutan.
Santoso mengeleng sambil tersenyum. “Apa yang sudah kuputuskan nggak bisa diganggu gugat.”
Santi tersenyum lega.

Kensi dan Mitha yang masih lapar akhirnya makan malam di penjual bakso langganannya. Mitha menumpahkkan kekesalan atas sikap papanya yang terpengaruh ibu tirinya. Namun Kensi selalu menghibur. Tidak kuliah bukanlah harga mati. Banyak orang sukses tanpa mengenyam bangku kuliah. Mereka tak ada pilihan jadi mau tak mau harus menerima kenyataan itu. Mereka harus membuang jauh-jauh keinginan untuk kuliah.

Pagi hari Kensi mendapat telepon dari Herman, yang menyatakan bersedia membiayai kuliah tapi cuma salah satu dari mereka. Kensi langsung menuju kamar Mitha untuk memberitahukan hal itu. Mitha yang sedang dandan sampai kaget.
“Aku dapat kabar gembira dari Om Herman.” Teriak Kensi gembira.
“Kabar gembira apaan?” Mitha penasaran.
“Om Herman mau membiayai kuliah kita.....” Jawab Kensi masih ceria.
“Alhamdulillah.....benarkah?” Mitha seakan tak percaya.
“Benar.Tapi...” Kensi tak melanjutkan omongannya.
“Tapi kenapa...?” Mitha penasaran.
Kensi hanya diam, tak mampu mengatakan hal yang sebenarnya.
“Kensi....tapi kenapa...?” Mitha makin penasaran.
“Om Herman bersedia membiayai kuliah tapi cuma salah satu dari kita. Enggak keduanya. Kalau begitu kamu aja yang kuliah.” Kata Kensi pelan.
“Hanya salah satu dari kita? Kalau begitu kita ngomong sama papa. Siapa tahu  mau membiayai satunya. Jadi kita berdua bisa sama-sama kuliah. Bagaimana?” Usul Mitha.

Namun ternyata harapan mereka  hanya tinggal harapan. Santoso tetap bersikukuh tidak akan membiayai kuliah mereka, walau cuma salah satu.  Santoso takut ancaman Santi yang akan melakukan gugatan cerai benar-benar dilakukan. Santoso tak dapat membayangkan kalau harus cerai dengan Santi.Cintanya begitu dalam melebihi dalamnya Samudera Atlantik sampai-sampai akal sehatnya hilang ditelan bumi.

Di kamarnya Kensi berbaring sambil memutar otak mencari cara agar Mitha yang mengambil kesempatan itu. Tapi sampai lama tak menemukan juga. Otaknya benar-benar tumpul. Mitha masuk kamar dan tiduran di samping Kensi.
“Aku sudah memutuskan agar kamu aja yang kuliah.” Kata Mitha.
“Sama. Aku juga udah memutuskan agar kamu yang kuliah.” Jawab Kensi santai.
“Ya enggak...kamu aja....aku nggak mungkin kuliah sementara kamu enggak...” Kata Mitha lagi.
“Sama. Apalagi aku. Aku nggak mungkin meninggalkan kamu tinggal bareng ibu tiri....makin merajalela dia....Mendingan aku yang disini. Ibu tiri kan takut sama aku.....” Kata Kensi sambil tertawa geli.
“Kalau begitu kita nggak usah kuliah dua-duanya.” Kata Mitha.
“Jangan! Ada kesempatan emas harus dimanfaatkan. Kamu aja...kalau aku sih...sebenarnya nggak pingin kuliah. Capek....tiga belas tahun belajar melulu. Otak ini mau jebol rasanya.”  Kata Kensi.
“Ah...itu sih alasan kamu doang....” Kata Mitha sambil tertawa.

Saat mereka sedang berdebat. Herman menelepon dan menanyakan keputusan, siapa yang akan mengambil kesempatan itu.
“Mitha aja Om.....masalahnya Mitha takut sama mak lampir.....kan gawat. Kalau aku,  justru mak lampir yang takut padaku. Jadi kan aman.” Jawab Kensi sambil tertawa.
“Siapa mak lampir?” Herman tak mengerti.
“Ya....ibu tiri Om....siapa lagi....?” Kata Kensi sambil tertawa geli.
“Oh.........ibu tiri kalian galak, ya....?”
“Sangat Om......terutama sama Mitha. Mitha kan terlalu lemah lembut. Dia bisanya cuma iya iya doang. Padahal ibu tiri kan termasuk kategori orang super egois and galak.” Jawab Kensi.

Dengan berbagai alasan Kensi itu, akhirnya Herman memutuskan agar Mitha yang kuliah dan tinggal di Jakarta. Herman segera menjemput Mitha.  Walau hati sangat berat, mereka harus tetap berpisah. Kensi sangat sedih tapi bagaimana lagi?
Santoso tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya berharap itu yang terbaik untuk Mitha. Sementara Santi bersorak penuh kemenangan. Satu sudah pergi...Tinggal kamu Kensi....Kamupun harus pergi dari rumah ini. Kata Santi dalam hati.

Herman dan Mitha sampai di rumah, sudah ditunggu Mega, Munah dan Zahra.
Herman memberi salam sambil masuk rumah.
“Ma...ini Mitha....Zahra...ini mbak Mitha.....” Kata Herman.
“Tante....bu Munah....dik Zahra...pa kabar.....” Kata Mitha sambil salaman dengan mereka.
“Ini mbak Mitha ya.....asyik...Zahra ada temannya.....” Zahra terlihat sangat antusias.
“Betul. Mbak akan menjadi teman Zahra....” Kata Mitha sambil menjawil pipi Zahra, gemas.
Sebaliknya Mega dan Munah dingin dingin saja. Mereka sama sekali tidak mempersilahkan Mitha duduk. Mitha menyadari kalau kehadirannya tidak diinginkan mereka. Namun bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur. Mitha cuma berharap suatu saat nanti mereka akan menyukainya.

BERSAMBUNG
Benarkah mereka akan menyukai Mitha yang lemah lembut itu? Untuk tahu jawabannya. Bacalah bagian 3 yang akan hadir pada hari ‘Kamis’ mendatang. Oke.....



SERIBU TAKTIK (Novel/Cerita bersambung) By Ami Daria
SERIBU TAKTIK : BAGIAN 3
Sekeras apapun usaha Mitha mencari simpati, tetap gagal apalagi motivasi Mega dan Munah, tidak ingin uang Herman berkurang untuk membiayai kuliah Mitha. Begitu banyak cara untuk mencari-cari kesalahan Mitha. Sanggupkah Mitha menghadapi semua ini?

Betapa bahagia hati Mitha. Akhirnya dia kuliah juga. Besok hari pertama dia mau kuliah naik angkot. Biasanya diantar Herman sekalian ke kantornya. Tapi Mitha tak enak hati kalau harus diantar terus, seperti anak kecil.
Herman menyuruh Mitha minta uang ke Mega untuk ongkos naik angkot. Walau ragu juga malu, Mitha memberanikan diri menemui Mega di kamarnya.
Namun langkah Mitha terhenti saat mendengar pembicaraan Munah dan Mega.
“Nggak usah dikasihkan. Enak aja....emangnya dia anak siapa? Masih untung kuliah udah dibiayai, masa transport kamu juga yang kasih......Nggak usah dikasih.” Munah mengkompori Mega.
“Ya kalau Mitha nanti kesini, Kukasih dulu buat seminggu. Setelah itu ya...nggak usah....” Kata Mega.
Mitha ragu-ragu untuk masuk. Aduh....gimana, ya?  Mungkin sebaiknya aku nggak usah minta uang tante Mega aja. Nggak enak hati.
“Tante....Mitha berangkat kuliah dulu, Tante.....” Mitha bicara di depan pintu kamar.
“Iya......”Jawab Mega dari dalam kamar.
“Siip! Nggak usah dikasih uang transport.” Munah mengacungkan jempol.
Mega hanya tersenyum sambil keluar.

Mitha mendekati Zahra yang sedang nonton TV. “Hallo Zahra sayang....mbak Mitha berangkat kuliah dulu,ya......”
Bukannya menjawab, Zahra malah lari ketakutan. Mitha kebingungan. Kenapa Zahra ketakutan padaku? Wajahku kan nggak menakutkan. Malah...masuk kategori imut...kok aneh....kenapa, ya?Mitha bertanya dalam hati.

Dalam angkutan Mitha sms Kensi. “Kensi....Tante Mega nggak mau kasih uang buat transport....Hari ini sampai seminggu aku ada uang sih...tapi bagaimana kalau uangku ini habis? Masa aku jalan kaki?”
Mitha turun angkutan, sambil jalan kaki masuk pintu gerbang dia membaca balasan sms Kensi. “Tenang aja Mitha...nanti siang aku transfer duit ke rekening kamu, ya......Yang penting kuliah yang bener.”
Mitha tersenyum lega, masih sambil jalan menuju kelas.Tiba-tiba Diit diit.........! sebuah mobil melintas disebelahnya.
“Kalau jalan jangan sambil ngelamun mbak......” Teriak pemilik mobil.
Mitha hanya melotot sambil mengacungkan tinju. Pemilik  mobil hanya tertawa ngakak. Begitu turun dari mobilnya ditempat parkir, dia langsung mengejar Mitha
“Hallo! Mahasiswi baru, ya...” Tanya dia.
“Yap! “Jawab Mitha dengan cueknya
“Kenalkan. Nama gue Hendra, elu siapa?” Tanya Hendra sambil mengulurkan tangan.
“Tami.....” Jawab Mitha memasukan hp ke tas kuliahnya dan mempercepat jalannya.
“Tami? Kok seperti nama orang tua? Oh ya, gue juga mahasiswa baru kok.” Katanya lagi sambil mempercepat langkahnya sehingga sejajar dengan Mitha.
“Perasaan tadi aku nggak tanya, kok kamu menjawab?” Kata Mitha lagi.
Hendra hanya angkat bahu sambil tersenyum.
Ini cewek kok cuek banget, ya....? Kata Hendra dalam hati.
Biasanya kalau cewek didekati dia langsung klepek-klepek. Cewek ini kok beda. Hendra jadi penasaran. Memang Hendra tampan, mirip-mirip Aliando.Tak heran kalau banyak cewek yang langsung suka pada pandangan pertama. Tapi yang ini beda..

Pulang kuliah Mitha ingin berbaring sejenak. Tadi berdesakan dalam bis, dengan begitu banyak aroma minyak wangi murahan, membuatnya sedikit mual. Namun belum sempat Mitha masuk kamar, yang ada di belakang dekat dapur, Munah memanggilnya dengan cara berteriak.
“Mitha.....! Sini!” Teriak Munah.
“Iya Oma.........” Mitha berlari kecil mendekati tempat duduk Munah, di ruang tengah.
“Oma...Oma...emangnya gue Oma elu? Elu kalau manggil gue itu Nyonya Besar....jangan Oma....” Kata Munah dengan sombongnya.
“Baik Nyonya Besar......” Mitha tersenyum geli. Badan kurus kering plus keriput ala dahan kering kok minta dipanggil nyonya besar.....ya nggak nyambung.....kata Mitha dalam hati sambil menyembunyikan senyumnya. Tapi tak apa. Biar dia senang. Membuat orang senang kan mendapat pahala.
“Bengong! Itu cucian dicuci semua.....melihat baju kotor menumpuk, kepala jadi pusing.....!” Munah tolak pinggang.
“Baik....Nyonya Besar....” Jawab Mitha sambil ke dapur  tempat baju kotor menumpuk.
Mitha mencuci baju itu dengan mesin cuci. Sambil menunggu mesin cuci bekerja, Mitha mencuci piring, gelas, mangkok, semua peralatan dapur yang kotor.
“Makan Mitha...itu lauknya di lemari, ya....?” Mega tiba-tiba sudah berdiri di belakang Mitha.
“Iya Tante....makasih.” Jawab Mitha.
“Hem.......” Mega beranjak pergi.
Selesai mencuci semua peralatan dapur, Mitha bermaksud makan. Memang sebenarnya perut sudah keroncongan minta diisi. Namun rasanya kurang etis kalau belum mengerjakan sesuatu langsung makan.
Sebelum makan Mitha sms Kensi. “Apa kabar Kensi....ini aku baru pulang kuliah, langsung mencuci seabrek baju kotor. Mencuci peralatan dapur dll.”
“Kabar baik Mithaku peang.....Alhamdulillah kamu udah pulang kuliah dengan selamat. Cuci baju juga peralatan dapur bukan pekerjaan berat, bukan? Jalani semua itu dengan ikhlas. Oke.....” Balas Kensi.
“Oke deh.....untung dulu ibu tiri kita galak, ya...jadinya aku menemukan orang galak seperti dia, udah nggak kaget. He..he..he..” Balas Mitha lagi.
“Betul betul betul. Ternyata begitu banyak orang yang galak ala ibu tiri....tak apa. Yang penting kamu masih bisa melakukan semua itu. Masih bisa makan, tidur, dan kuliah tentunya....” Balas Kensi.
Mitha jadi malu pada diri sendiri. Maksud hati mau mengeluh karena begitu banyak kerjaan rumah. Tapi Kensi malah menyuruhnya mensyukuri semua itu. Dipikir-pikir memang benar kata Kensi.
Ada sms masuk lagi “Oh ya, Mitha....tadi aku udah transfer buat transport. Gunakan sebaik-baiknya, ya.....bye....”
“Oke....makasih banyak Kensiku peang.....” Mitha tersenyum lega.
Mitha sangat bersyukur memiliki saudara kembar yang begitu menyanyanginya. Mitha jadi bisa menerima semua itu dengan lapang dada. Bersyukur masih bisa kuliah. Mengerjakan semua itu anggap saja sebagai gantinya biaya kuliah yang dikeluarkan Om Herman.

Mitha mengambil nasi lalu membuka lemari lauk. Tampak semangkok sayur asem, ikan asin dan tempe goreng.
“Alhamdulillah.....masih ada nasi beserta lauk untukku makan siang....” Mitha mulai makan.
“Tadi beli ayam cuma setengah kilo jadi elu nggak kebagian.....” Kata Munah yang kedapur mengambil air minum.
“Iya Nyonya Besar.....ini sudah lebih dari cukup kok.....” Mitha makan dengan lahapnya.
“Hem....” Munah mencibir sambil melangkah pergi.
Nyonya besar tapi badannya kurus kering plus keriput ala dahan kering he..he..he..Mitha tertawa geli. Hampir saja dia tersedak. Dalam benak Mitha, Nyonya Besar itu, gendut, berkulit putih, pakai kaca mata. Jadi terkesan orang kaya, sukses. Lha ini......??

Mitha memang selalu sms Kensi atas segala sesuatu yang di kerjakan. Keadaan keluarga Herman, beserta tabiat masing-masing anggota keluarga. Satu hal yang menganjal dalam pikirannya, adalah Zahra yang masih takut padanya. Kenapa? Mitha juga tak mengerti. Mitha gemas melihat Zahra yang imut, tapi kenapa Zahra takut melihat dirinya? Aneh.......

Hari ini hari Minggu. Setelah menyapu, mencuci semua peralatan dapur dan sarapan, sekarang Kensi bersantai di kamar sambil mengotak-atik hpnya mencari lowongan kerja. Masa nggak ada lowongan kerja untuk pendidikan SMA? Ada...tapi kok pelayan toko.....Sekolah sampai dua belas tahun, buntut-buntutnya ya begini juga.....cari kerja!
“Kensi....! Tuh! Dipanggil Papamu!” Terdengar Santi mengetuk pintu.
“Baik Nyonya Besar.....” Kensi melompat dari tempat tidur. Kalau ini dipanggil nyonya besar lebih pantas. Kan perutnya besar.......Kensi tersenyum sendiri dengan kesimpulannya.

 Kensi menghampiri papanya yang sedang baca koran di teras.
“Ada apa, Pa.....?” Kensi duduk dikursi sebelah Santoso.
“Begini....papa perhatikan tiap hari kamu kok di kamar...melulu. makan tidur makan tidur. Bosan papa melihatnya. Mbok coba kamu cari kegiatan....atau cari kerja.” Kata Santoso sambil meletakkan korannya.
“Kok papa bilang bosan melihatku setiap hari makan tidur makan tidur, memang kapan Papa melihatku? Kan papa berangkat pagi pulang malam?” Kensi penasaran.
Santoso tertegun. Kensi tahu kalau papanya dapat pengaduan dari ibu tirinya.
“Ini uang jatah bulanan kamu. Cuma tiga bulan. Setelah ini kamu harus kerja.” 
“Papa kan pengusaha sukses....apakah Papa nggak bisa membantuku cari kerja? Di teman-teman bisnis papa misalnya?”
Untuk kedua kali Santoso hanya diam terpaku.
“Kalau dikit dikit Papa....kapan kamu akan mandiri....?” Kata Santi, yang tiba-tiba sudah ada di belakang Kensi.
“Aku maunya Papa memberiku kail. Bukan ikan....” Kata Kensi lagi.
 “Apa maksudmu?” Santi tak mengerti.
“Kamu tak akan paham. Tapi aku yakin, Papa pasti paham......” Jawab kensi.
Santi tampak sangat tersinggung. Namun Kensi tampak santai saja mendapati Santi yang mengeram bagai ayam siap bertelur. Mendapati hal itu Kensi malah tertawa geli.
“Oh ya Pa...mana buat Mitha.....” Kensi mengeladahkan tangan.
“Mitha? Bukannya Mitha sudah diurus Herman?” Tanya Santoso kaget.
“Tante Mega kan sebelas dua belas sama ibu tiri.....”Kata Kensi sambil mengerling Santi.
“Maksudmu?”
“Sama-sama pelit Pa......Duit bukan haknya. Tapi maunya menguasai......sama Om Herman disuruh kasih uang transport tapi nggak dikasihkan. Ditilep sendiri....sama tuh....” Kensi menyindir Santi.
“Sudah.....kamu sukanya mencari-cari kesalahan ibumu.” Kata Santoso.
“Sebaiknya kamu cari kerja secepatnya. Biar jangan suka cari kesalahanku. Kurang kerjaan aja.” Santi mengerutu cari muka pada Santoso.
“Benar ibumu. Kamu memang harus cari kerja. Biar nggak  sibuk cari kesalahan orang lain.” Kata Santoso.
“Aku nggak kaget, Pa. Aku sudah menduga Papa pasti mendukung dia. Pokoknya apapun kata dia, Papa setuju seratus persen. Kalau perlu menjebur ke jurang juga Papa temani. Iya, Kan?” Kata Kensi tenang.
“Kensi! Lama-lama kamu makin kurang ajar!” Santoso emosi.
“Tenang Pa.....Kensi sedang cari cari lowongan kerja. Kalau udah dapat Kensi langsung cabut dari rumah ini. Bukankah itu yang ibu tiri inginkan?”
“Kamu memang benar-benar......” Santoso tak melanjutkan kata-katanya, tak sanggup menahan sesak dalam dada.
“Berarti Kensi benar ya Pa...?Oh ya, Pa....gimana? Mitha mau dikasih duit, nggak...?”
“Ini. Langsung kamu transfer, ya......” Santoso menyodorkan uang pada Kensi.
“Beres Pa.Makasih.....” Kensi menerima uang itu dan berlari masuk rumah.
Santoso hanya gelengg-geleng kepala. Satu sisi dia membenarkan Kensi. Tapi sisi satunya lagi, ingin menuruti semua keinginan istri tercinta.

Di kamarnya Kensi mengotak-atik hp lagi. “Hah? Lowongan sebagai penyiar radio....well well well...semua syarat-syarat ini, kayaknya aku memenuhi.....” Kensi tertawa senang.
BERSAMBUNG



2 Komentar untuk "SERIBU TAKTIK (Novel/Cerbung) By Ami Daria (Part 1-3)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel