PERSAHABATAN KEDUA ISTRIKU (Novelet) By Ami Daria


PERSAHABATAN KEDUA ISTRIKU
(Cerpen) By : Ami Daria

 SINOPSIS
setelah bercerai dengan istri pertama. Aku menikah lagi dengan Dewi, cinta pertamaku saat SMA yang kebetulan seorang janda karena suaminya meninggal. Aku mempunyai dua putra dan \dewi mempunyai dua putri. Dengan pernikahan ini, lengkaplah anak-anakku menjdai putra dan putri.  Aku sudah bahagia dengan semua ini. Namun saat tahu sahabatnya, Ajeng bercerai, Dewi memintaku untuk membuktikan rasa cintaku padanya, dengan mengambulkan permintaannya. \permintaan yang sangat tidak masuk akal. Tapi, ya.....bagaimana lagi. Namanya juga sebagai rasa cintaku padanya, ya....kulakukan juga.


Planetcerpen.com Aku bingung dan stress kalau memikirkan sikap Astrid, istriku. Bagaimana tidak stress....? Itu orang bawaannya marah melulu. Perasaan apa yang kulakukan selalu salah dimatanya. Sebenarnya ada apa? Ada apa dibalik sikapnya yang tiba-tiba berubah total. Kalau diingat-ingat perubahan sikapnya itu setelah dia pulang kampung beberapa hari yang lalu. Pulang kampung karena adik sepupunya menikah. Disana dia tinggal selama dua minggu. Aku tidak dapat mendampingi karena ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggal juga menemani kedua putraku yang sekolah. Mereka tidak mungkin ijin dari sekolahnya sampai dua minggu. Memang rencananya kalau mereka akan ikut, dikampung satu minggu saja. Itu sudah termasuk perjalanan yang menempuh waktu sehari semalam. Kalau dua kali karena pulang pergi, maka tiga hari.  Berarti disana empat hari. Tapi mereka menolak, katanya malu. Masa sudah sekolah di SMP dan SMA ijin selama seminggu dengan alasan menghadiri pernikahan sepupu. Rasanya terlalu berlebihan.

Baru saja kedua putraku berangkat sekolah. Aku tinggal siap-siap menuju tempat kerja. Tidak jauh sih, cuma samping rumah. Disitu ada gedung yang luas, dibagi dua sisi. Sisi kanan untuk menampung seratus mesin jahit dan sepuluh mesin obras. Pada sisi kiri untuk menampung kain, bahan dasar pembuatan celana. Secara garis besarnya aku adalah pengusaha garmen. Dimana hasil produksi aku jual ke dalam dan luar negeri. Di garmenku, baik dari segi kain maupun jahitannya benar-benar dijaga kwalitasnya. Dari kaca jendela rumah aku melihat beberapa penjahit sudah berdatangan. Sebaiknya aku langsung meluncur. Jalan kaki, tentunya. Tidak enak kalau mereka terlalu lama menunggu.

Walau tempat kerja disamping rumah, aku tetap perlente seperti kerja di kantoran. Bagaimanapun juga aku harus tetap menjaga image. Apalagi aku membuat peraturan, mengharuskan para pekerja pakai seragam hitam putih. Biar terkesan berkelas. Jangan pakai baju bebas apalagi kaos oblong, itu akan terkesan sepele tidak berkelas.
Baik penampilan diri maupun usahaku tetap nomor satu. Mutu juga nomor satu. Aku memang tipe orang yang totalitas. Tiap kali mengerjakan sesuatu selalu sepenuh hati. Aku memegang prinsip sifat warna hitam putih. Hitam artinya tidak, maka tidak sama sekali. Putih artinya iya, maka lakukan sepenuh hati. Jangan iya, tapi dilakukan setengah hati, itu namanya abu-abu. Ini hanya gambaran dari sifat warna menurut penjabaranku.Tapi walau penjabaran abu-abu adalah sifat keragu-raguan, justru warna favoritku warna abu-abu. Bagiku warna abu-abu itu netral. Kalau hitam terlalu gelap. Kalau abu-abu jadinya setengah gelap. Remang-remang. Bukan berarti aku suka dengan keremang-remangan, lho..... Bagiku remang-remang identik dengan pencahayaan. Cahaya yang tidak terlalu terang. Cahaya yang membuat mata pedih. Aku paling tidak suka dengan keadaan yang remang-remang.

Setelah cukup lama di ruang garmen, mengawasi pekerja yang mulai benah-benah mempersiapkan segala sesuatunya.  Rasa lapar di perutku mulai terasa. Tadi aku belum sempat sarapan. Bagaimana akan sarapan? Kalau melihat muka Astrid manyun terus. Selera makanku hilang lenyap  entah kemana. Itu Astrid, istri tercintaku datang. Mau apa dia....?
Dia berjalan menuju ....ke arahku. Lebih baik aku pura-pura tidak tahu. Daripada nanti salah lagi. Hem........
“Mas Heru.......” Dia memanggilku.
Aku masih pura-pura tidak dengar. Aku bicara dengan salah satu penjahit.
“Mas Heru.......” Dia menyentuh pundakku.
Aku menoleh secara berlahan, “Ada apa, .....?”
“Tadi mas Heru kan belum sarapan. Sana sarapan dulu........” Kata Astrid sambil tersenyum. Sebenarnya senyum itu manis juga. Tapi karena dari pagi pikiranku sudah stress. Senyum itu jadi terlihat seperti menyeringa.
“Kamu sendiri sudah sarapan?” tanyaku.
“Sudah........” jawabnya.
Ups! Kupikir dia mau mengajakku sarapan bareng. Ternyata sudah sarapan duluan.
“Ayo, ditemani......” Ajakku.
“Ya, nggak usah. Masa sarapan saja ditemani seperti anak kecil saja. Mas Heru sarapan, aku yang mengantikan jaga disini.....”
Ya sudah. Dengan sangat terpaksa aku sarapan sendiri. Daripada menahan lapar, nanti bisa sakit mag. Aku juga yang rugi.
“Ya, sudah.......” Aku melangkah pergi.
Ada sedikit kecewa juga. Tapi....ya sudahlah.
Sebaiknya aku tidak usah terlalu melebih-lebihkan keadaan. Secara rasional Astrid benar juga. Aku sarapan dia mengantikanku jaga garmen.

Kalau dulu masih bujang sarapan sendiri terasa biasa biasa saja. Tapi sekarang sarapan sendiri, kok terasa hampa......Ah, mungkin aku lebay......
Aku nikmati sarapan dengan lauk sederhana namun terasa nikmat. Mungkin karena uang yang buat membeli, hasil dari kerja kerasku. Tentu saja rezeki dari Allah.....aku tak pernah berhenti bersyukur atas segala karuniaNya.
Astrid mendekatiku. Ada apa gerangan? Tadi katanya aku disuruh sarapan dan dia mengantikanku menjaga garmen. Kok sekarang malah kesini?
“Kemarin pas aku di kampung, ibu marah besar......ibu marah karena mas Heru tidak mau ikut pulang......”
“Bukan tidak mau....tapi tidak bisa.” Aku membela diri.
“Apa bedanya tidak mau atau tidak bisa? Judulnya, hasil akhirnya tidak datang. Iya, kan? Istilah itu kan hanya alasan saja.......” Kata Astrid sambil melangkah kebelakang.
Melihat Astrid melangkah pergi, aku sedikit lega......masalahnya kalau Astrid meneruskan omongannya yang paling suka berargumentasi maka selera makanku akan langsung lenyap. Bahaya, kan? Semoga saja Astrid datang setelah aku menghabiskan sarapan.

Alhamdulillah.....setelah aku meyelesaikan sarapan, Astrid baru datang.
“Kupikir-pikir omongan ibu masuk akal juga......” Kata Astrid, yang tiba-tiba sudah duduk disebelahku sambil menyodorkan segelas teh manis.
“Omongan, apa?” tanyaku sambil mengambil  minuman dari tangan Astrid dan meminumnya.
“Omongan kalau mas tidak memperhatikan keluargaku. Coba kalau yang meninggal saudara mas sendiri.....pasti langsung datang, kan?”
“Keadaannya berbeda Astrid.....keluargaku kan masih dalam satu kota. Paling-paling perjalanan setengah jam sudah sampai.”
“Yach, itu kan karena mas memang orang sini asli........”
Aku hanya diam. Aku menunggu Astrid bicara lagi. Coba, kemana arah dan tujuan pembicaraannya. Biasanya buntut-buntutnya mencari kesalahanku.
“Aku juga keluargaku, paling tidak suka kalau keluarga di nomor duakan atau bahkan nomer kedua puluh entah berapa lagi......”
“Aku tidak pernah melakukan hal itu, Astrid......” Kucoba merendahkan suaraku agar tidak terkesan kalau aku mulai emosi.
“Apa yang mas katakan beda dengan kenyataannya......lain dibibir lain di lakukan. Yang penting itu bukti nyata....bukan kata-kata. Bicara sih gampang......wong lidah tidak bertulang, tinggal cas cis cus. Nggak bakalan kesleo......”
“Ya sudah.....aku minta maaf kalau saat itu tidak bisa ikut......kamu tahu sendiri kan, waktu itu saatnya kirim barang.......”
“Kan bisa diwakilkan orang lain, mas.......”
“Siapa? Kan harus orang yang benar-benar bisa dipercaya......lagipula selama ini aku selalu mengantarkan sendiri.....Yang penting kamu sudah sampai sana dan sudah pulang sampai rumah dengan selamat.”
“Dan sendirian....! Seperti tidak punya suami saja. Jauh lho......luar Jawa......kamu tega melepas aku pergi sendirian.”
“Aku percaya kalau kamu bisa. Kamu mampu....toh selama ini kamu sudah biasa pergi kesana sendirian. Dan selama ini selalu lancar-lancar saja.” Kataku lagi.
Astrid hanya geleng-geleng kepala sambil melangkah keluar.

Aku bingung. Ini ada apa? Kenapa dia membesar-besarkan masalah kecil?  Tepatnya bukan suatu hal yang perlu dipermasalahkan. Bagiku dia sedang mencari-cari masalah. Ada apa ini? Tiap kali pulang kampung dia selalu begitu. Lama-lama capek juga aku dibuatnya. Tapi aku mencoba untuk bersabar.
Memang...kadang perempuan susah dimengerti. Daripada aku menebak-nebak,  lebih baik dia bicara bla bla bla. Katakan apa yang ingin dikatakan. Singkat, padat, tepat sasaran. Daripada begini? Pusing, aku dibuatnya.

Astrid datang lagi dan duduk di tempat semula. Aku diam menunggu. Menunggu apa yang akan dikatakan.
“Kata ibu, aku disuruh mengurus perkebunannya.....”Astrid membuka pembicaraan.
“Bisa? Mengurus perkebunan jarak jauh......?” tanyaku.
“Ya, nggak......aku harus tinggal disana.......menurut mas, gimana?”
“Nggak mungkin, to? Masa aku disini kamu disana........”
“Ya....ikut tinggal disana......”                                
“Maksudnya?” Aku bingung.
“Ya.....tinggal disana.” Kata Astrid menegaskan.
“Nggak mungkin, to? Usahaku disini, anak-anak juga sekolah disini.....masa tinggal disana.....?”
“Kan, bisa pindah. Usaha pindah.....sekolah anak-anak juga pindah......gampang, kan?”
“Tidak segampang itu. Usahaku membutuhkan banyak tenaga. Ada penjahit, tukang obras, tukang potong. Dan masih banyak lagi....jumlah mereka seratus lebih lho......terus kalau usaha pindah, siapa yang akan mengantikan pekerjaan mereka?”
“Ya....kita cari lagi....kita pasang iklan......” Kata Astrid santai.
“Diluar Jawa kok, cari penjahit. Ya sulit.......”
“Kalau mas nggak mau pindah, terus kita berjauhan dong......”
“Ya kamu tolak, tawaran ibumu itu......”
“Nggak bisa mas. Sayang kalau dikelola orang lain......”
Aku hanya diam. Heran. Kenapa tiba-tiba Astrid ingin mengelola perkebunan 
Keluarganya? Padahal selama ini perkebunan itu dikelola kedua orang tuanya. Kenapa tiba-tiba dipasrahkan ke Astrid, dan Astrid bersedia......
“Kok diam, mas?” Tanya Astrid.
“Aku bingung mau ngomong apa? Cuma yang aku heran, kenapa ibumu memasrahkan pengelolaan kebun padamu. Padahal ibu tahu kalau kamu tinggal disini. Sudah punya rumah. Aku punya usaha disini. Kedua putra kita juga sekolah disini......Kenapa? Ada apa dibalik semua ini?”
“Nggak ada apa-apa, sih.......Cuma ibu ingin agar aku tinggal disana, menemaninya. Ada atau tanpa dirimu mas......”
“Apa....?!” Aku kaget setengah mati.
“Iya....begitulah?” Jawab Astrid santai.
“Kok bisa?” Aku makin heran.
“Bisa saja.....Toh, tidak dapat dipungkiri lagi. Diantara kita sudah nggak ada kecocokan.”
“Apa kamu bilang? Aku merasa selama ini kita baik-baik saja. Hidup kita juga sudah lebih dari cukup. Apa lagi yang kurang? Apa yang membuatmu merasa nggak ada kecocokan di antara kita.....?”
“Sikap sikap kamu selama ini mas.....kamu nggak perduli dengan keadaan keluargaku. Kamu nggak pernah mau meluangkan waktu untuk mengunjungi keluargaku.”
“Bukankah setahun sekali kita selalu mengunjungi keluargamu?”
“Kurang mas.....sangat kurang. Ini nggak adil. Tiap minggu kita mengunjungi keluargamu khususnya kedua orang tuamu. Sementara keluargaku dikunjungi hanya setahun sekali. Sangat nggak adil.”
“Keadilan yang bagaimana? Kamu harus melihat sikonnya juga dong.....kita bisa mengunjungi keluargaku seminggu sekali karena mereka tinggal satu kota dengan kita. Sementara keluargamu? Mereka berada diluar Jawa....Jangan disamakan dong.......”
“Yang jelas, keluargaku ingin agar aku menetap disana......dari semua saudara hanya aku yang menetap di Jawa. Yang lain masih disana.”
“Terus. Kamu memenuhi keinginan mereka?”
Astrid hanya angkat bahu.
“Aku mau ke garmen dulu.....nanti kita lanjutkan pembicaraan ini” Kataku sambil berdiri.
“Iya. Kita tanya ke anak-anak juga. Mereka mau ikut aku atau ikut mas Heru....”
“Apa?!” Aku kaget lagi. “Oke.....nanti malam kita diskusikan.”
“Oke.......”Jawab Astrid mantap.

Di garmen aku duduk termenung. Masih bingung dengan arah pembicaraan Astrid. Kenapa tiba-tiba menyuruh dia memutuskan untuk menetap di Sumatra bareng keluarganya. Berjauhan denganku. Oke.....kalau hanya denganku, tak apa. Tapi dengan kedua putra kami. Masa dia tega meninggalkan mereka. Radit putra pertama, saat ini duduk di kelas 3 SMA. Dan adiknya, Tio yang masih duduak di kelas 2 SMP. Nanti malam mau membicarakan semua ini? Dari semua perkataannya tadi dapat kusimpulkan kalau Astrid menginginkan perceraian. Tapi kenapa?  
“Maaf pak......ada tamu yang mencari bapak......kata ibu, saya disuruh bilang ke bapak....”Kata satpam
“Oh ya, mas Andi. Terima kasih.”
“Iya pak. Sama-sama.” Jawab Andi
Aku segera pulang. Dapat dipastikan kalau ada tamu selalu menungguku di rumah.

Di ruang tamu kulihat ada dua perempuan sedang ngobrol dengan Astrid.
“Hallo kang Heru.....gimana kabarnya?” Tanya salah satu tamu dengan ceria.
“Baik.....ini Ajeng, ya......?”
“Betul. Ternyata kang Heru nggak pangling.......kalau sama yang ini, pangling nggak....?” Kata Ajeng sambil menunjuk tamu satunya.
Aku mengawasi tamu tersebut. Deg! Tidak salah lagi. Ini kan Dewi........Cinta pertamaku. Dewi mengawasiku sambil tersenyum manis.
“Apa kabar kang Heru?” Dewi mengulurkan tangan mengajak salaman.
“Baik. Kamu sendiri, bagaimana?” tanyaku sambil menerima uluran tangannya. Kami salaman. Ada getar-getar indah di hatiku.........
“Baik juga......”Jawab Dewi sambil tersenyum.
Aku segera duduk disamping Astrid.
“Silahkan ngobrol-ngobrol....aku tinggal dulu.” Kata Astrid sambil melangkah ke ruang tengah. Mungkin dia mau membuatkan minum tamuku.
“Njanur gunung......ada apa nih.....kok tiba-tiba ada dua bidadari mengunjungiku?”
“Preett......!” Jawab Ajeng sambil menjulurkan lidah.
Aku hanya tertawa geli menyaksikan tingkah Ajeng. Kulihat Dewi juga tersenyum geli.

Aku selalu mencuri-curi pandang ke Dewi. Dia masih tetap cantik dan anggun. Kalem dan pendiam. Bodynya......? Hem, bodynya masih tetap singset dan langsing. Perpisahan dua puluh lima tahun tidak menimbulkan perubahan yang berarti.
“Hei......kalau aku perhatikan, dari tadi kang Heru selalu menatap Dewi tak berkedip.”Kata Ajeng sambil melambaikan tangan di depan mataku.
“Eh maaf. Aku cuma kaget.....bener....sangat kaget. Mimpi apa aku semalam? Kok tiba-tiba kalian disini......” Aku berusaha menutupi kegugupanku.
“Oh....bunder....”Kata Ajeng sambil menjibir.
Kulihat Dewi hanya tersenyum. Senyum itu....senyum itu tidak berubah sama sekali. Senyum yang sangat menawan.

Astrid muncul sambil membawa minuman dan cemilan, menyajikan diatas meja, mempersilakan tamu untuk minum dan berlalu.
“Istri kamu cantik juga, kang......”Kata Ajeng.
“Perempuan ya, cantik. Masa ganteng......ngeri deh....” Jawabku bergurau.
“Kamu punya garmen? Hebat sekali kang......sudah sukses....”Dewi mulai mengeluarkan suara.
“Ah, biasa saja......usaha kecil kecilan.” Jawabku rendah hati.
“Takut dia....takut kita akan minta hasil produksinya. Makanya merendah....” Kata Ajeng sambil main mata dengan Dewi.
Dewi hanya tersenyum. Senyum itu tak lepas dari pengamatanku. Dan Dewi sepertinya sadar kalau diam diam aku memperhatikan. Dia menatapku tepat dimanik manik mataku. Aduh......rasa itu..... kembali mengelora. Detak jantungku berpacu sangat cepat.
Ajeng dan Dewi segera mengutarakan niatnya. Mereka ingin mengadakan reuni SMA. Makanya mereka ingin mengumpulkan teman-teman seangkatan.
Mereka menanyakan kalau kalau aku punya nomor WA temen-temen. Yang belum punya, otomatis akan dikunjungi rumahnya satu persatu. Oke....aku sangat setuju. Kebetulan aku punya nomor WA berapa teman. Mereka segera aku hubungi dan kami mengatur jadwal untuk dapat berkumpul. Aku sarankan untuk bertemu di rumah makan. Biarlah aku yang traktir....Mereka setuju. Setelah kami saling tukar nomor WA dan membicarakan segala sesuatunya, mereka pamit pulang. Dewi minta ijin untuk pamit ke Astrid. Tapi saat akan kupanggil ternyata Astrid sedang tidur siang. Akhirnya mereka tidak jadi pamit. Hanya titip salam.

Sepeninggalan mereka, aku merenung seorang diri. Mengenang masa-masa SMA. Mengenang Ajeng dan Dewi yang saat itu duduk sebangku. Juga teringat bagaimana Ajeng sering datang ke rumah ditemani Sari, yang duduk didepannya. Kenapa Ajeng tidak minta ditemani Dewi? Mungkin karena rumah Dewi agak jauh. Saat itu Ajeng blak-blakan kalau dia suka padaku. Cinta anak ingusan......Aku cuma cengar-cengir......Bagaimana mungkin aku membalas rasa suka Ajeng? Wong  rasa sukaku sudah terpatri pada Dewi. Dewi yang cantik dan kalem. Tidak banyak bicara tapi ramah. Kok bisa, ya? Masalahnya walau jarang bicara tapi senyumnya selalu menghiasi bibirnya. Makanya aku juga teman laki-laki yang lain menjuluki Dewi, gadis pendiam tapi ramah.

Sedang asyiknya aku melamun, tiba-tiba buyar oleh sapaan Astrid.
“Temen-temen  mas, sudah pulang....?”Astrid duduk disebelahku.
“Sudah. Baru saja. Tadi mereka mau pamit padamu. Tapi saat kamu kulihat dikamar, kamunya tidur....aku mau membangunkan tidak enak.”
“Nggak apa-apa. Nggak pamit juga nggak apa-apa. Mereka kan tamunya mas.”Kata Astrid.
“Oh...ya sudah.....” Jawabku lega. Aku khawatir kalau Astrid tersinggung.
 “Sebenarnya tadi aku nggak tidur....Cuma tidur-tiduran saja.....”
“Oh...kupikir tadi tidur beneran...”
“Tadi ibu telpon. Menanyakan kesanggupan mas untuk menetap disana. Mau apa, nggak?”
Aku diam beberapa saat. Tidak berani untuk menjawab.
“Kupikir mas pasti keberatan untuk meninggalkan semua ini......”kata Astrid.
“Memang. Pilihanmu terlalu sulit. Aku tak mungkin meninggalkan usaha yang sudah aku rilis sejak aku masih single.”
“Ya sudah. Itu artinya mas menolak untuk pindah ke Sumatra.....”
“Maafkan aku Astrid....tapi kenapa kamu memberiku pilihan seperti ini? Apa
selama ini kamu tidak bahagia hidup denganku......?”
“Mungkin aku bahagia......tapi setelah aku pikir-pikir, benar juga kata saudara-saudaraku. Kalau mas orangnya sangat cuek sama keluargaku.”
“Aku tidak merasa cuek sama saudara saudara kamu....”Aku bingung. Perasaan Astrid sedang mencari-cari masalah.
“Sangat beda dengan Gofur.....”Kata Astrid pelan.
“Gofur? Siapa itu Gofur.........” Aku kaget. Kok Astrid menyebut nama lelaki.
“Gofur itu dulu temenku SMA. Malah kami sempat pacaran.......”
“Terus? Kamu masih suka sama dia?”
“Apa salahnya?” Jawab Astrid santai.
“Sangat salah! Karena kamu istriku. Seorang istri tidak boleh menyukai lelaki lain.”
“Saat ini memang aku istri mas. Tapi kalau mas Heru tak bersedia untuk menetap di Sumatra, dekat dengan kedua orang tua dan saudara-saudaraku. Yach..... apa boleh buat?”                 
“Maksudnya kamu menginginkan perpisahan?” Aku merasa bagai tersambar petir disiang bolong.
“Bukankah aku memberimu dua pilihan? Ikut aku untuk menetap di Sumatra atau.......”Astrid tidak melanjutkan omongannya.
“Atau kita pisah. Begitu maksud kamu? Terus kamu mau menikah dengan Gofur....begitu?”
“Bisa jadi.....” Jawab Astrid santai.
“Dosa Astrid.......kalau kamu menikah dengan Gofur, itu artinya kamu merusak rumah tangga orang.....”
“Merusak bagaimana? Wong dia duda. Istrinya meninggal setahun yang lalu...”
“Jadi kamu memang sudah benar-benar mantap untuk pergi...?”Tanyaku.
“Apa boleh buat. Mas sendiri yang menginginkan hal ini.” Jawab Astrid santai.
“Aku? Kapan aku menginginkan perpisahan ini? Sama sekali aku tidak menginginkan hal ini.”
“Buktinya....mas nggak mau menetap di Sumatra.”
“Tidak segampang itu Astrid....kamu tega meninggalkan kedua anak kita?”
“Yach....mau bagaimana lagi?”
“Oke...kamu minta apa saja. Asal  jangan pergi......”
“Permintaanku cuma satu kok.....kita menetap di desaku. Itu saja.”
“Kalau yang satu itu, aku tak dapat memenuhinya.” Kataku lesu.
“Ya sudah.....biarkan aku kembali ke kampung halamanku dan menikah dengan Gofur.”
Aku hanya diam. Kepala ini tiba-tiba terasa sangat sakit. Cekot-cekot tak karuan. Astrid melangkah masuk.

Malam telah tiba. Kami sekeluarga baru menyelesaikan makan malam. Hem....semoga saja Astrid melupakan pembicaraan kami tadi siang. Bagaimanapun juga aku tidak menginginkan perpisahan. Aku merasa selama ini hubunganku dengan Astrid baik-baik saja. Kami sangat jarang bertengkar. Cuma Astrid memang pernah mengungkapkan keinginannya agar kami selalu mengunjungi keluarganya paling tidak sebulan sekali. Dengan jarak tempuh yang sedemikian jauh sangatlah sulit bagiku untuk memenuhi keinginannya. Dan itu menjadikan alasan Astrid untuk pisah denganku apalagi sekarang ada lelaki bernama Gofur yang bersedia mendampinginya. Mengantikanku menjadi suaminya.

Aku tiduran dikamar sambil mencoba untuk mengingat ingat segala peristiwa dan kenangan kenangan manis bersama Astrid. Aku coba untuk intropeksi diri. Seingatku, tidak pernah menyakitinya. Aku selalu memenuhi segala kebutuhannya baik secara materi maupun batiniah. Masih adakah yang kurang? Bahkan sebulan sekali kami sekeluarga selalu reflesing. Masih kurang juga? Selama ini aku juga tidak pernah melakukan hal-hal yang sekiranya membuatnya sakit hati. Misalnya main perempuan, minum minuman keras maupun main judi. Aku hanya fokus ke pekerjaan dan keluarga. Tapi kenapa dia menginginkan perpisahan? Berarti cintanya padaku tidak sedalam cintaku padanya.
Sudahlah. Kalau memang sudah tidak dapat dipertahankan mau bagaimana lagi. Mungkin dengan cara   ini dia akan mendapatkan kebahagiaan.
“Ayah......dipanggil ibu....” Kata Radit sambil melongokan kepala dari balik pintu.
“Iya Radit.....sebentar ya.....?” Aku bangun.
Rasanya lesu dan lemas. Aku sudah menduga kalau Astrid akan melanjutkan pembicaraan tadi siang. Kupikir Astrid sudah melupakan pembicaraan tadi siang..........ternyata dugaanku keliru.
Aku keluar kamar menuju ruang tengah, tempat Astrid dan kedua anakku berkumpul.

Aku ambil tempat duduk dekat dengan Tio.
“Aku sudah tanya sama mereka.....Dan mereka memilih untuk tetap disini. Tinggal bersamamu....” Nada bicara Astrid terdengar datar datar saja.
“Alhamdulillah..........”Aku sangat lega.
Tiba-tiba Tio memelukku. “Aku mau tetap sama Ayah saja......aku nggak mau pindah sekolah. Boleh kan, Ayah?”
“Boleh.....malah Ayah bahagia banget.....kamu memilih untuk tetap bersama Ayah.” Kataku sambil mengelus-elus rambut Tio penuh kasih.
Kulihat Radit hanya diam, menunduk dalam-dalam. Ada kedukaan terpancar di matanya. Mata itu berkaca-kaca.
“Kakak.....kamu tidak apa-apa.......”Tanyaku pada Radit.
“Tidak apa-apa Ayah. Cuma kakak tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba ibu memutuskan untuk pergi.....kenapa ayah dan ibu harus hidup sendiri sendiri......”
“Itu keinginan ayahmu......”Kata Astrid.
“Keinginanku?! Bukannya kamu yang akan pergi?” Aku mulai emosi.
“Aku memang akan pergi. Tapi aku kan mengajak mas juga beserta anak-anak. Kita pindah bareng-bareng. Tapi mas nggak mau. Ya, sudah.......”
Aku hanya mampu geleng-geleng kepala. Ingin kutanyakan mengenai Gofur...tapi rasanya kurang tepat. Ada kedua anakku disini. Biarlah ini menjadi rahasia kami berdua. Orang dewasa. Kedua anakku memelukku sambil menangis. Kucoba menahan air mata yang hampir jatuh dari sudut mataku. Dan Astrid?Gila...... Dia tegar sekali. Sama sekali tidak nampak kesedihan di wajahnya.
Dari pembicaraan ini diputuskan kalau Astrid jadi pulang ke Sumatra. Dia juga yang akan mengurus surat perceraian. Aku tidak mampu mencegah. Dan memang tidak mungkin mencegahnya. Syaratnya terlalu berat. Sekarang aku merasakan seperti mati rasa. Rasa cintaku telah musnah tertutup kekecewaan yang dalam.

Dengan langkah lesu aku menuju kamar tidur. Entahlah.....apakah aku mampu memejamkan mata atau tidak. Baru saja aku duduk ditepi ranjang. Astrid datang menyusul. Mau apa dia? Apa dia ingin kami melakukan rutinitas selayaknya suami istri sebagai tanda perpisahan? Kalau iya. Aku akan melayani dengan segenap jiwa agar dia mengurungkan niatnya. Oh...ternyata bukan. Dia memasukkan semua pakaiannya di koper besar. Aku hanya diam membisu sambil memperhatikan segala gerak geriknya.
“Mas.....tentunya mas tahu, kan? Kalau kita ada harta gono gini.....?” Tanya Astrid sambil membereskan peralatan make-upnya.
“Tahu....”Aku menjawab lesu.
“Aku minta itu.......Jangan kamu bilang aku tidak bekerja, maka aku tidak berhak mendapatkan harta gono-gini.....”
“Aku belum bicara apapun lho.....kamu main tuduh saja.” Aku agak kaget dengan analisanya.
“Oh bagus. Berarti mas setuju.”
“Kamu mau minta berapa juta? Besok aku transfer.......Aku tidak ingin kamu
hidup kekurangan.”
“Baik. Terima kasih sebelumnya. Sementara aku mau tidur bareng Tio. Besok pagi-pagi antar aku ke bandara.” Kata Astrid sambil melangkah keluar.
Ternyata mau minta harta gono-gini. Rumah, mobil, motor juga yang lain, diperkirakan harganya berapa lalu bagi dua. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Mungkin aku bisa pinjam bank. Lebih baik aku berikan apa yang dia inginkan. Aku tidak mau bertengkar maupun berselisih memperebutkan harta.

Pagi harinya aku jadi mengantar Astrid ke bandara. Kugenggamkan uang lima juta sebagai pegangan selama dalam perjalanan. Yang lain, yang menurut Astrid harta gono-gini akan aku transfer ke nomor rekeningnya.

Sebulan sudah Astrid pergi dari rumah. Selama ini pula aku mengurusi kebutuhan kedua anakku. Pagi-pagi beli sarapan. Siang dan malam beli lauk. Untuk nasinya masak sendiri. Sekarang apa-apa serba praktis. Pulang dari beli lauk, kulihat ada perempuan bertubuh ramping berdiri didepan pintu rumahku. Siapa dia?
“Hai....darimana?” Ternyata dia Dewi.
“Beli lauk buat makan malam. Sudah lama?” Aku kaget juga.
“Belum sich.....kok yang beli lauk kamu? Istri kemana?”
“Pulang kampung. Sudah sebulan dia pulang kampung.”
“Sebulan? Lama sekali.....”
“Iya. Mungkin urusannya belum beres. Ayo masuk......”
“Disini aja deh. Nggak enak, nggak ada istrimu........”Kata Dewi sambil duduk dikursi yang ada di teras.
“Aku bawa masuk lauk dulu, ya....” Kataku sambil masuk rumah.
Dewi hanya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah menaruh lauk di meja makan aku segera ke depan menemui Dewi. Tidak lupa aku bawa minuman dan cemilan.
“Silahkan diminum.....” Kataku.
“Terima kasih.” Dewi langsung minum. “Belum ada yang datang, ya? Kami berlima janjian untuk ketemu disini......”
“Oh, ya....aku kok nggak tahu.....”
“Dari pagi hp kamu off terus, sih......?”
Sambil menunggu yang lain datang, kami ngobrol-ngobrol. Ingin rasanya aku cerita hal yang sebenarnya. Mengenai kepergian Astrid ke Sumatra. Tapi rasanya waktunya kurang pas. Justru aku menanyakan keberadaan keluarganya. Hal-hal mengenai suaminya. Apa pekerjaannya? Anaknya berapa? Dan lain sebagainya. Namun saat kutanya keberadaan suaminya, Dewi diam menunduk sambil menghela napas panjang.
“Kenapa Dew? Ada apa dengan suamimu?” Ada rasa bersalah merambat dalam sanubariku.
“Suamiku sudah meninggal enam bulan yang lalu.......”Jawab Dewi lirih.
“Inalillahi waina lillahi rojiun....Maaf Dew, aku nggak tahu.”
“Nggak apa-apa.....setelah suamiku meninggal. Aku jual rumah kami dan aku beserta kedua anakku memutuskan untuk menetap disini. Bareng dengan kedua orang tuaku....”
“Oh, iya.....yang sabar, ya.....?”
Dewi hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Ada kedukaan terpancar di matanya.

Ternyata Dewi janda dan aku hampir duda.....pucuk dicinta ulam tiba.....tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Mungkin ini saatnya aku bisa bersatu dengan Dewi. Perempuan yang merupakan cinta pertamaku. Tapi aku bukan cinta pertama untuknya. Dulu saat SMA, waktu aku mengungkapkan cintaku. Dewi tertawa geli. Katanya aku lucu. Masih kecil, uang jajan masih minta ortu kok sudah mikirin cewek......Aku hanya mampu tertawa malu dengan jawabannya. Kupikir apa yang Dewi katakan benar juga. Cuma aku buru-buru mengungkapkan isi hatiku agar tidak keduluan orang lain. Tapi ternyata malah ditertawakan. Ungkapan perasaan yang terlalu dini, rupanya.
“Kok yang lain belum pada datang, ya...” Dewi terlihat gelisah.
“Mungkin sebentar lagi. Nggak apa-apa. Kamu aman kok disini....”Kataku bercanda. Dewi hanya tertawa kecil.
“Wong jadi panitia kok jam karetnya terlalu mulur.....” Dewi terlihat sedikit kecewa.
“Panitia? Siapa saja? Kok aku nggak tahu.....?”
“Aku, Ajeng, Nardi, Lukman, Sari....satunya kamu.”
“Oh....jadi aku dipilih juga?”
“Begitulah....nggak apa-apa, kan?”
“Nggak apa-apa sih......asal ada imbalannya.”
“Memangnya imbalannya minta apa?” Tanya Dewi terlihat kaget.
“Nggak mahal sih.....aku cuma minta hatimu.......hatimu untukku.....”Kataku sambil menatap Dewi lekat-lekat.
“Idih......ditinggal mudik istri, cari mangsa baru......Jangan mentang-mentang aku janda. Terus kamu mau mempermainkanku, lho......”
“Nggak.....ampun...ampun tuan putri.....aku tak bermaksud mempermainkanmu. Aku serius?” Kataku sambil bertingkah seperti menyembah.
“Serius? Apa maksudnya?”Dewi terlihat bingung.
“Mau mendaftar......kalau dulu waktu masih SMA gagal, siapa tahu sekarang berhasil....”Jawabku lagi.
“Widih.....mau poligami.....”Jawab Dewi meledek.
Aku cuma tertawa sambil menatap Dewi tajam. Dewi terlihat salah tingkah. Dia membuang pandangannya kesamping. Hampir saja aku menceritakan keretakan pernikahanku dengan Astrid. Namun belum sempat aku bercerita keburu kedatangan Ajeng dan teman-teman yang lain. Akhirnya pembicaraan kami mengarah pada rencana rencana reuni. Kami lalu membentuk group WA yang diberi nama “SEKELAS” memang para anggotanya hanya sekelas. Dan reuni yang  direncanakan juga cuma sekelas. Kata Ajeng yang penting, yang sekelas saja. Kalau satu angkatan terlalu banyak. Nanti kalau sekelas sudah sukses, baru merembet ke seangkatan. Kupikir betul juga pendapatnya. Ajeng banyak bicara kalau Dewi sebaliknya. Lebih banyak diamnya. Selama   
                    
                                                                              
Setelah tahu Dewi janda, aku jadi sering mencari-cari alasan agar kami bisa bertemu. Untuk sementara aku melupakan masalah antara aku dan Astrid. Terlupakan begitu saja. Aku lebih fokus ke reuni. Atau lebih tepatnya ke Dewi, yang kalau diperhatikan bukan semakin tua tapi semakin matang dan anggun. Aduh....apa aku dilanda CLBK....?
Mungkin........mungkin sekali. Bagaimana dengan Dewi? Entahlah........?
Yang jelas tiap kali kami berenam berkumpul, Dewi terlihat tidak banyak bicara. Justru Ajeng yang terlihat agresif. Sering memancing-mancing omongan yang agak porno.

Hari ini genap lima bulan Astrid pulang kampung halamannya. Kupikir hari ini dia mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk Radit baik lewat WA maupun telepon. Tapi ternyata harapan itu tak terwujud. Astrid benar-benar sudah tidak memperhatikan aku dan kedua anak kami. Kok bisa, seorang ibu tidak ingin tahu keadaan kedua anaknya? Ya sudah. Walau tanpa Astrid tetap kulakukan kebiasaan kami kalau salah satu dari kami ulang tahun. Yaitu, makan-makan di rumah makan. Walau hari ini Astrid tidak ikut namun hal itu tidak terlalu berpengaruh pada Tio dan Radit. Mereka terlihat enjoy enjoy saja. Tak sengaja aku melihat Sari dan Dewi disitu juga. Mereka terlihat sedang bicara serius. Aku tak berani mendekat. Namun aku ambil tempat duduk yang membelakangi mereka. Kok mereka membicarakanku?
Aku benar-benar fokus pasang telinga.
“Dulu Ajeng tergila-gila banget sama Heru.....” Kata Sari.
“Kok kamu tahu? Emangnya Ajeng cerita?” Tanya Dewi.
“Bukan cuma cerita, tapi sering mengajakku ke rumah Heru.....Tapi kalau sudah sampai sana Ajeng malu-malu....jadinya aku yang banyak cerita sama Heru.”
“Seharusnya kamu katakan, kalau Ajeng naksir berat sama Heru....jadi Ajeng nggak menyimpan perasaannnya dalam dada.”Kata Dewi
“Memang akhirnya aku mengatakannya......”
“Terus jawaban Heru, gimana?” Dewi terlihat penasaran.
“Heru senyum maniiisss sekali. Setelah itu dia bilang, belum memikirkan pacaran. Semua dianggap teman....gitu.....”
“Oh, gitu....” Kata Dewi sambil menutup mulutnya.
Waduh! Pasti dalam hati Dewi menertawakanku. Dewi tentunya masih ingat kalau aku pernah mengungkapkan cinta padanya. Malu juga aku jadinya. Tapi biarlah....itu memang kata-kata yang tepat untuk menolak cinta Ajeng. Aku cuma berharap Dewi mau mengerti perasaanku saat itu.
“Kasihan lho, Dew....sampai sekarang Ajeng masih suka sama Heru. Waktu pertama kali WA aku, yang ditanyakan Heru dulu.....”
“Heru? Bukan aku teman sebangkunya?”
“Bukan. Tapi Heru dambaan hatinya......”Kata Sari sambil menahan tawa.
“Sebenarnya itu nggak baik buat Ajeng. Dia sudah bersuami tapi hati dan pikirannya tertuju ke lelaki lain.”
“Hubungan sama suaminya nggak harmonis. Sepertinya mereka akan cerai......”Kata Sari sambil berbisik.
Deg! Cerai....? Gawat! Tapi kenapa gawat? Apa hubungan perceraian Ajeng denganku?
“Dan parahnya lagi......Katanya kalau sudah cerai, Ajeng mau kok, jadi istri ke dua Heru. Nikah siri juga nggak apa-apa. Yang penting judulnya, bisa hidup berdampingan dengan Heru......” Kata Sari lagi.
Aku menunggu komentar Dewi. Tapi dia tidak bicara sepatahpun. Kenapa Dewi seperti itu? Apa yang ada dalam pikirannya.
Justru aku yang tiba-tiba keselek. Tio buru-buru mengambilkanku minum.
“Minum dulu, Yah....” Kata Tio sambil mendekatkan minuman itu padaku.
“Makasih, dik......” Kataku dan langsung minum.
Tiba-tiba Sari sudah berdiri disebelahku. Dia menatapku lekat-lekat.
“Kang Heru.....! Kamu disini dari tadi? Pasti kamu menguping semua pembicaraan kami......”Sari sangat kaget.
“Siapa Sari......dia kang Heru?!” Dewi berjalan mendekatiku dan menatapku tajam.
Aku menatap Dewi juga. Lama kami saling tatap. Ada desir desir indah dihatiku.
“Hei! Kenapa kalian malah bengong....”Sari mengagetkan kami.
“Eeh...maaf. Maaf. Aku nggak pernah ada niat menguping pembicaraan kalian. Maaf....” Aku benar benar merasa bersalah.
“Its oke.......tak apa-apa.” Jawab Dewi santai.
“Makasih, Dew.....” Kataku.
“Makasih untuk apa?”
“Untuk pengertianmu. Kamu tidak marah atas perlakuanku tadi......”
“Oh......itu....” Kata Dewi sambil tersenyum.
“Tapi kebetulan juga kamu di sini, Kang Her......Makanan kami dibayari dong.....” Kata Sari sambil tertawa kecil.
“Hust! Jangan sembarangan....”Kata Dewi sambil melotot ke Sari.
Sari buru-buru menutup mulutnya.
“Oke.....dengan senang hati.” Aku lega Sari tidak marah.
“Oke deh....kebetulan kami sudah selesai, kami pulang dulu......yok Dew....” Ajak Sari.
“Dewi biar disini dulu. Aku ingin bicara sebentar......”Kataku buru-buru.
“Bicara apa?” Dewi tampak kaget.
“Nggak apa-apa, Dew....kamu kan bendahara, mungkin kang Heru mau jadi donatur.....Aku pulang dulu, ya.......” Kata Sari sambil memeluk dan menempelkan pipi ke Dewi.
“Terus, aku pulangnya gimana? Tadi aku kan bonceng kamu....?” Kata Dewi.
“Nggak apa-apa. Nanti aku antar sampai rumah.” Kataku buru-buru.
“Betul itu....Pulang dulu, ya....” kata Sari.
Setelah Sari pergi, Dewi terlihat kikuk.
“Duduk sini, Dew......” Kataku sambil bergeser agar Dewi duduk di sebelahku.
Dewi duduk sambil menatap kedua putraku.
“Mereka ini, kedua putraku. Yang gede namanya Radit, adiknya namanya Tio.....Ayo kalian salim sama tante Dewi....”
Mereka mengikuti perintahku.
“Putra kamu ganteng ganteng .....” Kata Dewi.
“Tentu....siapa dulu bapaknya....” Kataku bangga.
Kedua anakku cuma tertawa geli. Dewi cuma tersenyum.
“Ibunya juga cantik kok......dulu waktu pertama kali aku ke rumahmu, kan bertemu istrimu. Siapa namanya?”
“Astrid.” Jawabku pelan.
“Astrid. Nama yang bagus.....” Kata Dewi sambil memperhatikan kedua putraku. “Ini mbak Astrid kok, nggak ikut?” Lanjut Dewi.
“Masih di kampung halamannya.” Jawab Tio tiba-tiba.
“Oh...pulang kampung....bukannya dulu sudah pernah pulang kampung? ” mata Dewi tertuju padaku.
Aku bingung mau menjawab apa.
“Udah lama kok tante......udah lima bulan.”
“lima bulan? Jadi belum pulang ke sini lagi.” Dewi tampak bingung.
“Dia masih ada urusan......ya sudah.....yok, lanjutkan makannya. Mau nambah atau tidak....” Tanyaku pada kedua anakku.
“Sudah Ayah.....sudah kenyang. Pulang, yok....”Kata Tio.
“Oke...mas Radit, mau nambah?”
Radit hanya mengelengkan kepala sambil tersenyum. Tatapannya tak pernah lepas dari Dewi. Dan Dewi yang menyadari hal itu, terlihat sedikit salah tingkah.

Akhirnya kami pulang, namun sebelumnya kami memesan makan untuk dibawa pulang Dewi. Kami mengantarnya pulang agar aku tahu keadaan Dewi juga anak-anaknya. Ternyata Dewi mempunyai dua putri yang cantik cantik seperti ibunya. Intan kelas 2 SMA dan Desi kelas 1 SMP. Sikap mereka sangat manis dan hormat padaku. Kami saling berkenalan, ngobrol seperlunya, dan langsung pamit pulang.

Aku jadi menghayal. Seandainya aku jadi menikah dengan Dewi maka aku akan mempunya dua putra yang tampan dan dua putri yang cantik cantik, lengkap sudah. Tapi apakah Dewi mau menerimaku sebagai suami? Kupikir, keputusan Dewi mau menerima atau menolak tergantung perjuanganku dalam menaklukan hatinya. Menyadarai hal itu, aku bertekad berjuang mati-matian mendapatkan hatinya. Betul. Yess!

Waktu terus berlalu. Sudah delapan bulan aku hidup dengan kedua putraku. Surat resmi perceraian kami sudah ada. Jadi kami memang benar-benar bercerai. Bercerai karena masalah yang aku sendiri kurang tahu. Aku benar-benar tidak tahu kesalahan sefatal apa yang telah kulakukan hingga Astrid memutuskan untuk meninggalkanku. Apakah benar, karena kehadiran lelaki lain yang bernama Gofur? Demi Gofur rela meninggalkanku dan kedua putranya. Setelah memutuskan meninggalkan kami, Astrid tidak bisa dihubungi. Pasti dia ganti nomor hp. Benar-benar sudah tidak mau ada komunikasi diantara kami. Sebulan dua bulan kedua anakku sering menanyakan keberadaan dan keadaan ibunya. Tapi saat ibunya tidak bisa dihubungi, mereka menyadari kalau ibunya tidak menginginkan keberadaannya. Mereka merasa dibuang. Apalagi Radit. Sampai lulus SMA, ibunya tidak menanyakan bagaimana kelanjutannya, aapa mau bekerja atau kuliah. Sekarang Radit sudah kuliah. mengambil universitas yang masih dalam satu kabupaten dengan tempat tinggalku, dengan alasan agar dapat pulang pergi, jadi tidak perlu kost. Katanya kasihan Tio kalau hanya tinggal berdua dengan ayahnya, tanpa kehadiran ibunya. Sebenarnya aku sering kali memberi pengertian pada mereka kalau ibunya sangat menyayangi mereka, tapi mereka tidak percaya. Buktinya ibunya tidak pernah menelpon atau sekedar berWA, sekedar menanyakan keadaan mereka. Begitu alasan mereka. Memang benar juga. Mereka tidak butuh kata-kata. Mereka butuh bukti nyata, realitas. Menjalani hidup tanpa kehadiran seorang wanita yang biasa mengerjakan semua pekerjaan rumah, membuatku kalang kabut. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk cari pembantu agar ada yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dari mencuci, memasak, sampai beres-beres rumah. Pembantuku tidak menginap. Datang pagi pulang sore.
                                                                                               
Radit yang sudah menginjak dewasa selalu mendorongku agar cepat cepat cari ibu baru. Katanya, tidak usah memikirkan ibu kandungnya. Memikirkan saran Radit aku jadi sering teringat Dewi. Dewi.....setiap kali kami kumpul-kumpul untuk membahas reuni hingga terlaksananya reuni, dia tenang-tenang saja. Sama sekali tidak membahas mengenai perasaanku padanya.Justru Ajeng yang sering WA aku. Merayu-rayu dan memancing agar kami bisa selingkuh. Tapi aku tidak mau. Aku tidak suka merusak rumah tangga orang. Mungkin dulu waktu masih single aku termasuk pemuda playboy. Tapi setelah menikah aku memutuskan untuk setia pada istriku.

Bicara tentang Dewi. Rasa-rasanya aku tak mungkin hanya diam menunggu. Aku harus lebih aktif lagi. Aktif pendekatan pada Dewi. Belum terlalu malam. Lebih baik aku WA Dewi sekedar tanya kabar. Akupun segera kirim WA. Kutulis kata-kata ‘I love you.’ Tapi kulihat WA Dewi sedang off. Tak apa. Aku tulis lagi, ‘I love you’. Setengah jam kemudian aku dapat balasan dari Dewi berupa emoci menjulurkn lidah. Lucu sekali dia. Aku memutuskan untuk aktif mengatakan I love you agar Dewi tahu kalau aku benar-benar cinta padanya.Aku berjanji dalam hati bahwa Dewi harus jadi milikku. Apapun yang terjadi. Entah bagaimanapun caranya Dewi harus jadi milikku. Harus! Tidak dapat diganggu gugat! Oh,ya.....untuk dapat menaklukan hatinya aku harus sering-sering berkomunikasi dengannya. Lebih penting lagi bertatap muka. Maka aku minta ijin untuk main ke rumahnya. Dan Dewi mempersilahkan. Pucuk di cinta ulam tiba. Akhirnya aku mengatur waktu untuk main ke rumahnya.

Sesuai hari yang kujanjikan, sore hari setelah para pekerjaku pulang aku berniat untuk berkunjung ke rumah Dewi. Namun di tengah jalan aku mendapat WA Dewi yang mengatakan agar kami bertemu di luar saja. Di rumah makan biasa kami kumpul-kumpul saat membahas reuni. Aku segera balik arah.

Di rumah makan yang kami janjikan kulihat Dewi duduk sendirian disudut ruangan. Aku mendekatinya. Dewi tersenyum manis sekali menyambut kedatanganku.
“Kok minta ketemu disini. Kenapa? Aku nggak boleh main ke rumahmu?”
“Nggak enak sama tetangga juga saudara......Lebih baik disini aja.” Jawab Dewi santai.
“Oke.....tak apa. Dimanapun aku bersedia. Yang penting aku bisa bertemu kamu. Itu yang penting.” Kataku sambil duduk dihadapannya.
Aku sengaja memilih untuk duduk di hadapannya agar lebih leluasa menatap wajahnya. Aku menyodorkan daftar menu pada Dewi. Kami segera memilih menu.
“Kok pingin datang ke rumahku, ada perlu apa?” tanya Dewi.
“Aku ingin bicara serius denganmu.”Jawabku agak gugup.
Aku tidak siap kalau tiba-tiba mendapat pertanyaan yang begitu to the point
“Oh begitu...? Oke, kalau begitu silahkan bicara disini.” Jawabnya dengan nada masih santai.
“Aku ingin menegaskan perasaanku padamu selama ini.”
“Perasaan yang, bagaimana?” Dewi terlihat agak bingung.
“Bukankah selama ini aku sering WA padamu, aku katakan I love you...” Kataku sambil menatap dia lekat-lekat.
“Oh...itu? Bukankah itu cuma bercanda?”
“Tidak.....aku serius. Aku ingin memperistri kamu....”Kataku sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
“Kamu gila?!” Dewi tampak agak emosi.
“Tidak Dew.....aku waras. Kalau aku gila, tentunya saat ini aku berada di rumah sakit jiwa. Bukan duduk ngobrol denganmu.....”Kataku sambil tersenyum lagi.
“Kok bisa....? Seorang suami merayu perempuan lain? Kamu bilang itu serius? Maaf kang Heru. Aku nggak berani main api, takut terbakar.” Dewi tampak agak emosi.
“Kamu tidak sedang bermain api kok. Kamu sedang duduk ngobrol denganku......”Kataku sambil tersenyum nakal.
Dewi cuma geleng-geleng kepala sambil berdiri.
“Aku mau pulang saja......pembicaraanmu melantur tak karuan.”
“Tunggu sebentar. Melantur, bagaimana?” Aku memegang tangannya.
“Kamu punya istri dan ingin memperistri aku.....itu namanya melantur tak karuan. Mimpi......Jangan mentang-mentang aku janda, terus kamu menganggap rendah aku.....”
“Please....maaf...aku tidak berniat seperti apa yang kamu pikirkan.” Aku mengantupkan kedua tanganku. Benar-benar minta maaf.
“Tolong luangkan waktu sejenak. Ada hal penting yang belum aku sampaikan padamu.”
“Penting buatmu tapi tidak penting buatku....” Kata Dewi sambil melangkah pergi.
“Tolong, dengarkan dulu.” Aku menghadang langkahnya.
Dewi diam. Namun tatapannya tajam menghujam. Dia terlihat sangat marah.
“Sangat penting bagiku, agar kamu mengetahui statusku yang sebenarnya.....” Jawabku pelan.
“Status? Apa maksudnya?” Dewi tampak bingung.
“Maka...tolong beri aku waktu. Sebentar saja......”
“Oke....oke.....silahkan.” Kata Dewi sambil sedakep.
“Sebaiknya kita duduk di tempat semula. Nggak enak kalau bicara sambil berdiri. Kesannya seperti orang bertengkar saja.” Kataku.
“Oke....kita duduk lagi. Sepuluh menit...”Kata Dewi tegas.
“Oke......sepuluh menit.” Aku sedikit lega.
Kami duduk kembali. Secara kebetulan pesanan kami datang.
“Pesanan datang.....dimakan dulu.” Kataku sambil mulai makan.
Dewi hanya diam sambil memandangi makanannya. Sepertinya tidak ada selera untuk menikmatinya.
“Sudah jalan tiga menit....kurang tujuh menit lagi...” Kata Dewi sambil buang muka ke samping.
“Oke...oke....aku langsung to the poin saja....”Jawabku gugup.
“Memang seharusnya begitu.....” Kata Dewi, masih sambil membuang muka.
“Saat ini statusku duda, Dew....”Kataku pelan.
“What??” Dewi tampak kaget.
“Betul. Serius....aku sudah punya surat cerainya.”
Dewi hanya diam sambil menatapku tajam.
“Makanya, begitu aku tahu kalau kamu janda, aku buru-buru ingin meminang kamu. Aku takut keduluan orang lain....”
Dewi hanya diam sambil menghela napas panjang.
“Dulu kamu bilang, istri pulang kampung.....”
“Iya. Memang bekas istriku memilih untuk pulang kampung meninggalkan aku dan kedua anakku.”
“Apa yang kamu lakukan? Sampai sampai istrimu tega meninggalkanmu.”
“Aku tidak tahu. Mungkin aku punya kekurangan yang tidak kusadari. Kekurangan yang menyebabkan istriku pergi. Tapi aku tidak tahu....aku benar-benar tidak tahu”
“Mungkin memang jodoh kalian hanya sampai disini.....”Jawab Dewi bijaksana.
“Terus? Apa jawabanmu?” Tanyaku mengejar.
“Aku belum bisa menjawab saat ini. Kepergian suamiku baru sekitar setahun. Rasanya aku belum siap membuka hatiku untuk lelaki lain....”
“Its oke.....tidak apa-apa. Aku akan menunggu....”Jawabku.
Dewi mengangguk sambil tersenyum.
“Oh ya..... maaf. Dew.....mengenai statusku, hanya kamu yang tahu. Belum saatnya aku mengatakan pada teman-teman.”
“Lalu kenapa kamu mengatakan padaku?”
“Karena aku mencintaimu. Jadi aku ingin agar kamu mengetahui statusku.”
Dewi hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Jangan hanya tersenyum. Ini dimakan. Sayang lho...sudah dipesan.” Kataku sambil makan.
Dewi hanya mengangguk dan tersenyum.

Sampai sebulan ungkapan cintaku tidak mendapat jawaban dari Dewi. Tentu saja aku tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Atau...ini merupakan penolakan secara halus? Entahlah. Di group ‘SEKELAS’ Kulihat Dewi sering off. Ada apakah gerangan? Seandainya teman-teman sekelas ada acara pergi kemana secara ramai-ramai, aku masih ada kesempatan untuk bertemu dia. Kalau perginya ramai-ramai, dia masih mau ikut. Tapi dia selalu menolak kalau aku mengutarakan ingin bertemu secara empat mata. Aku harus membuat acara agar teman-teman mau ikut. Tapi acara apa? Belum lagi aku dapat ide, kulihat di group ‘SEKELAS’ Sari mengabarkan kalau Lukman masuk rumah sakit dan mengajak teman-teman untuk bezuk. Aku langsung setuju dan menanyakan kapan harinya. Di group langsung dibahas. Ditentukan kami akan membezuk besok sorenya. Kutanyakan Dewi, apakah mau ikut. Dia menjawab akan ikut. Kami segera membahas tempat berkumpulnya. Dan ditentukan kalau aku membawa mobil.

Hari yang ditentukan telah tiba. Aku dandan setampan mungkin. Kucukur rambut juga kumisku. Biar terlihat lebih bersih. Aku ingin tampak tampan dihadapan Dewi. Mungkin ini kesempatan terakhir. Karena sekarang kulihat hp Dewi sering off. Baru saja aku mau keluar rumah, Dewi WA aku kalau dia menungguku dijalan raya yang lurus ke desanya. Dia tidak bisa sampai ke tempat yang telah kami janjikan, karena diantar anaknya yang masih SMP. Motornya mau dibawa pergi anaknya. Its oke.....bagiku malah kebetulan. Aku ada kesempatan untuk ngobrol lebih leluasa tanpa kehadiran teman yang lain.
Kulihat Dewi mengenakan tunik hijau botol berjilbab hijau kembang-kembang, sedang ngobrol dengan putrinya. Dewi terlihat anggun dan segar. Setelah aku menghampiri mereka, putrinya langsung salim padaku juga Dewi, lalu pamit pulang. Aku membukakan pintu depan dan Dewi langsung duduk. Kami duduk bersebelahan. Terasa gugup bagiku untuk membuka pembicaraan.
“Bagaimana keadaanmu kang Heru? Sehat...?” Dewi tersenyum manis.
“Alhamdulillah sehat? Kamu sendiri, bagaimana?” Aku balik bertanya.
“Sehat juga........”
“Aku perhatikan, kamu kok jarang on. Kenapa?”
“Nggak apa-apa.....belum ada hal penting yang perlu dibahas.”
“Aku selalu mengamati kalau-kalau kamu on. Aku ingin menanyakan jawabanmu......”
“Jawaban, tentang apa?”
“Tentang pinanganku.......bagaimana? Maukah kamu menikah denganku?”
Dewi menghela napas panjang beberapa kali. Namun dia tetap diam seribu kata.
“Maaf. Aku terburu-buru. Aku terlalu tidak sabar....”
“Aku bingung kang Heru....di satu sisi aku merasa nyaman denganmu. Namun disisi lain aku tidak enak dengan Ajeng....” Jawab Dewi sambil menunduk.
“Kok bisa bawa-bawa Ajeng? Apa hubungannya dengan Ajeng....”
“Bukan rahasia lagi, kalau sejak SMA sampai sekarang Ajeng cinta padamu. Bahkan Ajeng pernah bilang pada Sari kalau dia mau dijadikan istri sirimu.”
“So.....apa hubungannya dengan kita?”
“Tentunya akan terasa sangat menyakiti hati Ajeng kalau aku menerima kamu.....”
“Kenapa kamu jadi memikirkan perasaan Ajeng?”
“Dia sahabatku......sahabat dari dulu hingga sekarang. Rasanya tak mungkin aku merebut hati lelaki yang sangat dia cintai.”
“Tapi aku bukan suaminya Ajeng lho......Jadi kenapa pula kamu merasa bersalah? Toh, sekarang Ajeng sudah menikah? Dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah mencintai Ajeng. Cintaku hanya padamu.” Kataku.
Aku benar-benar tidak menduga kalau Dewi akan berpikir sejauh itu.
Dewi hanya menghela napas panjang.
“Kenapa kamu memikirkan orang lain tapi kamu tidak memikirkan kebahagiaan kamu sendiri?”
Dewi menatapkan sambil mengerutkan kedua alisnya.
“Kamu mau atau tidak menikah denganku, aku tidak akan pernah menikah dengan Ajeng.”
“Kalau Ajeng cerai dengan suaminya, kamu juga tetap tidak akan menikahinya.”
“Tidak.....aku sama sekali tidak mencintai dia......”
Secara berlahan kugenggam jemarinya, “Saat ini yang kucintai hanya kamu. Bukan yang lain.....”
Dewi tersenyum sambil menarik jemarinya.
“Itu Sari dan yang lain sudah menunggu.....”Kata Dewi sambil menunjuk ke depan.
“Iya......”Jawabku.
Kulihat ada enam orang menunggu. Lima perempuan dan lelakinya cuma Anton. Ajeng dan Sari ada diantara mereka.
“Nanti aku pindah belakang, ya...? Biar Anton yang di depan.”
“Sebenarnya aku ingin kamu tetap disini....tapi, terserah kamu.” Jawabku.
Setelah sampai ditempat teman-teman kumpul, Dewi segera pindah belakang dan Anton duduk didepan, sebelahku. Aku belum selesai bicara dengan Dewi. Aku berjanji dalam hati untuk melanjutkan pembicaraan tadi, pulang dari rumah sakit nanti.

Di rumah sakit aku sering diam, tanpa banyak bicara. Aku masih terpikir dengan pola berpikir Dewi. Kenapa dia memikirkan perasaan Ajeng tanpa mau memikirkan perasaan diri sendiri juga perasaanku. Memangnya siapa yang akan menikah. Rupanya diamku menarik perhatian Sari. Dia curiga ada sesuatu padaku. Sari mengajakku menjauh dari teman-teman, dan bicara empat mata. Akhirnya aku menceritakan tentang perasaanku pada Dewi juga jawaban Dewi yang menjaga perasaan Ajeng. Otomatis aku juga bercerita kalau statusku sekarang adalah duda. Sari sependapat denganku. Dia juga tidak habis pikir dengan pola berpikir Dewi. Dan Sari mengusulkan agar pulang dari rumah sakit nanti, bisa bicara bertiga. Aku, Dewi dan Sari sendiri. Aku sangat setuju. Aku berharap kehadiran Sari nantinya bisa merubah pola berpikir Dewi.

Pulang dari rumah sakit kami bertiga jadi bicara enam mata. Setelah yang lain pulang, kami bertiga menuju ke rumah makan untuk bicara lebih serius.
“Dew....untuk kedua kalinya, aku ingin meminangmu.”Kataku
Kulihat Sari mengacungkan jempol.
“Aku nggak bisa Her......aku menjaga perasaan Ajeng.....”
“Kok perasaannya Ajeng? Apa hubungannya....?” Tanya Sari keheranan.
“Lho, bukannya kamu tahu kalau dari dulu hingga sekarang Ajeng menyukai kang Heru? Bahkan dia siap dinikah siri......?”
“So....apa hubungannya?”Tanya Sari.
“So.....Ajeng sangat mengharap Heru. Kenapa justru Heru meminangku. Kami berdua sahabat lho......Tentunya akan sangat menyakitkan hati Ajeng bila kami menikah.”
“Mungkin......tapi, bukankah tidak selamanya kita harus memenuhi keinginan orang lain. Seperti halnya Heru tidak harus memenuhi keinginan Ajeng.” Kata Sari.
“Aku sama sekali tidak mencintai Ajeng. Cintaku hanya padamu, Dew.....”Kataku.
“Nah, lo....cinta tak dapat dipaksakan. Heru mencintaimu, dan kalau kamu juga mencintai Heru....tunggu apa lagi? Lagipula sekarang Ajeng sudah menikah...”
“Tapi Ajeng kan nggak bahagia.....dia cerita padaku, katanya mau cerai.” Kataku.
“Ya, monggo kalau mau cerai. Tapi hal ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Dew....kamu harus jujur pada diri kamu sendiri.” Kata Sari.
“Iya Dew....jangan perdulikan perasaan Ajeng.......perdulikan perasaanmu. Juga perasaanku.” Kataku.
“Lagipula kamu kan nggak merebut Heru dari Ajeng. Saat ini Heru bukan suaminya Ajeng. Ajeng menikah dengan lelaki lain.”
“Tolong pikirkan lagi Dew......Aku hanya mencintaimu. Bukan Ajeng maupun yang lain......”Kataku.
“Betul. Pikirkan matang-matang. Inilah masa depanmu.”Kata Sari sambil menepuk-nepuk pundak Dewi.
Dewi mengangguk sambil tersenyum

Seminggu sudah berlalu. Dewi belum juga memberi jawaban atas pinanganku saat itu. Kulihat hpnya off terus. Aku benar-enar putus komunikasi dengan Dewi. Justru Ajeng yang sering WA, sekedar menanyakan kabar, bahkan pernah mengajakku jalan. Tapi aku menolak secara halus. Aku tak mau bermain api. Bagaimanapun juga aku harus menjaga image didepan anak buahku. Jangan sampai mereka mengecapku sebagai bos play boy......?Play boy kelas teri. Lagipula kalau aku melayani Ajeng, dan Dewi tahu, berabe....bisa-bisa Dewi menolakku. Aku tak akan mengorbankan ‘mas berlian’ demi sebuah ‘perunggu’. Bagaimana caranya agar aku dapat komunikasi dengan Dewi? Aku harus lebih giat mengadakan pendekatan dengannya. Tapi bagaimana caranya? Oh, ya.....besok hari besar nasional. Garmenku juga sekolah kedua anakku libur. Kesempatan bagiku untuk rekreasi. Dan.....kesempatan untuk mengajak Dewi dan kedua putrinya. Betul betul betul. Aku berunding dengan Radit dan Tio. Mereka setuju dan sangat antusias.

Pagi hari aku dan kedua putraku sudah sampai di rumah Dewi.
Setelah memberikan salam, kami dipersilahkan masuk oleh Dewi. Dewi sangat kaget dengan ajakan kami yang begitu mendadak, tanpa  pemberitahuan  terlebih dahulu. Untung saja walaupun libur mereka sudah terbiasa mandi pagi. Jadi kami tidak terlalu lama menunggu.

Kami menuju ke kebun binatang. Aku sama sekali tidak membahas pinanganku terhadap Dewi. Biarlah dia merasa nyaman denganku dulu. Kalau aku terlalu mendesak dikhawatirkan Dewi malah menghindar. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya, mengalir bagai air dipegunungan. Seperti terencana saja. Dewi lebih sering denganku sedangkan kedua putrinya lebih sering dengan kedua putraku. Mereka cepat akrab. Seperti sudah lama saling kenal. Namun ada yang menganjal di hatiku. Kenapa Radit sangat akrab dengan Intan? Jangan jangan ada rasa ketertarikan diantara mereka. Gawat. Aku sedang mati matian memperjuangkan cintaku pada Dewi, putraku dan putrinya Dewi saling tertarik? Gawat! Gawat sekali. Aku harus bicara dengan Radit.
“Sebentar ya, Dew....aku mau bicara dengan Radit.” Kataku.
“Its oke......silahkan.” Jawab Dewi.
Aku menghampiri Radit yang sedang ngorol dengan Intan.
“Radit.....Ayah mau bicara sebentar......Sebentar ya Intan.....”Kataku sambil mengandeng Radit agar menjauh dengan Intan.
“Ada apa sih, Yah......kok kelihatannya serius amat?” Radit terlihat agak bingung.
“Ayah ingin kamu jujur.....”Kataku setengah berbisik.
“Oke....aku mau jujur. Tapi tentang apa?”
“Ayah lihat, kamu dengan Intan sangat akrab....apa kamu suka sama dia....?” Ada sedikit kekhawatiran di hatiku saat menanyakan hal itu.
“What?! Suka.....? Memangnya kalau aku suka sama Intan, Ayah mau mendukungku? Biar Ayah bisa besanan dengan tante Dewi.....Bagaimana?” Jawab Radit.
“Apa?! Jadi kamu benar-benar suka sama dia?” Aku benar-benar kaget. Tidak menyangka sama sekali. Kenapa Radit tidak peka dengan perasaanku?
“Iya Ayah....coba Ayah perhatikan. Intan cantik dan manis.....imut-imut. Hati siapa yang nggak klebek-klebek dibuatnya?Ayah setuju, kan.....?” Radit mengenggam tanganku.
Aku hanya diam seribu basa. Hilang sudah harapanku untuk mengapai hati Dewi. Dan batu sandungannya putraku sendiri. Seketika aku pusing. Kepala terasa berputar. Aku hanya mampu duduk bersandar pada pepohonan.
“Serius amat? Bicara apa, sih....?” Tiba-tiba Dewi dan Intan sudah berdiri disebelahku.
“Tahu ini Ayah.....”Kata Radit sambil angkat bahu.
“Ada apa kang Heru? Kamu sakit?” Tanya Dewi terlihat khawatir.
“Iya Tante.....serangan jantung.” Jawab Radit terlihat serius.
“Serangan jantung? Sejak kapan aku punya penyakit jantung?” Jawabku sambil menatap Radit tajam.
“Lha, terus? Kok tiba-tiba Ayah lemas begitu...kenapa?” Tanya Radit.
“Ada apa sih, kang? Kok lemes begini....kamu sakit?” Tanya Dewi sambil menyentuh keningku. Nyess....hati ini terasa sejuk.
“Begini tante....tadi Ayah tanya padaku, katanya apa aku suka sama Intan...?Aku jawab iya. Intan kan cantik juga imut.....”
Belum selesai Radit bicara, Intan tertawa geli.
“Jadi kalian saling suka!?” Dewi terlihat kaget.
Aku dan Dewi saling pandang. Tio dan Desi ikut bergabung dengan kami.
“Tante mendukung, kan?” Tanya Radit.
Dewi tidak menjawab. Dia hanya menatapku lekat-lekat.
“Mama.......Intan nggak mungkin suka sama Radit....”Kata Intan sambil memeluk Dewi.
“Iya, Tante......kami kan tahu, kalau Ayah sedang pendekatan sama tante....masa kami main serobot. Iya, kan Intan....?”Tanya Radit sambil mengedipkan mata.
“Betul sekali.....”Jawab Intan sambil mengacungkan jempol.
Kulihat Dewi tertawa geli sambil menutupi bibirnya. Aku juga ikut tertawa. Hatiku benar-benar lega. Tio dan Desi juga tertawa.Ternyata anak anak kami peka dan penuh pengertian. Sempat jengkel juga aku sama Radit dan Intan. Mereka mengerjain aku. Tapi tak apa. Yang penting mereka setuju.
“Jadi kalian setuju...kalau Ayah mau menikah dengan tante Dewi?”
“Sangat setuju.....”Jawab Radit sambil mengacungkan jempol.
“Aku juga setuju.....”Jawab Intan.
“Kalian setuju, nggak.....?”Tanya Radit pada Tio dan Desi.
“Setuju juga....”Jawab Desi dan Tio kompak.
“Jadi kalian semua setuju, ya....?”Aku sangat bahagia.
“Tentu.....”Jawab mereka kompak.
“Bagaimana, Dew....?Ini semua terserah kamu.”Aku harap-harap cemas.
Dewi diam mematung beberapa saat. Intan dan Desi memegang kedua lengan Dewi.
“Dew......kok diam...?” Tanyaku lagi.
Dewi memandang kedua putrinya. Mereka mengangguk sambil tersenyum.
“Baik......aku mau....”Jawab Dewi sambil tersenyum manis sekali.
“Nah...begitu dong......”Aku sangat lega.
Anak-anak tertawa senang. Ah, ternyata rekreasi ini membuat perubahan besar dalam hidupku. Perubahan yang sangat membuatku bahagia. Dewi menerima pinanganku.

 Menjelang senja kami pulang. Mampir dulu ke rumah Dewi. Cukup lama aku di rumah Dewi. Karena aku membicarakan segala sesuatu mengenai pernik pernik pernikahanku dengan Dewi. Kedua orang tua Dewi sangat setuju. Dari rundingan itu, ditentukan kalau hari pernikahanku bulan depan. Rasa-rasanya hati ini sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba. Semua anak-anak kami sangat antusias, mereka juga terlihat tidak sabar menunggu hari H.

Akhirnya hari H tiba juga. Pernikahan kami berlangsung sederhana di kediaman Dewi. Semua teman SMA dari group WA “SEKELAS” aku undang. Sari juga yang lain terlihat sangat gembbira. Kecuali Ajeng. Kulihat Ajeng menangis tertahan. Entah apa yang ditangisi. Dewi juga menanyakan padaku, apa kira-kira penyebab Ajeng menangis. Apa karena Ajeng betul-betul mencintaiku? Aku cuma angkat bahu. Bagiku sangat aneh. Kalau Ajeng yang berstatus istri orang lain, mencintaiku mati-matian. Terasa sangat aneh. Berarti Ajeng bukan tipe istri setia. Tapi sudahlah. Biarkan saja. Yang penting aku sudah bisa memiliki Dewi. Wanita yang sangat kucintai. Yang  penting saat ini aku sedang sangat bahagia. Dan kebahagianku tak mau terganggu oleh apapun.

Setelah menikah, Dewi dan kedua putrinya boyongan ke rumahku. Ahai...sekarang aku punya empat anak. Dua lelaki tampan dan dua perempuan cantik. Untuk sementara Radit dan Tio sekamar, Intan dan Desi sekamar. Dan aku tentunya sekamar dengan Dewi. Istriku tercinta. Rencana jangka pendek aku  mau membuat dua kamar lagi. Agar keempat anak-anakku bisa mempunyai kamar sendiri. Biarlah kamarnya dihias sesuai keinginan mereka. Iya.....sekarang anakku ada empat. Tentunya tanggung jawabku juga lebih besar. Tapi tak apa. Itulah konsekuensi pernikahanku dengan Dewi. Aku ikhlas dan tulus akan merawat dan mendidik mereka.

Dewi mendapat WA dari Ajeng. WA yang mengatakan kalau Ajeng baru saja cerai. Dan Ajeng ingin curhat. Dewi mempersilahkan agar Ajeng datang ke  rumah. Dewi menyarankan agar aku menyingkir. Biarkan dia bicara empat mata dengan Ajeng. Aku setuju. Maka saat Ajeng bertamu aku menyingkir ke garmen. Setelah mereka bicara cukup lama, aku dipanggil agar bergabung.
Setelah aku datang, Dewi minta ijin pada Ajeng untuk bicara empat mata denganku.
“Kamu ini gimana? Aku dipanggil, tapi malah diajak menyingkir dari Ajeng.” Tanyaku bingung.
“Begini kang Heru.....itu Ajeng kan baru cerai, bagaimana kalau kamu menikahinya?” Tanya Dewi.
“Apa?! Kamu gila?!” Tanyaku kaget.
“Nggak.....mas....aku waras. Kalau aku gila, tentunya saat ini aku berada di rumah sakit jiwa. Bukan ngobrol denganmu.......”Kata Dewi sambil tersenyum.
Aku Cuma geleng-geleng kepala sambil berjalan keluar menemui Ajeng yang sedang menunggu.
“Bagaimana mas? Kata-kataku sama persis dengan kata-katamu saat itu, kan?” tanya Dewi sambil tertawa geli.
“Apa?! Pantas saja aku merasa pernah mendengar kata-kata itu.....” Aku jadi ikut tertawa.
Aku menemani Ajeng. Mempersilahkan agar minum dan makan cemilannya.
Dewi bergabung. Kami langsung bicara dengan akrabnya. Dalam hati aku mulai khawatir kalau kalau Dewi membahas ide gila tadi di depan Ajeng. Tapi ternyata kekhawatiranku tidak terbukti.

Malam hari saat kami mulai berbaring, Dewi membahas ide gila tadi.
“Bagaimana mas? Kamu setuju ideku tadi, nggak?” Tanya Dewi.
“Tidak. Aku sangat tidak setuju.” Jawabku tegas.
“Kenapa?” Tanya Dewi.
“Ide konyol. Aku sama sekali tidak mencintai Ajeng.”
“Kalau kasihan? Ada nggak, sedikit rasa kasihan....?” Kata Dewi lagi.
“Kasihan? Memangnya dia pengemis? Kamu ini aneh.”
“Mas Heru....biasanya seorang suami kalau mau nikah lagi, dan diijinkan istri akan sangat gembira. Lha kamu disuruh nikah lagi, kok malah nggak seneng...?” Tanya Dewi.
“Mungkin kalau aku menikah dengan perempuan yang kucintai, aku akan sangat bahagia. Lha ini? Kamu menyuruhku menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak kucintai.....bagaimana akan bahagia?”
Dewi hanya tersenyum simpul lalu berbaaring dan memejamkan mata.
Ini orang malah senyum senyum sendiri. Aneh.....ada apa dibalik permintaannya?

Tadinya kupikir permintaan Dewi agar aku menikahi Ajeng hanya gurauan. Tapi ternyata serius. Bahkan sangat serius. Di setiap ada kesempatan, selalu membicarakan hal itu. Tak terkecuali juga hari ini. Saat pembeli langgananku baru pulang, dan aku berniat kembali ke garmen, Dewi menghentikan langkahku.
“Mas Heru......bagaimana?” Tanya Dewi.
“Bagaimana, apanya?”Tanyaku tak mengerti.
“Itu, lho.......Masalah Ajeng.....”
“Ada apa dengan Ajeng.....?”
“Alah.....pura-pura nggak tahu......Aku serius lho....” Dewi menarik tanganku, “Duduk dulu....”
Akhirnya aku duduk kembali.
“Apa......ada apa dengan Ajeng....?”
“Mas mau kan, menikahi Ajeng......”Tanya Dewi serius.
“Terus terang aku tak mau. Aku hanya mau punya satu istri.....tidak mau dua.” Jawabku.
“Dua nggak apa-apa. Asal satunya Ajeng.....”
“Sebenarnya kamu cinta padaku apa, tidak?” Aku menatap Dewi tajam.
“Tentu saja cinta....”Jawab Dewi sambil tersenyum.
“Kalau cinta, kenapa menyuruhku menikah lagi....?”
“Kan menikahnya dengan Ajeng. Sahabatku. Bukan dengan yang lain.”Jawab Dewi santai.
“Aneh.....sunggu aneh. Kalau kamu mencintaiku setulus hati, nggak mungkin kamu akan membagi dengan perempuan lain. Siapapun dia.....tak perduli dia sahabatmu, maupun saudaramu.” Kataku tegas.
“Tapi yang ini lain mas.....Ajeng sahabatku, tapi sudah kuanggap seperti belahan jiwaku. Saat dia sedih, aku ikut merasakan sedih....”Kata Dewi.
“Saat kamu punya suami, Ajeng juga biar ikut merasakan suamimu? Begitu?” Aku mulai agak jengkel. Dewi hanya diam.
“Aku mau ke garmen dulu......dan stop. Jangan bicarakan masalah itu lagi. Aku benar-benar tidak suka.” Kataku tegas.
Aku melangkah ke garmen meninggalkan Dewi yang masih tertegun.

Aku benar-benar kecewa. Kenapa Dewi menganjurkanku menikahi Ajeng? Apa sebenarnya Dewi tidak mencintaiku? Kalau memang dia tidak mencintaiku, kenapa dia mau aku nikahi? Aneh.......Seandainya Dewi mencintaiku setulus hati, tentunya dia tak kan rela membagi cintaku dengan perempuan lain. Siapapun perempuan itu. Tak perduli dia sahabatnya atau saudaranya. Aku jadi ragu ketulusan cinta Dewi.
  
Masih pagi. Keempat anakku baru saja berangkat sekolah. Ajeng datang sambil membawa tas besar.
“Lho, Ajeng? Kamu kok disini?”Aku kaget.
“Iya kang Heru. Maaf aku mau merepotkan. Itu kalau kang Heru mengijinkan.”Jawab Ajeng sambil tertunduk dalam-dalam.
“Bunda........ini ada Ajeng....!” Aku teriak memanggil Dewi.
“Ada Ajeng.....”Dewi datang tergopoh gopoh.
“Maaf, Dew.....pagi-pagi aku sudah menganggu.....”Kata Ajeng pelan.
“Masuk yok.....”Dewi mengandeng Ajeng masuk rumah.
Aku hanya memperhatikan Dewi yang mengandeng Ajeng masuk rumah, dan menyuruhnya duduk di ruang tamu.
“Kenapa? Kok sepertinya kamu sedang ada masalah?” Tanya Dewi penuh perhatian.
Heran. Kenapa Dewi sangat perhatian pada Ajeng. Seperti sama anak sendiri saja. Sambil menangis tersedu-sedu Ajeng cerita kalau tadi malam ada duda tua melamar dirinya. Ajeng menolak tapi ayahnya marah besar. Malah ayahnya mengancam kalau Ajeng menolak lamaran lelaki itu, maka Ajeng bukan anaknya lagi. Dewi menyimak semua cerita Ajeng sambil sekali-kali menatapku lekat-lekat.

Sejak itu Ajeng menginap di rumahku. Ruang depan yang lumayan luas disekat dengan papan. Dijadikan kamar untuk Ajeng. Lebih kecil dibanding kamar yang lain. Tapi tak apa-apa. Sebenarnya aku sangat tidak setuju kalau Ajeng menginap di rumahku apalagi batas
waktu yang tidak jelas. Keempat anakku juga kurang setuju. Tapi bagaimana lagi? Dewi yang ngotot mempertahankan Ajeng.

Selama di rumahku Ajeng sangat rajin. Dia bangun pagi-pagi dan membuatkan sarapan untuk kami semua. Bahkan dia mencuci pakaian juga piring. Yang jelas semua pekerjaan rumah dia yang pegang. Kalau dipikir-pikir Ajeng kok seperti pembantu? Kasihan juga. Tapi salah dia sendiri, siapa yang suruh? Mungkin itu untuk membayar  makan tidur secara gratis di rumahku. Atau untuk mengambil hatiku juga hatinya Dewi? Entahlah......

Malam hari menjelang tidur, di pembaringan, seperti biasa Dewi membuka pembicaraan dengan topik ‘menikahi Ajeng’. Topik yang menurutku sangat tidak menarik.
“Gimana, mas Heru....”
“Apa? Menikahi Ajeng......sangat tidak setuju. Dan keputusanku tidak bisa diganggu gugat!” Kataku tegas.
“Jee...tiidak bisa diganggu gugat niye.....lalu tidakah kamu pikirkan, apa omongan tetangga, mengenai Ajeng yang menginap disini?”
“Kan kamu yang mempersilahkan dia menginap disini. Bukan aku.....malah dari semula aku tidak setuju.”
“Mas...kasihan Ajeng lho.....dia dipaksa ayahnya menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya.”
“Kasihan? Sama dong, denganku. Dipaksa menikahi orang yang tidak dicintainya....”Kataku.
Dewi tertawa geli, “Situasinya beda, mas.......”
“Sama.....beda apanya?”
“Mas, kamu mencintaiku apa nggak, sih?”
“Ya, cinta. Kalau tak cinta, ngapain juga aku menikahimu?Pertanyaanmu aneh.”
“Memang aneh sih.....Kalau memang kamu cinta padaku, tunjukan belas kasihanmu pada sahabatku. Nikahi dia....daripada dia dipaksa menikah dengan lelaki yang tidak dicintai. Kamu lihat. Bahkan Ajeng sampai pergi dari rumahnya, meninggalkan putrinya.” Kata Dewi
“Itu urusan dia.....”Jawabku santai.
“Kejam sekali kamu mas....nggak punya perasaan sama sekali.”
“Kok kejam......?”Aku heran.
“Iya...kamu sama sekali nggak memikirkan keadaan Ajeng. Coba kalau kamu menikahi Ajeng, tentunya ayahnya nggak akan memaksa menikah dengan lelaki itu.....”
“Kenapa harus aku? Kenapa bukan lelaki lain?”
“Karena yang dicintai Ajeng cuma kamu. Bahkan saat Ajeng berposisi sebagai istri orang, cintanya padamu tak pernah pudar....kamu berpikir sampai ke arah itu, nggak?”
“Ya biarin saja. Kan tidak selamanya cinta harus memiliki. Apalagi kalau cintanya bertepuk sebelah tangan.”Jawabku santai.
“Benar-benar tak berperasaan kamu, mas.....”Dewi tampak kecewa.
“Apa maksud kamu, Dew....?” Aku kaget.
“Nikahi Ajeng....kasihan dia. Biar hidupnya tenang....bukan ketakutan seperti sekarang....Dia sangat mencintamu. Dan dia bersedia menjadi istri kedua, walau hanya dinikah siri. Kamu tahu kenapa dia begitu? Itu karena dia sangat sangat sangat mencintaimu...”
“Oh....begitu? Dia sangat mencintaiku, tidak seperti kamu? Tentunya kamu tidak mencintaku....?”
“Cinta....aku juga sangat mencintaimu.....kamu yang nggak mencintaiku, mungkin....buktinya. Kamu nggak mau memenuhi permintaanku. Padahal permintaanku sangat sederhana. Menikahi Ajeng.Titik....”
“Oke...oke...kalau kamu mendesaku terus. Aku akan menikahi Ajeng. Tapi dengan satu syarat. Ajeng memang benar-benar mencintaiku.”
“Oke....besok aku mau tanya Ajeng. Dan kalau Ajeng menjawab masih mencintamu, maka kamu harus menikahinya. Demikian juga sebaliknya.”
“Ok.....aku setuju.”
“Nah...gitu, dong....”Dewi tersenyum manis dan mencium kedua pipiku.

Setelah anak-anak ekolah. Dewi mengajakku dan  untuk bicara serius di gruang tamu.
“Begini Ajeng.....bagaimana perasaanmu saat ini terhadap mas Heru?” tanya Dewi pelan.
“Apa maksud kamu, Dew...? Kok menanyakan hal itu?” Ajeng tampak bingung. Dia menatapku dan Dewi bergantian.
“Tolong jawab dengan jujur. Seandainya mas Heru mau menikahimu, apakah kamu beredia?” tanya Dewi setengah berbisik.
“What?! Kamu gila, Dew....” Ajeng sangat kaget.
Terus terang aku juga sangat kaget. Kok Dewi bisa senekat itu. Kupikir ini hanya wacana. Tapi kok benar-benar dipraktekkan. Ditanyakan langsung ke Ajeng. Gila.........
“Ajeng.......apa jawabnya?” tanya Dewi mendesak.
“Dew....sangat tidak penting perasaanku terhadap Heru. Yang jelas aku tidak akan pernah merusak rumah tangga kalian. Camkan itu!” Kata Ajeng terlihat sedikit emosi.
“Bukan...bukan itu maksudku..”Kata Dewi.
“Oke.....kalau dengan aku tinggal di rumahmu, membuatmu salah duga. Lebih baik aku pergi.”Kata Ajeng sambil berdiri.
“Tunggu....tunggu dulu. Aku bermaksud meminta mas Heru untuk menikahimu. Tapi ini tergantung perasaanmu terhadap mas Heru.....”Kata Dewi lagi.
Ajeng menghentikan langkahnya. Menatap aku dan Dewi bergantian.
“Tolong jawab dengan jujur....Apakah kamu masih mencintai mas Heru?” Tanya Dewi.
Aku hanya diam menunggu. Menunggu jawaban Ajeng. Semalam sudah dibuat kesepakatan. Kalau Ajeng masih mencintaiku, maka aku harus menikahinya. Tapi kalau ternyata Ajeng tidak mencintaiku maka aku tidak usah menikahinya. Semoga saja jawaban Ajeng, yang kedua. Aku sama sekali tidak ingin menikahinya.
“Sampai detik ini aku memang masih mencintai Heru. Tapi bukan berarti harus memiliki. Dew.....camkan, ya. Aku tidak akan pernah merebut Heru dari tanganmu. Tenang.....”Kata Ajeng.
“Kamu  tidak merebut mas Heru dariku....” Kata Dewi.
“Kalau Heru menikahiku, itu sama artinya aku merebut darimu, Dew.....”Kata Ajeng.
“Tidak juga.....mas Heru menikahimu tanpa menceraikanku. Jadi nantinya mas Heru punya dua istri. Aku dan kamu.....bagaimana?”Tanya Dewi.
“Apa?! Ide gila. Ide kamu benar-benar gila.”Ajeng sangat kaget.
“Memang....memang ide Dewi sangat gila......”Akhirnya aku bersuara juga.
“Mas...kita tetap pada kesepakatan semalam, kan?” Kata Dewi.
“Kesepakatan, apa?” Tanya Ajeng bingung.
“Semalam kami sudah sepakat. Kalau kamu masih mencintai mas Heru dan bersedia menjadi istri keduanya, maka mas Heru akan menikahimu.”Kata Dewi.
“Memang ide gila kok.......aku menikahimu, tergantung perasaanmu terhadapku.”Kataku.
Aku sangat berharap Ajeng menjawab kalau dia sudah tidak mencintaiku sama sekali.
“Iya....aku masih sangat mencintai Heru. Dan aku bersedia menikah dengannya, sebagai istri kedua.”Jawab Ajeng pelan sambil menunduk.
Dewi tersenyum sambil memandangiku. Aku garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

Akhirnya aku, Dewi dan keempat anakku melamar Ajeng ke rumah orang tuanya. Dan kedua orang tuanya sangat setuju. Tadinya aku berniat menikah siri tapi Dewi tidak setuju Dewi menginginkan kami menikah resmi secara hukum. Toh, aku bukan PNS jadi bisa mempunyai dua istri secara resmi. Heran. Terbuat dari apa hatinya Dewi? Kok bisa-bisanya menyuruh aku untuk menikahi Ajeng?

Setelah kami menikah, untuk sementara Ajeng dan anak tunggalnya masih tinggal di rumahnya sendiri. Hanya sekali-kali aku berkunjung ke rumahnya. Dan Ajeng menerima keputusan itu dengan senang hati. Namun lama-lama aku kasihan juga dengan Ajeng. Kok tidak tinggal bareng denganku sebagai suami. Akhirnya paviliun rumahku dibongkar dibuat dua kamar untuk Ajeng dan anak tunggalnya.

Sekarang hari Minggu. Kami berencana untuk rekreasi dengan membawa bekal sendiri. Kulihat Dewi dan Ajeng sedang sibuk memasak di dapur. Mereka terlihat rukun-rukun saja. Aku memperhatikan mereka sambil bersandar di pintu dapur.
“Wouw.....ternyata dari tadi kita diperhatikan suami tercinta....”Kata Dewi sambil tertawa.
Ajeng ikut-ikutan tertawa. Aku bergabung dengan mereka.
“Kalian baik-baik saja?” Tanyaku heran.
“Tentu saja.....”Jawab Ajeng sambil tersenyum.
“Tadi kami masak sambil diskusi. Bagaimana mengatur jadwal kita bertiga...”Kata Dewi.
“Jadwal apa?” Aku tak mengerti.
Mereka berdua senyum-senyum sambil saling mengerling.
“Jadwal apa? Kok kalian malah senyum-senyum....”Tanyaku makin penasaran.
Mereka berdua bergelanyut dipundakku. Dewi dipundak kanan, Ajeng dipundak kiri.
“Tiap tanggal ganjil...mas Heru tidur denganku.....”Kata Dewi.
“Betul. Dan tiap tanggal genap tidur denganku....”Kata Ajeng.
“What?!” Aku sangat kaget.
Bisa-bisanya mereka punya ide segila itu.
“Ya...karena aku istri ke satu. Satu berarti ganjil....”Jawab Dewi.
“Dan aku istri kedua, yang berarti genap...”Jawab Ajeng.
“lalu bagaimana kalau akhir bulannya tanggal ganjil? Berarti aku dua hari berturut-turut tidur denganmu, Dew....”Tanyaku.
“Nggak apa-apa. Aku terima dengan ikhlas kok....”Kata Ajeng.
Dewi mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aku hanya mampu geleng-geleng kepala sambil tertawa.
Tak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiranku untuk mempunyai dua istri. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Sekarang yang penting aku terima keadaan ini dengan lapang dada dan mensyukuri atas segala karuniaNya. Aamiin......

Belum ada Komentar untuk "PERSAHABATAN KEDUA ISTRIKU (Novelet) By Ami Daria"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel