LELAKI PENAKUT (Cerpen) By Ami Daria

LELAKI PENAKUT
(Cerpen) By Ami Daria

LELAKI PENAKUT

Sinopsis
Kadang Rasa takut yang berlebih menimbulkan suasana jadi lucu. Dan bisa merubah sudut pandang seseorang. Yang jelas kalau orag terlalu penakut jadi terlihat lemah, tidak berwibawa. Hal itu juga menghilangkan simpati seseorang. Apakah ada seseorang yang menerima akibat dari sifatnya yang terlalu penakut, untuk tahu kelanjutannya, bacanya cerpennya ‘Lelaki penakut’.

Planetcerpen.com. Waktu itu tahun 1998, Aku kost di kota Bogor tepatnya di Citereup. Kost kostsanku tergabung dari beberapa kamar yang saling membelakangi. Semua ada lima belas kamar. Bagian luar, yang menghadap ke depan dan ke samping rumah, dihuni oleh perempuan. Sedangkan bagian dalam yang saling berhadapan, semua ada delapan kamar dihuni oleh lelaki. Kamar mandi ada empat, ada dapur juga, yang dapat dipergunakan oleh seluruh penghuni kost. Ada telepon juga. Ya telepon itulah, yang membuatku memutuskan untuk kost disini. Dengan adanya telepon, keluargaku atau teman lebih gampang menghubungiku. Saat itu hp belum marak seperti sekarang ini. Kalaupun ada yang punya hp hanya orang-orang tertentu. Orang-orang dengan jabatan dan penghasilan tinggi. Teman-teman kostku belum ada yang punya hp.

Aku merupakan salah satu penghuni kost perempuan. Letak kamarku membelakangi kamar kost mas Burhan, yang kost berdua dengan Aris. Mereka berdua berasal salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Kebetulan kota mereka sama dengan kota asalku. Jadinya teman-teman kost selalu membandingkan kami bertiga. Membandingkan karena mereka berdua sangat penakut. Sementara aku terkenal pemberani. Sangat bertolak belakang.

Waktu tengah malam. Seperti biasa aku mengambil wudhu untuk sholat malam. Tiba-tiba telepon kost-kostan berdering terus menerus. Tadinya aku mau mengacuhkan telepon itu. Tapi kupikir-pikir kasihan juga, kalau ternyata sangat penting. Maka aku menjawab telepon itu. Telepon yang terletak didepan kamar mas Burhan. Diatas meja kecil yang rendah sehingga kalau kami menerima atau mau menelepon tidak membutuhkan kursi. Cukup lesehan saja.
“Hallo......Assalamu’alaikum....”Aku memberi salam dulu.
“Hallo Wa’alaikum salam......maaf, bisa bicara dengan Burhan?” Suara dari seberang.
“Maaf. Ini dari siapa, ya?” tanyaku. Takutnya hanya orang iseng.
“Saya ibunya Burhan. Namanyaku  Bu Eli.....bisa panggilkan sebentar?”
“Iya bu. Sebentar saya panggilkan.”
Aku mengetuk kamar mas Burhan, “Mas Burhan.....ada telpon nih....”
Tidak ada jawaban. Aku mengetuk pintunya lebih keras sambil memanggil-manggil mas Burhan.
“Telepon buat aku, mbak....?” Tampak Mas Burhan melongokan kepala.
 “Iya....dari  Bu Eli.......” Kataku sambil menyodorkan telepon.
“Bener, mbak? Dari Ibuku....ibu Eli....?”Mas Burhan tampak ragu.
“Iya lah.....ibunya mas Burhan namanya Eli, kan?”
“Iya sih....cuma kok tengah malam begini......” Mas Burhan masih ragu.
“Mungkin mendesak. Jadi nggak sabar menunggu besok pagi. Nih.....”Aku menyodorkan telepon lagi.
“Mas Burhan takut, tuh......”Kata Aris sambil keluar kamar.
“Takut kenapa?” Aku heran.
“Takut kalau yang telpon bukan manusia.....”Kata Aris sambil mengajakku menjauh dari mas Burhan yang sedang menerima telpon. Takut menganggu.
“Bukan manusia? Terus siapa?” Aku tak mengerti.
“Kuntilanak misalnya.....atau Gendrawo......”
“Hist! Masa Kuntilanak telpon orang....? Yang bener aja.” Aku tak mengerti dengan pola berpikir mereka.
“Ya....siapa tahu. Habis tengah malam, sih......”Kata Aris sambil garuk-garuk kepala.
“Jangan jangan tadi kamu dan mas Burhan dengar telpon berdering......tapi takut mengangkatnya.”Aku menebak.
“Memang.....tadi kami berdua malah ngumpet dibalik selimut. Kepala kami ditutup bantal.”Kata Aris sambil cengar-cengir malu.
“Ampun....! Penakut amat sih, kalian berdua?”

Mas Burhan yang sudah selesai menerima telpon, mendekati kami berdua. Secara kebetulan Ferry, baru pulang kerja shif dua, masuk sambil mengucapkan salam. Kami menjawab secara serempak.
“Gimana? Ada kabar penting, apa?” Tanyaku.
“Ayah masuk rumah sakit. Katanya penyakit jantungnya kumat lagi.”Jawab mas Burhan lesu.
“Nah lu....kabar penting, kan?”Kataku.
Mas Burhan dan Aris hanya saling pandang sambil garuk-garuk kepala.
“Siapa tadi yang mengangkat telpon? Yang jelas bukan mas Burhan atau Aris, kan?”
“Memang bukan. Tapi mbak Atik” Jawab mas Burhan terlihat malu.
“Aku juga sudah menebak.....nggak mungkin......mas Burhan atau Aris.”
“Kok bisa nggak mungkin?” Tanyaku tak mengerti.
“Seluruh penghuni kost ini kan sudah tahu. Kalau mas Burhan dan Aris selalu juara.”Kata Ferry menahan tawa.
“Juara....?? Juara apaan?”
“Juara satu sama juara utama lomba penakut.”Kata Ferry sambil tertawa geli.
“Iya mbak...kami memang nggak pernah berani mengangkat telpon di malam hari. Apalagi malam hari seperti tadi....hiii takut.” Kata Aris sambil bergidik.
“Itu namanya kalian takut dengan pikirannya sendiri. Membayangkan yang menelepon kuntilanak akhirnya takut untuk mengangkat.”
“Tadinya kepikir semua orang di daerahnya mas Burhan penakut semua. Ternyata mbak Atik yang masih satu daerah, sangat pemberani. Padahal cewek......”Kata Ferry tertawa geli.
Begitu penakutnya mereka. Sampai-sampai mau mengangkat telpon di malam hari juga takut. Kalau begini caranya, mencoreng nama baik daerahku. Alias memalukan. Tapi kenapa aku mesti malu? Toh mereka cuma penakut. Bukan maling atau rampok.....iya, to?

Keesokan harinya mas Burhan pulang kampung. Otomatis Aris sendirian. Apakah dia berani tidur sendiri? Nanti malam aku mau iseng mengetuk pintunya, ah......Baru membayangkan saja aku sudah tertawa sendiri. Habis penakut sekali. Usia sudah 25an...kan sudah masuk kategori pemuda dewasa. Bukan anak-anak lagi. Tapi kok penakut sekali, ya? Apa karena keseringan nonton film horor? Entahlah.......Kalau menurutku orang penakut bearti jiwanya tidak sehat. Bukan bearti gila lo......

Masih sore. Aku ke ruang tengah, mau menelepon temen. Saat aku sedang sibuk memijit nomor, tampak Aris datang dengan seseorang.
“Mbak Atik. Kenalin...ini mas Teguh. Sepupuku juga mas Burhan. Kami masih satu kecamatan lho......bearti sama mbak Atik satu kabupaten.”
Aris dan Teguh duduk disampingku.
“Teguh.”Kata Teguh sambil mengulurkan tangan.
“Atik.....”Aku menerima uluran tangan itu sambil tersenyum.
“Wih.....senyumnya menawan sekali....”Bisik Teguh pada Aris. Aris cuma tertawa sambil mengacungkan jempol.
Aku pura-pura tidak dengar. Malu juga, kan? Masa dipuji terang-terangan.
Berkali-kali kutelpon tidak ada jawaban dari seberang. Akhirnya telpon aku tutup. Tidak jadi menelepon.
“Nggak jadi, mbak?” Tanya Aris.
“Nggak jadi. Dari tadi nggak diangkat......”
“Mbak...nanti malam mas Teguh mau tidur disini boleh, nggak?”
“Disini depan telpon?” Tanyaku berlagak bodoh.
“Bukan....maksudku di kamarku.....ah, mbak Atik ini....”
“Oh....itu sih, terserah yang punya kamar.”
“Cuma selama mas Burhan di kampung, mbak. Besok atau lusa juga pulang.....”
“Nggak pulang juga nggak apa-apa....”Kataku.
“Kok mbak Atik gitu.....? Pingin mas Teguh disini terus, ya?”
“Bukan….bukan begitu maksudku….”Aku salah tingkah jadinya.
“Pingin disini terus juga nggak apa-apa kok mbak…..Dengan senang hati….iya kan mas Teguh?” Kata Aris tersenyum mengoda.
“Kok nyampainya ke mas Teguh? Apa hubungannya?”Aku jadi salah tingkah. Kulihat mas Teguh cuma senyum-senyum.
“Ya...kali aja......”Kata Aris sambil tersenyum mengoda.
“Ah, bicara kamu udah melantur...aku mau masuk kamar aja....” Tanpa menunggu jawaban Aris, aku langsung pergi.
“Gimana, mas Teguh?”Kudengar pertanyaan Aris pada Teguh.
“Bener kata Burhan. Anggun dan berkharisma....” Jawab Teguh.
Oh...ternyata mas Burhan mempromosikan aku pada mas Teguh? Gila juga itu orang. Emangnya aku cewek nggak laku? Tapi mungkin saking anggunnya diriku, mas Burhan tidak rela kalau aku jatuh ke pelukan orang lain. Mendingan sama sepupunya. Apalagi secara kebetulan kami masih satu kabupaten. Mungkin maksudnya begitu.....idih...... gr sekali aku.

Tengah malam. Seperti biasa, aku mau ambil wudhu, mau sholat malam. Saat mau ke tempat wudhu aku melewati kamar mandi itu. Ada pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, terdengar suara gemericik air. Kok ada suara gemericik air? Bearti ada orang didalam dong....tapi pintunya kok terbuka? Aneh. Penasaran juga aku.....
“Ada orang di dalam, kah?” tanyaku sambil mendorong pintu berlahan.
“Stop mbak. Stop. Jangan dibuka.......ada aku...”Terdengar suara mas Teguh gugup. Uup! Aku tidak melanjutkan mendorong pintu. Ternyata ada orang didalam.  Akhirnya aku melanjutkan jalan ke tempat wudhu.
“Tadi mbak Atik, ya?” Tanya mas Teguh, baru keluar dari kamar mandi.
“Iya.....mas Teguh ngapain?” Tanyaku heran.
“Ya....buang air kecil.....”Mas Teguh terlihat salah tingkah.
“Buang air kecil kok, nggak dikunci?” Tanyaku lagi.
“Ya...biar bisa melihat keluar....takut ada siapa-siapa.....”Kata mas Teguh.
“Oh,.....” Aku bingung mau bicara apa lagi.
Ferry yang baru pulang kerja, tiba-tiba sudah dibelakangku, dia tertawa geli, “Ternyata sepupunya Aris dan mas Burhan penakut juga, mbak?” tanya Ferry dengan berbisik.
“Iya.....segitu takutnya, sampai buang air kecil pintunya nggak ditutup?” Jawabku dengan berbisik juga.
Mas Teguh terlihat makin salah tingkah. Sementara Ferry tidak dapat menahan tawanya.
“Mari...aku kedalam dulu....” Kata mas Teguh sambil berjalan ke kamarnya.
“Iya....awas mas. Depan pintu ada apaan?” Kataku menakuti.
“Apaan, mbak......”Kata mas Teguh. Dia tidak jadi membuka pintu kamarnya.
“Coba aja mas. Buka pintunya. Paling-paling adanya Aris sedang melungker...”Kata Ferry sambil tertawa.
“Beettuull......itu.”Kataku ikut tertawa.
Mas Teguh hanya diam sambil masuk kamar.
“Mereka bertiga sepupu semua mbak...Jadinya tiga cowok penakut dong......” Ferry bicara sambil menahan tawa.
“Tiga bersaudara penakut.....”Usulku
“Tiga cowok bersaudara penakut. Kalau cewek penakut masih wajar. Lha ini? Cowok lho mbak......”
“Iya...malu-maluin kotaku.”
Ferry hanya tertawa geli.                                                                                                   

Pulang kerja aku baca-baca majalah wanita. Biasa...melihat ramalan bintang. Kubaca ramalan bintangku. Wah.....dalam ramalan itu tertulis kalau ada cowok yang tergila-gila padaku. Wih....wih....siapa, ya? Aku mencoba menerka-nerka. Teman kerjaku, kah? Teman kostku, kah? Aku merasa tidak ada yang tergila-gila padaku. Sikapnya semua biasa biasa saja.
Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk dari luar.
“Siapa, ya...?Masuk.” Aku berdiri membukakan pintu.
Tampak mas Burhan dan mas Teguh berdiri didepan pintu sambil tersenyum.
“Sedang sibuk, mbak?” Tanya mas Burhan.
“Enggak sih....Cuma baca-baca majalah.....”Jawabku.
“Boleh masuk nggak, mbak?”Tanya mas Burhan ragu.
“Oh....silahkan. Silahkan.” Aku membuka pintu kamar lebar lebar.
Kami duduk di karpet. Memang kostanku tidak ada kursinya. Adanya Cuma tempat tidur, lemari pakaian, rak buku, dan TV.
“Oleh-oleh mbak......”Kata mas Burhan sambil menyodorkan plastik kresek berisi sesuatu.
“Oleh-oleh apaan, mas? Kok jadi repot.” Aku menerima dengan rasa segan.
“Iya....makanan ciri khas kota kita. Siapa tahu mbak Atik kangen dengan makanan kota kita.” Kata mas Burhan.
Baru saja kami mau ngobrol, tiba-tiba Aris datang dan bilang mas Burhan,  ada telepon penting. Mas Burhan pergi. Aris juga pergi. Tinggallah kami berdua. Aku perhatikan sepertinya mas Teguh gelisah.
“Burhan sudah datang...tapi aku mau pergi. Aku masih betah disini....” Kata mas Teguh sambil menatapku lekat-lekat.
Aku hanya diam.  Terus terang aku masih belum dapat menduga arah pembicaraannya. Kalau dia masih betah, kenapa bilang padaku? Apa urusannya denganku...?
“Tadi mbak Atik baca apaan?” Mas teguh mengambil majalah yang ada disebelahku.
“Ya....apa aja. Ada cermin, ada model-model baju terbaru.......”Jawabku.
Aku merasa kalau mas Teguh mengalihkan pembicaraan.
“Mbak Atik sudah punya pacar apa belum?”Mas Teguh  bicara hati-hati.
“Eem….emangnya kenapa?”
“Ya…kalau belum, aku mau mendaftar…….”
“Oh……”
“Sejak pertamakali melihatmu, aku langsung tertarik.” Kata mas Teguh sambil tersenyum. Hem….senyumnya manis juga.
 “Apa nggak terlalu cepat? Kita kenal kan baru tiga hari yang lalu……”
“Iya sih……..”
“Aku belum bisa memutuskan sekarang. Kurasa kita perlu kenal lebih jauh lagi….”
Mas Teguh hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Aku benar-benar tak habis pikir. Masa baru kenal tiga hari langsung jatuh cintrong. Yang bener saja…..Jangan-jangan dia playboy kelas kakap.

Semenjak ungkapan cintanya padaku. Mas Teguh memutuskan untuk menetap disini. Apa tidak sempit, ya? Satu kamar bertiga. Aku juga memutuskan satu kamar sendiri. Kalau aku perhatikan mereka bertiga khususnya mas Teguh, jadi sangat perhatian padaku. Wah....risih juga aku sama temen yang lain. Tapi bagaimana lagi? Kadang mas Burhan maupun Aris sering mempromosikan mas Teguh.Yang katanya sudah punya rumah lah. Sudah punya mobil lah. Tabungannya berjut-jut. Yang jelas mas Burhan dan Aris begitu gencar mempromosikan mas Teguh. Memang....kalau diperhatikan mas Teguh  ganteng juga sih........

BERSAMBUNG KE BAGIAN 2/TAMAT

Belum ada Komentar untuk "LELAKI PENAKUT (Cerpen) By Ami Daria"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel