TAKTIK OMA (Cerpen) By Ami Daria

TAKTIK OMA (Cerpen) By Ami Daria

Sudah hampir setahun aku ikut di keluarga bu Murni, yang tinggal bareng dengan Agus, putranya, yang bekerja sebagai manager. Berangkat jam enam pagi pulang jam sembilan malam. Lintang menantunya, yang membuka toko kelontong didepan rumahnya. Sudah punya tiga anak yaitu Doni kelas IX, Rudi kelas VI dan Rica masih sekolah di Paud. 
Tugasku disini, membersihkan rumah, cuci setrika baju, dan  mengantar serta menunggui Rica sekolah. Untuk memasak dan belanjanya diurus bu Murni, yang punya tukang sayur langganan.  Kadang aku membantu memasak, tapi sekedar merajang ini dan itu atau mengerus bumbu. Yang jelas kokinya bu Murni.

Sebelumnya aku menjadi asisten rumah tangga di sekitar tempat tinggalku di Jawa tengah. Saat bu Murni datang ke rumah dan mengajakku untuk kerja di rumahnya, aku setuju. Tentunya setelah dapat dukungan dari ibuku dan Aji, anak semata wayangku. Ibuku sangat mendukung dengan alasan, bu Murni masih saudara denganku. Walaupun saudara jauh sih......ibunya bu Murni adik sepupu nenekku....jauh, kan? Alasan yang kedua, karena  gajinya tiga kali lipat gajiku saat  kerja di kampung. Alasan ketiga. Aji ingin kuliah, tentunya membutuhkan banyak biaya. Bagiku semua alasan itu masuk akal.

Hari ini aku sedang menyetrika sambil menonton sinetron di TV. Kulihat bu Murni sedang membaca majalah wanita sambil menyimak sinetron. Doni yang baru pulang sekolah, nyelonong masuk dan menuju kamarnya.
“Doni....beri salam sama Oma dulu dong....masa langsung masuk. Ya nggak sopan....”Kata bu Murni sambil berdiri.
Bu Murni memang selalu mendidik cucu-cucunya agar menjaga etika.
“Kenapa, Oma.....”Doni berbalik menghadap bu Murni.
“Kamu itu ya....kalau mau masuk rumah, beri salam...jangan nyelonong masuk. Tidak sopan....”Kata bu Murni.
“Assalamu’alaikum.......Kata Doni.
“Wa’alaikum salam.....”Jawab bu Murni.

Doni berjalan cepat ke kamarnya, sejenak kemudian Doni menuju dapur dan makan. Saat Doni sedang makan, Rudi menyusul makan juga. Mereka tampak tergesa-gesa.
“Kenapa kalian makannya tergesa-gesa?” Tanya bu Murni heran.
“Habis ini kami akan les Oma......”Jawab mereka kompak.
“Nggak istirahat dulu.....?”Tanya bu Murni lagi.
Mereka hanya mengeleng sambil makan.

Lintang muncul dan mendekati mereka. “Sudah selesai makannya?”
“Sebentar lagi, Ma......”Jawab Doni.
“Iya. Mama buru-buru amat?”Rudi protes.
“Bukan buru-buru....tapi waktunya les...nanti kalian terlambat.”Kata Lintang.
“Lintang....biarkan mereka menikmati makannya. Jangan diburu-buru. Kasihan, kan....”Kata bu Murni.
“Justru karena aku sayang pada mereka, bu...makanya aku masukan mereka ke les. Demi masa depan mereka juga....”Jawab Lintang.
“Ibu tahu....tapi mereka baru pulang sekolah lho.....biarkan mereka istirahat dulu......”
“Ibu tahu apa sih.....”Lintang terlihat marah.

Selesai makan, Doni dan Rudi langsung berangkat. Mereka naik taksi.
“Kasihan Doni dan Rudi. Pulang sekolah belum sempat istirahat, langsung makan dan berangkat lagi. Kamu anggap apa mereka itu? Robot?” Bu Murni marah pada Lintang.
“Memang begini keadaannya bu. Kalau mereka nggak ikut les, mereka akan ketinggalan dengan teman-temannya.”
“Tapi kamu terlalu ketat.......”Bu Murni kecewa.

Aku sependapat dengan bu Murni. Memang Lintang terlalu ketat. Berbagai macam les memenuhi hari-hari Doni dan Rudi tanpa sempat istirahat. Benar-benar ketat. Padahal anak seusia mereka masih senang bermain. Tapi waktu untuk bermain benar-benar tak ada.

Sekitar jam 4 sore mereka pulang les. Deni, guru les piano mereka sudah menunggu diruang tamu. Mereka masuk sambil mengucapkan salam juga salim dengan Deni.
“Nah... kalian sudah pulang...sana tas kalian taruh di dalam, habis itu les piano......” Kata Lintang.
“Iya, Ma......” Mereka menjawab dengan kompak.
“Tunggu dulu....biarkan mereka sholat Ashar dulu.......lalu biarkan minum....duduk duduk....jadinya otaknya yang spaneng biar reda dulu.....”Kata bu Murni yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Ibu tahu apa sih.....sekarang itu saatnya les piano. Itu mas Deni  sudah menunggu....”Kata Lintang.
“Ya kamu mengatur jamnya yang bener...masa, pulang les jam empat sore, les piano juga jam empat sore....ya mereka nggak sempat duduk. Kasihan.....”Bu Murni tak mau kalah.
“Doni.....Rudi....cepetan...kemana kalian?” Lintang mengacuhkan bu Murni.
“Ya, sedang sholat to......”Kata bu Murni sambil masuk ke ruang tengah.

Bu Murni menengok ke  kamar sholat, melihat kedua cucunya sedang sholat, Bu Murni ke dapur mengambil jus apokat dan memberikan pada mereka, saat  keluar dari kamar sholat. Doni dan Rudi menerima jus itu sambil tertawa lebar.Mereka terlihat sangat senang.
“Cucu cucu Oma jangan sampai kekurangan serat...biar sehat. Habis minum jus kalian mau langsung les piano atau duduk dulu....?
“Pinginnya sih duduk dulu Oma...tapi nanti Mama marah apa, nggak?” Kata  Doni.
“Ya udah...kalian duduk dulu. Oma mau bicara sama om Deni.” Kata bu Murni sambil melangkah ke ruang depan. Bu Murni berpapasan dengan Lintang yang akan menuju ke ruang tengah.
“Kalian itu bagaimana sih....sudah ditunggu om Deni dari tadi kok santai saja.....”Kata Lintang terlihat marah.

Di ruang depan bu Murni duduk di samping Deni, guru les piano.
“Mas Deni....besok lagi, kalau datang jangan terlalu awal. Kalau les jam empat sore ya sampai sini jam empat sore...jangan jam setengah empat sudah sampai sini. Jadinya Doni dan Rudi diburu-buru sama ibunya” Kata bu Murni terdengar hati-hati.
“Iya bu.....maafkan aku.” Jawab Deni.
“Itu malah bagus bu....daripada terlambat?” Kata Lintang dari ruang tengah.
“Tapi kasihan Doni dan Rudi. Mereka jadi terburu-buru. Mungkin lebih baik jadwalnya diundur setengah jam. Biar Doni dan Rudi istirahat dulu setelah lelah habis les.”

Doni dan Rudi muncul dari ruang tengah. Mereka disertai Deny segera ke lantai dua untuk belajar piano. Lintang dan bu Murni melanjutkan pembicaraannya.
“Kalau diundur setengah jam. Nanti selesainya jam enam sore. Maghrib dong...kapan mereka akan mandi?” Lintang protes.
“Kalau begitu ganti hari lain yang nggak  ada les.” Bu Murni menyarankan.
“Nggak ada Bu....seminggu full mereka les.” Kata Lintang lagi.
“Seminggu full? Lalu kapan mereka istirahat?” Bu Murni terlihat kaget.
“Kan biar mereka pinter bu....” Kata Lintang.
“Tapi kemampuan otak mereka ada batasnya. Kalau kamu tak pernah memberi kesempatan mereka untuk istirahat. Sekuat apapun kamu jejali otak mereka. Mereka tak kan mampu mencernanya. Sia-sia semuanya.”
“Alah Ibu....ibu tahu apa masalah kemampuan otak? Yang aku tahu kalau anak selalu di leskan, ya jadinya pinter.” Kata Lintang.
“Kamu jangan menghina ya. Jelek-jelek begini, ibu pensiunan guru. Tentu saja ibu tahu masalah itu.....masalah bahwa otak juga perlu istirahat....”Kata bu Murni.
Lintang hanya diam sambil melangkah ke tokonya, meninggalkan bu Murni yang masih marah.
“Pingin anaknya pintar tapi caranya salah. .....les terus-terusan tanpa ada waktu istirahat, nggak efesien.....” Kata bu Murni.

Selesai les piano mereka langsung mandi lalu sholat maghrib itu.  Setelah itu makan malam. Jam 7 malam guru ngaji datang. Mereka berdua belajar baca Al-Qur’an. Sementara Rika belajar ngaji di rumah tetangga. Di sana banyak anak-anak yang belajar ngaji. Doni dan Rudi tidak ikut karena peserta mengajinya anak-anak usia TK.

Mendekati jam tujuh malam Rika pulang mengaji.Secara bersamaan Doni dan Rudi juga selesai mengaji.Setelah guru mengaji pulang, Doni dan Rudi mendekati bu Murni dan Rika yang sedang menonton TV.
“Sedang apa kalian?” Tanya Lintang gusar.
“Sedang nonton TV....”Jawab Doni bingung.
“Apa manfaatnya nonton TV?”
Doni dan Rudi saling pandang tak mengerti.
“Jangan suka melakukan hal-hal yang tak ada manfaatnya. Sekarang waktunya belajar. Ambil buku kalian dan belajar.”
“Tapi Ma....kami baru saja selesai ngaji....kami pingin duduk sebentar...”Doni protes sementara Rudi hanya mengangguk-angguk tanda setuju.
“Kamu bilang pingin duduk sebentar...belajar kalian juga sambil duduk. Nggak berdiri, kan?” Kata Lintang.
“Lintang...biarkan mereka santai sebentar.....biar otaknya nggak spanneng....kasihan mereka.....”Kata bu Murni.
“Santai santai melulu....nanti besarnya mereka mau jadi apa?”
“Tentu saja mereka jadi laki-laki dewasa yang bertanggung jawab....kamu maunya mereka jadi apa?”
“Aku maunya mereka sukses, kaya. Makmur dan punya jabatan tinggi.”
“Lalu apa hubungannnya dengan jadwal mereka yang begitu padatnya?”
“Kalau mereka ikut berbagai macam les, mereka kan akan pinter bu.....dan aku akan menguliahkan mereka sehingga mereka bisa mendapat pekerjaan bergengsi,  syukur-syukur jadi pejabat.”
Bu Murni geleng-geleng kepala,”Itu nggak menjamin.......”
“Doni! Rudi! Kalian dengar kata Mama tadi? Ayo belajar. Tvnya dimatiin, bu. Biar  mereka belajar.....”Kata Lintang sambil mematikan TV.

Doni dan Rudi masuk kamar dan menguncinya dari dalam.
“Kok dikunci? Mama jadi nggak tahu, kalian benar-benar belajar atau melakukan hal lain?” Lintang mengetuk pintu kamar mereka. Tapi mereka mengacuhkan saja.
“Ayo Rica belajar baca tulis sama Oma, ya.....”Bu Murni mengandeng Rica masuk kamarnya. Setelah itu kamar dikunci dari dalam.

Lintang segera buka HP dan ber-WA ria sambil berjalan ke tokonya. Aku dipanggil agar menemaninya menjaga toko. Kalau sudah pegang hp Lintang akan lupa segalanya. Kalau ada pembeli selalu aku yang disuruh melayaninya. Hal ini yang sering membuat bu Murni protes. Menurut bu Murni perjanjian awal saat aku mau kerja disini adalah mengurusi rumah dengan segala tetek bengeknya, bukan menjaga toko. Kalau plus menjaga toko berarti ada uang lemburnya. Kalau yang terakhir ini aku setuju sekali he he he.tapi kalau tak ada uang lembur juga tak apa. Toh aku juga belum mau tidur. Toh jam sembilan malam sudah tutup

Lintang mulai action. Mulai berselfi ria. Didepan beras selfi, dekat kosmetik selfi. Sedikit-sedikit foto selfi. Mau mandi selfi dulu, mau sarapan selfi dulu, mau belanja selfi dulu. Bosan aku melihatnya. Memangnya siapa yang perduli?

Bu Murni memberi pengertian pada Lintang agar jangan terlalu banyak  memberi les pada Doni dan Rudi. Agar mereka ada waktu untuk bermain, bersantai sehingga tidak spaneng. Kalau otak spaneng terus nantinya gampang stres. Kalau stres tidak bisa konsentrasi. Kalau tidak bisa konsentrasi, sia-sialah semua les itu. Namun Lintang tidak sependapat dengan bu Murni. Dia berpendapat, makin banyak putranya ikut les maka akan makin pintar.

Kadang bu Murni menceritakan kekecewaan sikap Lintang padaku. Juga kasihan pada Doni dan Rudi. Untuk sekedar bercengkrama dengan bu Murni saja mereka tak punya waktu. Kasihan.

Hari ini bu Murni sedang suntuk. Beliau suntuk tidak ada teman bicara. Tadi ke toko, mungkin ingin ngobrol dengan Lintang, tapi lintang sibuk berWA ria, mengacuhkan bu Murni. Doni dan Rudi les bahasa inggris.Untuk membuang suntuk bu Murni akan shoping bersama Rika. Aku diajak sekalian. Kami segera naik taksi.

Saat melintasi Masjid, secara tak sengaja aku melihat Doni dan Rudi sedang duduk santai.
“Bu...itu seperti mas Doni dan mas Rudi....”Aku menunjuk ke arah mereka.
“Mana...??Oh ya betul. Bang.....belok ke Masjid itu dulu...”Kata bu Murni.

Bu Murni langsung melompat dari dalam taksi dan setengah berlari mendekati Doni dan Rudi yang sedang duduk santai di teras Masjid. Aku dan Rika ikut turun. Sementara taksi aku suruh menunggu sebentar.

Melihat kedatangan omanya Doni dan Rudi mau lari tapi bu Murni langsung teriak memanggilnya.
“Kenapa kalian disini? Bukannya seharusnya kalian les?” Tanya bu Murni.
“Saya pusing Oma.....makanya tadi saya tidur disini. Kalau di rumah kan nggak boleh tidur....langsung disuruh les.” Kata Doni.
“Astafirullah wal adzim....kasihan sekali kalian. Pulang sekolah mau tidur sebentar saja kok nggak ada waktu. Memang ibu kalian keterlaluan. Terus saat kamu tidur tadi,  Rudi gimana?” Tanya Bu Murni.
“Sama Oma. Saya juga tidur....” Jawab Rudi malu-malu.
“Berarti tadi kalian berdua sudah tidur...?”
Mereka mengangguk malu-malu.
“Kalau begitu pusing kalian sudah hilang?”

Untuk kedua kali mereka mengangguk, kali ini disertai senyum malu-malu mereka.
“Kalau begitu...sekarang kita shoping....bagaimana kalau kita makan makan....?” Tanya bu Murni yang membuat Dino dan Rudi sangat terkejut.
“Benar Oma? Oma nggak marah sama kami?” Doni seakan tak percaya.
“Kenapa Oma mesti marah? Kan tadi Oma sudah bilang, kalau ibu kalian keterlaluan. Come on....itu taksinya udah menunggu. Kita berdesakan dikit nggak apa-apa, kan?” Kata bu Murni sambil berjalan duluan ke taksi yang sudah menunggu.
Doni dan Rudi menyambut hangat ajakan bu Murni. Mereka segara masuk ke taksi itu.

Setelah kami shoping dan makan-makan akhirnya kami pulang. Saat pulang kami naik taksi yang berbeda. Doni bersama Rudi pulang duluan. Tak lama kemudian kami menyusul. Hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan kecurigaan Lintang.

Mungkin perbuatan bu Murni salah. Tapi kupikir kok benar juga. Benar  untuk Doni dan Rudi yang tiap hari harus berpacu dengan waktu. Mereka seolah-olah dikejar waktu dengan berbagai les yang tiada hentinya. Mereka baru bisa santai saat tidur malam. Tidur siang? Sama sekali tak ada waktu bagi mereka untuk tidur  siang. Kasihan memang.

Dan kulihat bu Murni ingin mengubah itu, mengubah jadwal les yang terlalu padat. Berkali-kali bu Murni menasehati Lintang agar mengurangi les mereka. Cari yang penting bagi mereka saja. Tapi Lintang tak menghiraukan .Lintang tetap bersekukuh mereka les sebanyak mungkin. Mumpung masih muda katanya.....

Akhirnya bu Murni nekat. Entah berapa hari sekali, mereka janjian untuk shoping dan makan-makan. Mereka berjanji untuk ketemu di masjid itu.

Sekarang Doni dan Rudi lebih dekat dengan bu Murni. Mereka sering ngobrol-ngobrol namun seringkali obrolan mereka tidak berlanjut karena mereka harus les. Les les les. Kata-kata itu...... Kata-kata itu yang memborgol kebebasan mereka. Seringkali bila mereka harus les, bu Murni akan masuk kamarnya. Entah apa yang dilakukan dalam kamarnya.

Setelah Doni dan Rudi berangkat sekolah. Di ruang tengah aku mendandani Rika yang mau sekolah. Kulihat Agus duduk minum kopi dan makan gorengan. Hari ini Agus tak masuk kerja karena sakit atau lebih tepatnya tak enak badan.

Lintang keluar kamar mendekati Agus sambil mengerutu tak karuan. Agus hanya memperhatian sambil menerka-nerka maksud perkataan Lintang.Aku masih tetap ditempat, mengucir dua rambut Rika tanpa maksud menguping. Tanpa ada niat untuk ikut campur.

“Percuma usahaku selama ini. Sia-sia.......percuma aku menghabiskan biaya banyak untuk les mereka, kalau ternyata mereka sering bolos....Aneh...anak bolos malah didukung.....”Lintang mengerutu terus.
“Kamu itu ngomong apa? Siapa yang sering bolos les? Dan siapa juga yang mendukung?” Tanya Agus tak mengerti.
“Ya ibumu itu....bisa-bisanya anak mau les malah diajak shoping sama makan-makan......”Lintang terlihat emosi.

Oh my God....darimana Lintang tahu kalau bu Murni mengajak Doni dan Rudi shoping di waktu yang seharusnya mereka les?
“Kata siapa ibu mengajak mereka shoping disaat mereka harus les?”Agus penasaran.
“Kata Rika....” Jawab Lintang.
“Rika? Rika itu anak kecil....seringkali perkataannya belum tentu benar.” Kata Agus sambil tertawa.
“Justru karena anak kecil itu....omongannya masih jujur.” Lintang terlihat sewot.

Agusmendekati Rika yang sedang aku kucir kuda.
“Rika bilang apa sama mama?”Tanya Agus lembut.
“Nggak bilang apa-apa.....” Rika terlihat bingung.
“Itu....kata Rika, dia nggak bilang apa-apa sama  kamu....”
“Ya tentu saja Rika lupa.....Rika bilangnya kan tadi malam.....”
“Makanya seperti aku bilang tadi.....omongan anak kecil itu nggak bisa dipercaya....” Kata Agus
“Sekarang gini aja mas.....coba ibu ditanya.” Kata Lintang.
“Ditanya masalah apa?” Agus tak mengerti.
“Ya.....mengenai omongan Rika kalau ibu sering mengajak Doni dan Rudi shoping.....” Kata Lintang.
“Kamu ini ada-ada saja....” Kata Agus sambil melangkah ke kamar mandi.
“Mas! Aku bicara serius!” Lintang tampak emosi.

Kulihat bu Murni mendekati mereka.
“Ini mumpung ibu disini....coba ditanya....” Kata Lintang.
“Aku sudah dengar semua.” Kata bu Murni sambil duduk di kursi meja makan.
“Itu semua nggak benar kan, bu....” Agus terdengar khawatir.
“Itu semua benar Gus. Memang ibu sering mengajak Doni dan Rudi shoping.....” Kata bu Murni hati-hati.
“Lha! Benar kan? Rika nggak bohong!” Kata Lintang emosi.
“Kenapa ibu melakukan semua ini, bu....?” Agus bingung.
“Aku kasihan pada Doni dan Rudi. Tiap hari mereka harus les ini dan itu. Pulang sekolah belum sempat duduk, mereka harus berangkat les. Pulangnya sudah ditunggu guru les piano. Malam-malam mereka mengaji. Setelah itu langsung belajar....begitu seterusnya. Untuk sekedar ngobrol denganku saja mereka tak punya waktu. Mereka itu anak-anak Agus.......bukan robot!” Bu Murni terlihat emosi.

Agus tertegun. Dia terdiam beberapa saat tanpa mampu mengatakan sesuatu barang sepatahpun.
“Sekarang kamu tanya istri kamu itu...apa yang ada dalam pikirannya?” Bu Murni menunjuk Lintang dengan telunjuknya.
“Apa aku salah? Kalau aku memasukkan Doni dan Rudi ke les? Itu semua kan demi masa depan mereka. Biar mereka pintar....” Lintang membela diri.
“Memasukan les memang bagus. Tapi kalau terlalu banyak, jadinya nggak bagus!” Kata bu Murni lagi.
“Terlalu banyak gimana, bu?” Agus terlihat makin tak mengerti.
“Tanya istrimu. Kapan ada hari tanpa les? Seminggu full! Mereka les!” Bu Murni menahan emosi yang sudah memuncak sampai embun-embun.
“Betul itu Lintang......?” Tanya Agus pada istrinya.
“Memang betul. Tapi aku melakukan semua itu kan demi kebaikan mereka juga.” Suara Lintang terdengar pelan.
“Kebaikan macam apa? Kamu tahu Agus. Doni dan Rudi tidur di masjid. Pulang sekolah mereka tidak enak badan, ingin tidur. Tapi istri kamu memaksanya berangkat les. Jangankan tidur. Untuk sekedar duduk juga nggak sempat. Pulang sekolah mereka ganti baju dan buru-buru makan lalu berangkat les.” Kata Bu Murni lagi.

Mendengar perkataan bu Murni itu, Agus hanya mampu menatap Lintang tajam. Lintang terlihat ketakutan.
Aku sebenarnya ingin mendengar kelanjutan pembicaraan mereka. Tapi aku harus mengantar Rika sekolah. Walau hati ini masih diselimuti rasa penasaran, terpaksa mengajak Rika agar salim pada mereka, dan berangkat.

Pulang dari sekolah, keadaan rumah sepi. Aku segera menganti baju seragam Rika dengan baju rumah, menyetel TV  sesuai acara kesukaan Rika, lalu ke dapur untuk masak. Kulihat Bu Murni sedang merajang sayuran, sepertinya mau bikin capjai. Lintang dan Agus entah  dimana. Tapi aku mau menanyakan keberadaan mereka pada bu Murn,i tak berani.
“Kita bikin capjai saja, ya....ini menu kesukaan Agus. Nanti sama ayam goreng.” Kata bu Murni.
“Iya bu. Saya menurut apa keinginan ibu....” Kataku.
“Iya....kamu lanjutkan, ya....Rika mana?” 
“Sedang nonton TV bu.....” Jawabku.
“Ya udah aku temani Rika....kamu lanjutkan. Oh ya, ayamnya sudah aku goreng. Sudah matang. “ Kata bu Murni sambil berjalan ke ruang tengah menemani Rika nonton TV.

Makan siang sudah selesai. Aneh...Doni dan Rudi tidak masuk les. Agus tidak berangkat kerja. Mereka berkumpul di ruang tengah. Wah....mereka mau diskusi. Aku harus menyingkir. Tidak enak kalau menguping pembicaraan mereka. Aku mengajak Rika ke depan untuk mewarnai gambar. Tapi Rika menolak karena sedang menonton film anak-anak kesukaannya.
“Sudah Ayu...kamu disini saja. Nggak apa-apa....” Kata bu Murni, seolah tahu isi hatiku.
“Iya bu......”Jawabku. 

Walau aku merasa tak enak hati seolah menguping pembicaraan mereka tapi sebenarnya aku penaasaran juga sih.Jadinya aku tetap disitu menemani Rika nonton TV.
“Coba Ma....mereka les apa saja?” Tanya Agus pada Lintang.
“Senin, Rabu les bahasa Inggris....” Lintang terlihat mengingat-ingat.
“Hari dan jamnya sama?Kok bisa? ” Tanya Agus lagi.
"Di tempat les mereka dalam satu lingkup kan ada yang buat SD sampai SMA. Ya aku daftarkan mereka cari yang hari dan jamnya sama."Jawab Lintang.
"Oh begitu....terus lesnya apa lagi, dan hari apa saja?" Tanya Agus.
“Selasa, Kamis dan Saptu ikut bimbingan belajar  Pa......” Doni menyambung.
“Berarti Senin sampai Sabtu kecuali hari Jumat les terus. Selanjutnya?” Tanya Agus.
“Senin Rabu pulang les bahasa Ingris sudah ditunggu mas Deni, guru les piano, pa.....kami belum sempat istirahat....” Gantian Rudi yang menjawab.
“Wouw....Senin Rabu kalian les sampai sore?” Agus terlihat heran.
“Iya Pa....malamnya, habis Maghrib mbak Rini datang, mengajari kami ngaji. Habis ngaji kami langsung belajar sampai jam sembilan. Baru tidur.....” Kata Doni lagi.
“Mengundang guru ngaji?”  Tanya Agus.
“Betul Pa.....kami ngaji tiap malam kecuali malam Jumat....wah...pokoknya full.” Kata Rudi.
“Oh....begitu....Senin Rabu, terus Selasa Kamis Sabtu, berarti Jumat dan Minggu kalian nggak les dong......?”Kata Agus.
“Lho...Papa lupa? Jumat dan Minggu sore kami kan ikut karate......” Kata Doni.
“Masih ada lagi Pa.....Selasa dan Kamis sore, pulang dari bimbingan belajar, kami kan les Matematika sama bu Asih.....” Kata Rudi.
“Wouw...benar-benar full!” Agus benar-benar kaget.
“Itu kan demi kebaikan mereka juga mas. Biar mereka pintar....”Lintang berusaha membela diri.
“Tapi itu tidak efisien.....bukannya tambah pintar tapi malah stres!” Kata bu Murni.
“Stres kenapa? Memangnya mereka mikirin utang?” Kata Lintang.
“Stres itu tidak selalu karena banyak utang. Otak yang spaneng terus juga bisa mengakibatkan stres.” Kata bu Murni.
“Betul itu.....”Kata Agus.
“Namanya anak ya, tentu saja membela ibunya.”Kata Lintang terlihat marah.
Bu Murni hanya tersenyum mendengar perkataan Lintang.

“Bukan begitu......”Kata Agus.
“Buktinya.....?” Kata Lintang marah
"Ya sudah....sekarang Papa mau tanya sama Dono dan Rudi saja.kalian. Apakah kalian suka dengan semua itu?” Tanya Agus.
“Enggak......”Jawab Doni dan Rudi kompak.
“Kenapa? Bukankah dengan les kalian jadi pintar....?” Tanya Agus.
“Capek yah....kami kan pingin santai, pingin sekali-kali main game....masa tiap hari dari pagi sampai malam kami belajar terus tanpa henti. “ KataDoni.
“Memang benar. Apa-apa yang terlalu banyak itu nggak bagus. Terlalu banyak belajar juga nggak bagus. Hasilnya bukannya tambah pintar tapi mereka bisa stres. Sekarang dipilih. Mana yang perlu les dan mana yang nggak terlalu penting.” Kata Agus bijaksana.
“Kalau menurut Oma nih....matematika nggak perlu les. Toh di sekolah sudah ada pelajarannya.” Kata bu Murni.
“Itu sangat penting bu......matematika kan sulit. ..aku maunya mereka jago matematika" Lintang bersekukuh.
“Kalau menurut kalian, bagaimana?” Tanya Agus.
“Kalau saya setuju dengan Oma. Matematika kan kami sudah dapat di sekolah. Yang penting kan saya dapat mengikutinya, Pa.....” Kata Doni.
“Saya setuju dengan mas Doni......” Kata Rudi penuh semangat.
“Oke....matematika dicoret....apalagi?” Tanya Agus.
“Bimbingan belajar Pa...itu seminggu tiga kali lho.....semua yang diajarkan disitu, di sekolahku juga diajarkan. Saya kira selama saya rajin belajar, masih bisa mengikutinya kok.....” Kata Doni.
“Oma setuju sama Doni.....” Kata bu Murni sambil mengacungkan jempol.
“Aku nggak setuju. Kalau mereka nggak ikut bimbingan belajar, nggak mungkin mereka dapat ranking tiga besar....” Kata Lintang.
“Mungkin saja mereka tetap dapat ranking tiga besar. Cucu cucu oma ini kan cerdas. Oma tahu kecerdasan mereka di atas rata-rata.”Kata bu Murni sambil mengelus rambut Rudi dan Doni.
“Jadi keputusannya bagaimana? Kamu bagaimana Rudi? Setuju sama siapa?” Tanya Agus.
“Saya setuju sama mas Doni dan Oma......”Jawab Rudi sambil mengacungkan jarinya tinggi tinggi.
Doni tertawa geli “Dik Rudi kok seperti menjawab absen guru....”
“Mungkin saking senengnya.....”Kata bu Murni sambil tertawa juga.
“Oke.....bimbingan belajar dicoret. Tapi kalian harus janji untuk rajin belajar. Buktikan. Tanpa ikut bimbingan belajar kalian bisa tetap masuk tiga besar. Bagaimana?” Kata Agus.
“Saya berjanji Papa. Insya Allah walau nggak ikut bimbingan belajar kami tetap dapat ranking tiga besar....iya kan dik Rudi?” Kata Doni.
“Betul betul betul.” Jawab Rudi penuh semangat.
“Oke....bimbingan belajar dicoret. Sisanya les bahasa Inggris dan les piano. Apa itu perlu dicoret juga” Tanya Agus.
“Jangan papa. Aku kan pingin jago bahasa inggris. Sekarang apa-apa kan serba pakai bahasa inggris.” Kata Doni.
“Oh...begitu...? Rudi bagaimana?” Tanya Agus.
“Saya setuju dengan mas Doni.” Jawab Rudi masih semangat.
“Perasaan dari tadi mas Rudi setuju setuju melulu....”Kata bu Murni sambil tertawa.
“Habis dari tadi mas Doni selalu ngomong duluan......dan saya memang setuju....” Jawab Rudi sambil tertawa malu.
“Ya udah....sekarang mas Rudi berpendapat dulu....les piano bagaimana?” Tanya Agus.
“Tetap jalan Pa...saya kan ingin jadi pencipta lagu. Syarat untuk menciptakan lagu kan harus menguasai alat musik.” Kata Rudi.
“Oh ya? Rudi pingin jadi pencipta lagu? Bagus sekali......jadi bagaimana Doni....?” Tanya Agus.
“Saya setuju sama dik Rudi. Les piano tetap jalan....oh ya Pa. Dik Rudi udah bisa menciptakan lagu lho.....syairnya bagus deh. Mengena.......” Kata Doni sambil tertawa geli.
“Oh ya? Bagaimana syairnya.....” Tanya Agus.
“Mas Doni ini......nggak ah. Nanti ada yang marah.....” Rudi tampak ketakutan.
“Nggak apa-apa. Itu kan ungkapan hatimu.....” Kata Doni meyakinkan.
“Betul itu....Oma kok jadi penasaran. Coba nyanyikan.” Kata bu Murni.
“Betul nggak ada yang marah?” Kata Rudi sambil melirik Lintang.
“Kok melirik mama kamu? Ini pasti ada hubungannya nih......”Bu Murni menebak-nebak.
“Ayo nyanyikan saja dik.....biar semuanya terungkap....” Kata Doni menyemangati.
“Oke.....dengerin, ya....Makasih Oma...yang telah membimbing kami..melepaskan kami dari missis pokoknya....pokoknya harus les ini, pokoknya harus les itu, kalau nggak mau nggak dapat uang jajan, kalau nggak mau nggak dapat makan siang....sedih sedih hatiku...tapi syukur ada Oma....yang menolong kami dari jerat missis pokoknya.....” Rudi sangat menjiwai lagunya.
“Lagu apaan?!” Lintang tampak sangat marah.
“Hebat sekali cucu oma.....pintar!”  Bu Murni tertawa geli.
“Benar Mama.....kamu nggak kasih mereka makan siang?” Agus sangat kaget.
“Itu kan sekedar ancaman agar mereka mau les.” Lintang membela diri.
“Tapi ancaman itu benar-benar berlaku kok. Oma kan memperhatikan juga....” Kata bu Murni.

Agus hanya geleng-geleng kepala. “Oke...berarti les kalian tinggal les bahasa inggris dan les piano.....bagaimana mas Doni dan mas Rudi....?”
“Setuju....! mengajinya bagaimana Pa? Dicoret juga?” Tanya Doni.
“Mengaji jangan dianggap les. Tapi itu memang harus kalian ikuti....” Kata Agus.
“Betul itu. Minimal sampai kalian katap Al-Quran.” Kata bu Murni.
“Oke.....kami siap....” Jawab Rudi dan Doni secara bersamaan.
“Oke....mulai sekarang kalian hanya les bahasa inggris dan les piano. Palu diketok. Tok tok tok.....”Kata Agus sambil mengetok lantai mengunakan kepalannya.
“Hore....! Makasih Oma....” Kata Rudi sambil menubruk bu Murni.
“Lho...kok Oma? Kan Papa yang memutuskan....” Agus protes.
“Kan Oma yang memperjuangkan ini semua.....” Doni ikut-ikutan memeluk bu Murni sambil tertawa riang.
“Oh...begitu....” Agus tertawa geli. "Oh ya, ada yang terlupakan. Karatenya bagaimana? Tetap jalan atau...dicoret."
"Tetap jalan saja Pa....." Jawab Doni dan Rudi kompak.

Bagus! Ini baru yang namanya musyawarah untuk mencari mufakat. Semua pihak boleh bicara. Lintang yang bermaksud mengadu pada Agus mengenai perlakuan bu Murni, malah mati kutu.Semua sependapat dengan bu Murni. Apa ini yang dinamakan ‘senjata makan tuan’ maksud hati agar bu Murni malu tapi malah diri sendiri yang dapat malu.

Lintang meninggalkan mereka yang sedang gembira. Melangkah keluar rumah. Tapi mereka seakan tak memperdulikan Lintang. Mereka sedang menikmati kegembiraannya. Yang jelas keputusan sudah diambil. Palu sudah diketok oleh hakimnya alias Agus. Aku ikut senang mendengar Doni dan Rudi terbebasdari belenggu les les dan les yang mengekang masa bermain mereka.

SELESAI

Belum ada Komentar untuk "TAKTIK OMA (Cerpen) By Ami Daria"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel